KARAWANG, Idisionline.com – Pemerintah Desa Kedawung bersama unsur TNI Pembina Desa (Babinsa) akhirnya angkat bicara terkait video viral yang menuding adanya penyelundupan beras bantuan sosial (bansos) di Kampung Lampean, Desa Kedawung, Karawang.
Pihak pemdes menegaskan bahwa kejadian tersebut murni merupakan salah paham di lapangan.
Januari Kepala Desa Kedawung saat dihubungi menyatakan bahwa narasi “penyelundupan” yang beredar di media sosial sengaja digulirkan oleh oknum warga yang merasa tidak mendapatkan bantuan.
Menurutnya, ini bukan pertama kalinya oknum warga tersebut membuat kegaduhan serupa.
“Waalaikumsalam. Itu salah paham. Biasa, yang memviralkan itu warga yang tidak dapat bantuan. Ini sudah kedua kalinya dia (membuat narasi seperti itu). Dulu masalah bantuan PKH, sekarang beras. Sekarang dia salah artikan, disangka diselundupkan,” ujar Kades Kedawung, Januari.
Kades menjelaskan, tumpukan beras tersebut terpaksa dititipkan sementara di lokasi yang aman karena situasi di lapangan yang sudah larut malam dan kendala teknis pada tempat penyaluran.
“Awalnya mau dikirim ke rumah Kepala Dusun (Kadus) masing-masing. Berhubung Kadusnya sedang keluar dan sudah malam, akhirnya disimpan di tempat yang aman karena ditakutkan hilang atau berkurang,” lanjutnya.
Senada dengan Kepala Desa, Babinsa Kedawung, Serka Ahmad Waris, membeberkan kronologi lengkap demi meluruskan asumsi liar yang berkembang di masyarakat.
Menurut Serka Ahmad Waris, peristiwa tersebut bermula pada Rabu malam. Saat itu, petugas Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) setempat yang diidentifikasi bernama Heri dan Jenny, hendak mengirimkan beras bansos menuju kediaman Wakil Adin (Kepala Dusun) di RT setempat.
Namun, karena yang bersangkutan tidak ada di tempat, petugas berinisiatif menitipkan beras-beras tersebut di pabrik penggilingan padi terdekat demi faktor keamanan.
“Karena yang bersangkutan tidak ada di tempat, maka beras-beras itu dititipkanlah di penggilingan padi (pabrik). Dengan adanya PSM membawa beras tersebut ke pabrik, ada oknum warga yang memvideokan dan memotretnya, sehingga masyarakat berasumsi beras itu dibawa untuk dijual,” jelas Serka Ahmad Waris.
Mengantisipasi kegaduhan yang lebih luas di masyarakat akibat asumsi sepihak tersebut, pihak Babinsa langsung mengambil langkah cepat berkoordinasi dengan pihak terkait.
“Langkah saya, berkoordinasi dengan BSM, BPD, Kepala Desa, serta Bhabinkamtibmas bahwa kita mengambil langkah penarikan beras tersebut ke Balai Desa Kedawung,” tegas Babinsa.
Pihak berwenang memastikan bahwa seluruh beras bansos tersebut saat ini sudah diamankan di Balai Desa dalam kondisi utuh dan tidak ada yang berkurang.
Proses pembagian dan keputusan penyaluran selanjutnya akan dilakukan oleh perangkat desa secara transparan agar tepat sasaran dan tidak memicu konflik horizontal.
Warganet dan masyarakat pun diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh potongan video di media sosial sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya.







