Oleh: Rulli Imanudin, S.Pd.I, Mahasiswa S2 PAI Universitas Islam 45 Bekasi
Bencana kembali menorehkan luka mendalam di Bumi Andalas. Longsor dan banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh beberapa waktu lalu bukan sekadar deretan angka statistik korban dan kerusakan infrastruktur. Lebih dari itu, ia adalah lonceng peringatan keras, sebuah teguran kosmik yang menguji kedewasaan kita sebagai bangsa dan keimanan kita sebagai hamba.
Tragedi di Tengah Keindahan
Sumatera, dengan punggung Bukit Barisannya yang gagah dan hutannya yang lebat, telah dikenal sebagai kawasan yang kaya akan keindahan ekologis. Namun, topografi yang berbukit dan curah hujan tinggi menjadikannya juga sebagai wilayah rawan bencana, khususnya longsor.
Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa tragedi ini telah menelan korban jiwa hingga lebih dari 1.000 orang per Tanggal 14/12/2025, ribuan lainnya luka-luka, dan ratusan ribu warga harus mengungsi. Kerusakan infrastruktur, mulai dari jembatan, fasilitas pendidikan, hingga rumah ibadah, mencapai skala yang masif, melumpuhkan sendi-sendi kehidupan.
Korban-korban yang terdampak, seperti yang dikisahkan seorang ibu dari Palembang, Sumatera Barat, yang berjuang memeluk anaknya dalam lumpur, atau seorang bapak yang kehilangan harta bendanya, menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan alam yang tak terbendung. Kisah-kisah ini adalah cermin betapa rapuhnya kehidupan manusia di hadapan kekuasaan-Nya.
Refleksi Ekologis dan Spiritual
Sebagai mahasiswa S2 Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam 45 Bekasi, kita dituntut untuk membaca fenomena ini dari dua sudut pandang yang saling melengkapi: ekologis dan spiritual.
1. Krisis Ekologis: Sebuah Peringatan dari Khilafah yang Terlupakan
Para ahli lingkungan sering menunjuk pada faktor degradasi lingkungan sebagai penyebab utama. Alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai, deforestasi besar-besaran, hingga pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam (Daya Redam Ekologis), telah menghilangkan fungsi hutan sebagai “spons alami”.
Ketika daya redam ini hilang, hujan ekstrem seketika berubah menjadi bencana banjir bandang dan longsor yang mematikan.
Dalam Islam, manusia diamanahi sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi). Tugas ini sejatinya adalah menjaga dan memakmurkan, bukan merusak. Allah SWT berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa bencana alam adalah konsekuensi logis dari tangan-tangan serakah yang mengorbankan kelestarian demi kepentingan komersial jangka pendek. Longsor ini adalah suara alam yang berseru: Stop perusakan!
2. Ujian Kemanusiaan: Implementasi Ukhuwah Islamiyah
Musibah adalah momen krusial untuk menguji keimanan dan solidaritas kita. Di tengah duka, muncul hikmah berupa gelombang ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa). Bantuan dari berbagai daerah, penyediaan logistik, hingga pengiriman relawan dan bantuan dana, adalah manifestasi nyata dari ajaran agama tentang tolong-menolong (ta’āwun) dan empati.
Kejadian ini mengajarkan bahwa harta benda hanyalah titipan yang dapat lenyap dalam sekejap. Yang abadi adalah amal kebaikan dan kepedulian. Para korban di pengungsian membutuhkan uluran tangan kita, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dukungan moral dan psikososial untuk bangkit dari trauma.
Langkah Ke Depan: Mitigasi dan Taubat Ekologis
Untuk mengakhiri siklus bencana yang terus berulang, kita perlu mengambil langkah serius:
1.Restorasi Ekologis: Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus bersinergi melakukan reboisasi di kawasan hulu, menghentikan illegal logging, dan meninjau ulang izin-izin pembangunan yang berpotensi merusak lingkungan.
2.Edukasi Mitigasi: PAI tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga fiqh al-bi’ah (fikih lingkungan). Kurikulum pendidikan harus memasukkan pemahaman tentang kebencanaan dan cara mitigasinya.
3.Penguatan Crisis Mindset: Masyarakat di daerah rawan harus memiliki kesadaran dan kesiapsiagaan yang tinggi.
Musibah longsor di Sumatera adalah momen refleksi kolektif. Ia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita semua. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai momentum Taubat Ekologis dan mengembalikan fungsi kita sebagai khalifah yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dengan demikian, duka ini akan berubah menjadi kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih peduli dan lestari.






