Artikel

Menggugat Hari Jadi Garut Melalui Jejak Sejarah

×

Menggugat Hari Jadi Garut Melalui Jejak Sejarah

Sebarkan artikel ini

MENGGUGAT HARI JADI GARUT MELALUI JEJAK SEJARAH
oleh: Kang Oos Supyadin, Garsel

Pendahuluan

Berdasarkan sejarah Limbangan Garut, bahwa Keberadaan berdirinya Kerajaan Limbangan ( Garut ) dimulai sejak keberadaan Kerajaan Rumenggong atau Keprabuan Kerta Rahayu alias Keprabuan Galeuh Pakuan, yang rajanya bernama Prabu Rakean Layaran Wangi atau Prabu Jayakusumah I.

Namun sejak Keprabuan Galeuh Pakuan pecahan dari Kerajaan/ Keprabuan Rumenggong maka dirubah namanya menjadi Kabupaten Limbangan oleh Adipati Limansenjaya atau Prabu Wjayakusumah II yang tiada lain beliau masih cucunya Sunan Rumenggong atas perintah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon pada tahun 1525 M.

Sunan Rumenggong adalah masih keturunan Prabu Jaya Dewata ( Prabumulih Siliwangi ) dari Nyi Putri Inten Dewata ( putra Dalem Pasehan Timbanganten ) dan masih saudara dari Sunan Ranggalawe ( Ratu Timbanganten ).

Sunan Rumenggong mempunyai 3 putra, yaitu : Prabu Mundingwangi atau Sunan Cisorok, Nyi Putri Buniwangi/ Nyi Rambut Kasih Lh. + 1470, dan Dalem emas ( dari isteri keduanya ).

Nyi Putri Buniwangi atau Nyi Putri Rambut Kasih menikah dengan Prabu Layakusumah putra Sri Baduga Maharaja dari Ratu Anten. Prabu Layakusumah adalah raja di Keprabuan Pakuan Raharja ( Cicurug Sukabumi ) sebagai vazal Kerajaan Pakuan Pajajaran ( Bogor ). Dari pernikahannya dikaruniai putra kembar yakni : Prabu Wastu Dewa dan Prabu Hande Liman Sanjaya.

Menurut riwayat lain, disebutkan bahwa bahwa Sunan Rumenggong dari isteri pertama tidak mempunyai putra, tetapi memelihara Putri Ambetkasih/Nyi Putri Buniwangi putra Sunan Patinggi Buniwangi.

Dari isteri keduanya Sunan Rumenggong dikaruniai 7 orang putra, yaitu:
1. Dalem Mangunharja ( Sunan Galunggung )
2. Dalem Singaharja
Nagaparana
3. Dalem Manggunrembung/Prabu Mundingwangi ( Sunan Cisorok )
4. Dalem Mangunreksa ( Sunan Manglayang Bandung)
5. Dalem Manguntaruna (Purbalingga Jawa Tengah atau dikenal dengan Prabu Lingga Jambu Karang yang merupakan buyutnya Dipati Ukur)
6. Dalem Emas ( Sunan Bunikasih )
7. Dalem Mangunkusumah ( Lemah putih Depok )

Menurut riwayat, bahwa pada + tahun 1600 M Nagaparana pernah mengadakan pemberontakan, yang menyebabkan tewasnya Tumenggung Wangsanagara (Sunan Kareseda ) putra Prabu Wijayakusumah II ( Sunan Cipancar ) di suatu tempat yang sekarang disebut Ragahiyang di Gunung Sadakeling. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Dalem Santowaan cucu Prabu Mundingwangi ( Dalem Cibolerang Wanaraja ).

Setelah wafat Sunan Rumenggong dimakamkan di Kampung Poronggol ( sekarang termasuk Desa Ciwangi Kecamatan Limbangan ). Sedangkan saudaranya, Sunan Patinggi makamnya ada di Kampung Nangkujajar Limbangan.

Sepeninggalnya Sunan Rumenggong maka Prabu Mundingwangi putra Sunan Rumenggong menggantikan ayahnya menjadi Prabu di Keprabuan Rumenggong atau Kerta Rahayu. Menurut Rd. Soemarna, ada kemungkinan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Kertarahayu ke Dayeuhmanggung dan menikahi putri Sunan Dayeuhmanggung saudaranya Sunan Gordah dan mempunyai putra bernama Prabu Salalangu Layakusumah.

Sepeninggal Prabu Mundingwangi ( Sunan Cisorok ), Keprabuan Kerta Rahayu dilanjutkan oleh putranya , yaitu Prabu Salalangu Layakusumah. Menurut Silsilah menak-menak Limbangan, beliau adalah kakek dari garis ibu Prabu Wijayakusumah atau Sunan Cipancar. Setelah Prabu Salalangu Layakusumah wafat diganti oleh putranya Dalem Santowaan atau disebut juga Santowaan Nusakerta.

Dalem Santowaan menggantikan Prabu Salalangu Layakusumah, tetapi tidak di Keprabuan Kerta Rahayu, karena wilayah Keprabuan Kerta Rahayu telah dibagi tiga wilayah, yaitu Kaprabuan Galeuh Pakuan, Kaprabuan Sudalarang dan Kadaleman Cibolerang Wanaraja.

Kaprabuan Galeuh Pakuan, dipimpin oleh Dalem Adipati Limansenjaya atau Prabu Wijayakusumah II ( Sunan Cipancar ), yang menggantikan ayahnya Prabu Hande Limansenjaya. Wilayahnya meliputi yang sekarang termasuk Kecamatan Limbangan, Cibiuk, Leuwigoong, Selaawi, Malangbong, Karangtengah, Cibatu , Wanaraja dan Karangpawitan.

Kaprabuan Sudalarang, dipimpin oleh Dalem Singadipati I, yang menggantikan ayahnya Prabu Wastu Dewa. Wilayahnya meliputi yang sekarang termasuk Kecamatan Sukawening dan Karangtengah Kab. Garut.

Dan Dalem Santowaan memimpin Kadaleman Cibolerang Wanaraja. Pusat Kadalemannya, adalah di suatu tempat antara Cibolerang dan Bojongsari ( arah sebelah Barat Daya Kp.Cinunuk Hilir Wanaraja ). Wilayah Kadaleman Cibolerang meliputi yang sekarang termasuk wilayah Cipicung (Banyuresmi), Cinunuk ( Wanaraja ), Cimurah, Calingcing dan Suci Karangpawitan.

Ada kemungkinan makam yang berada disana, adalah makam Dalem Santowaan dan isterinya. Makam tersebut sampai sekarang tidak ada yang memelihara atau mengurusnya.

Dalem Nayawangsa adalah Dalem di daerah Cipacing Wanakerta, yang sekarang termasuk wilayah Kec. Cibatu Kab. Garut.

Bupati Pertama Limbangan Garut

Dalem Nayawangsa putra Dalem Santowan Nusakerta putra Prabu Salalangu Layakusumah putra Sunan Cisorok putra Sunan Rumenggong diangkat sebagai Bupati Limbangan yang pertama ( 1660 – 1678 M ) oleh Pangeran Rangga Gempol III Bupati Sumedang ( 1656 – 1705 ). Setelah wafat pada pada tahun 1678 M, beliau digantikan oleh Dalem Mertasinga (1678 – 1726 ) putra Dalem Adipati Rangga Megatsari.

Oleh karena Kabupaten Limbangan Garut saat itu penduduknya hanya 200 keluarga, maka berdasarkan Keputusan VOC tanggal 15 Nopember 1684 statusnya menjadi Distrik ( Kawadanaan ) Kabupaten Sumedang. Namun pada tahun 1705 statusnya dikembalikan menjadi Kabupaten di bawah Kesultanan Cirebon.

Dalem Nayawangsa menikah dengan Ny Rd. Ayu Kuningan putra Dalem Sanggadipati II ( Ragadiyem ) cucu Prabu Wastu Dewa ( Keprabuan Sudalarang ) maka berputra 2 yaitu Dalem Kudawireksa atau Kudawarsa dan Dalem Wangsareja.

Bupati Kedua Limbangan Garut

Setelah wafat Dalem Nayawangsa sebagai Bupati pertama pada tahun 1678 M, beliau digantikan oleh Dalem Mertasinga (1678 – 1726 ) putra Dalem Adipati Rangga Megatsari Suriakusumah putra Dalem Tumenggung Jiwamerta putra Dalem Tumenggung Wangsanagara /Sunan Kareseda / Sunan Cipacing / Prabu Cakrawati putra Sunan Cipancar.

Dalem Mertasinga wafat pada tahun 1727 sebagaimana diberitakan didalam D.14 Januari 1726. Menurut Jongsbloet tahun 1714 Dalem Mertasinga memiliki 160 umpi.

Bupati Ketiga Limbangan Garut

Ketika Dalem Nayawangsa wafat, cucunya bernama Wangsadita I masih belum dewasa, oleh karena itu Dalem Nayawangsa diganti oleh Dalem Mertasinga. Meskipun demikian, Wangsadita I tetap memegang hak sebagai bupati Limbangan. Menurut Silsilah Limbangan Dalem Wangsadita I adalah putera Dalem Kudawireksa, yang tidak sempat menjadi bupati mungkin karena wafat mendahului Dalem Nayawangsa. Didalam “Resulutie” VOC disingkat “R”tertanggal 23 Oktober 1710 ditetapkan bahwa Wangsadita I akan menjadi bupati Limbangan mengganti Dalem Mertasinga bila Dalem Mertasinga wafat, padahal Dalem Mertasinga mempunyai pula putera Dalem Sutamerta, dan ketika itu Dalem Mertasinga belum wafat.

Dalem Mertasinga wafat pada tahun 1727 sebagaimana diberitakan didalam D.14 Januari 1726. Menurut Jongsbloet tahun 1714 Dalem Mertasinga memiliki 160 umpi dan Raden Wangsadita (1) hanya 40 umpi, hal mana menunjukan bahwa Dalem Wangsadita I ketika itu menjadi kepala Distrik di Limbangan. Setelah Dalem Mertasinga wafat,1726 Dalem Wangsadita I mengajukan permohonan untuk menjadi bupati menggantikan Dalem Mertasinga pada bulan Desember 1726 juga. Nampaknya permohonan Dalem Wangsadita I dikabulkan oleh VOC dan menurut D.28 November 1730 Dalem Wangsadita I menyebut dirinya sebagai Raden Rangga Limbangan. Dalem Wangsadita I alias Raden Rangga Limbangan mempunyai putera 10 orang :
1. Dalem Surianagara
2. Dalem Wangsadita ( II )
3. Dalem Suriapraja atau Suriadipraja
4. Nyi Raden Natakaraton
5. Nyi Raden Rajakaraton
6. Raden Panghulu Limbangan
7. Nyi Raden Purba
8. Raden Wangsapraja
9. Raden Wangsadinata
10. Nyi Raden Pandon

Raden Surianagara sebagai putera sulung Dalem Wangsadita I menikah dengan Ratupanganten, yang terkenal dengan nama Nyi Raden Rajaningrat puteri dari pangeran Adipati Kusumadinata alias Pangeran Kornel.

Berikut daftar bupati Limbangan Garut :
1. Dalem Nayawangsa, Bupati Limbangan 1 ( 1660 – 1678 M )
2. Dalem Mertasinga, Bupati Limbangan 2 (1678 – 1726 )
3. Dalem Wangsadita I, Bupati Limbangan 3 (1726 – 1740 M).
4. ?— Bupati Limbangan 4 (1740 – 1744 M).
5. Rangga Bungsu Bupati Limbangan 5 (1744 – 1755 M).
6. Dalem Suriapraja I, Bupati Limbangan 6 (1755 – 1799 M).
7. Tumenggung Wangsakusumah II, Bupati Limbangan 7 (1799 – 1811 M)

8. RAA Adiwijaya (1813 – 1831)

Beliau memimpin Kabupaten Limbangan dari tahun 1813 sampai tahun 1831. Nama Garut ditetapkan pada masa kepemimpinannya.

9. Adipati Kusumadinata

Adipati Kusumadinata menjadi Bupati ke dua dari Kabupaten Limbangan. Beliau menjabat sebagai Bupati Limbangan dari tahun 1831 sampai dengan tahun 1833.

10. Tumenggung Djajadiningrat

Bupati Kabupaten Limbangan selanjutnya bernama Tumenggung Djajadiningrat. Beliau memimpin dari tahun 1833 sampai dengan tahun 1871.

11. Adipati Aria Wiranudatar VII

Adipati Aria Wiranudatar VII atau disebut juga dengan nama Dalem Bintang, menjadi Bupati Kabupaten Limbangan yang terakhir. Beliau memimpin dari tahun 1871 – 1915.

12. Adipati Suria Karta Legawa

Bupati Garut pertama bernama Adipati Suria Karta Legawa. Beliau memimpin Kabupaten Garut dari tahun 1915, hingga tahun 1920.

13. Adipati Moh. Musa Suria Karta Legawa

Bupati Garut selanjutnya bernama Adipati Moh. Musa Suria Karta Legawa. Beliau memimpin dari tahun 1929, sampai dengan tahun 1944.

14. Endung Surjaputra

Endung Surjaputra adalah Bupati Kabupaten Garut selanjutnya dari tahun 1944 sampai dengan tahun 1945.

15. Kali Wiraamihardja

Kali Wiraamihardja memimpin Kabupaten Garut dari tahun 1945 – 1948.

16. Tumenggung Agus Padmanegara

Tumenggung Agus Padmanegara memimpin Kabupaten Garut dari tahun 1948 – 1949.

17. T. Kartahudaja

T. Kartahudaja menjabat sebagai Bupati Kabupaten Garut dari tahun 1949 -1950.

18. Sabri Kartasomantri

Sabri Kartasomantri menjabat sebagai Bupati Kabupaten Garut dari tahun 1950 – 1956.

19. Moch. Enoh Kartanegara

Moch. Enoh Kartanegara menjabat sebagai Bupati Kabupaten Garut dari tahun 1956 – 1960.

20. Gahara Widjaja Surja

Gahara Widjaja Surja menjabat sebagai Bupati Kabupaten Garut dari tahun 1960 – 1966.

21. Letkol. Akil Ahjat Mansjur

Letkol. Akil Ahjat Mansjur menjabat sebagai Bupati Kabupaten Garut dari tahun 1966 – 1967.

22. M. B. Jakob Iskak

M. B. Jakob Iskak menjabat sebagai Bupati Kabupaten Garut dari tahun 1967 – 1973.

23. Drs. Moh. Sjamsudin

Drs. Moh. Sjamsudin menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 1973 – 1973.

24. Ir. Hasan Wirahadikusumah

Ir. Hasan Wirahadikusumah menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 1973 – 1978.

25. Letkol. Iman Sulaeman

Letkol. Iman Sulaeman menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 1978 – 1983.

26. Letkol. Taufik Hidajat

Letkol. Taufik Hidajat menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 1983 – 1988.

27. Momon Gandasasmita SH

Momon Gandasasmita SH menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 1988 – 1993.

28. Drs. H. Toharuddin Gani

Drs. H. Toharuddin Gani menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 1993 – 1998.

29. Drs. A. Dede Satibi

Drs. A. Dede Satibi menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 1999 – 2004.

30. Letkol H. Agus Supriadi

Agus Supriadi menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 2004 – 2009.

31. Aceng H. M. Fikri

Aceng H. M. Fikri menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013. Inilah pertamakalinya Kabupaten Garut mempunyai Wakil Bupati seorang artis, yaitu Dicky Candra, dengan nama lengkap Rd. Dicky Candranegara.

32. Agus Hamdani G.S. S. Pd. I

Agus Hamdani G.S. S. Pd. I menjabat sebagai Bupati Kabupaten Garut dari tahun 2013 – 2014. Jabatannya cukup singkat dikarenakan Dicky Candra mundur sebagai Wakil Bupati.

Kemudian H. Agus Hamdani G.S. S. Pd. I menggantikan posisi sebagai Wakil Bupati. Kemudian, di tengah perjalanan, Aceng H. M. Fikri harus berhenti di tengah jalan, dan digantikan oleh H. Agus Hamdani G.S. S. Pd. I.

33. H. Rudy Gunawan, S.H., M.H., M.P.

H. Rudy Gunawan, S.H., M.H., M.P. menjabat sebagai Bupati Garut dari tahun 2014 sampai saat ini. Beliau terpilih dua periode menjabat sebagai Bupati Garut. Adapun nama Wakil Bupatinya adalah dr. H. Helmi Budiman.

Kesimpulan

1. Pada tahun 1525, Sunan Gunung Djati alias Waliyullah Syekh Syarif Hidayatullah mengangkat Liman Senjaya sebagai Bupati Limbangan dibawah kerajaan Cirebon

2. Pada tahun 1660, Raja Gempol III Kerajaan Sumedang Larang menetapkan Dalem Nayawangsa sebagai Bupati Pertama Limbangan

3. Pada tanggal 16 Pebruari tahun 1813, RAA Adiwijaya diangkat sebagai Bupati Pertama, bersamaan dengan pengembalian status Kabupaten Limbangan oleh Thomas Stamford Raffles. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913.

Sebagai penelusur sejarah maka hari lahir Garut pun harus kental dan kaya akan sejarah agar mendatangkan berkah serta nilai-nilai kesejarahan itu sendiri.

Misalnya, apa salahnya pemda Garut menetapkan hari jadi Garut itu mengambil dari saat pengangkatan Sunan Cipancar menjadi Bupati Limbangan. Sebab peristiwa ini diyakini syarat makna dan khazanah sejarah Islam yang kuat, dimana Sunan Cipancar diberikan tugas oleh Sunan Gunung Djati untuk mengislamkan tatar Sunda Garut.

Tulisan ini upaya menggugat hari jadi Garut melalui pendekatan aspek sejarah perjalanan Garut itu sendiri yang tidak mungkin dilepaskan dari perjalanan sejarah Limbangan.

Semoga tulisan ini bermanfaat

Info Lainnya  Peran PEMDA Dalam Pengawasan Harga Eceran Tertinggi dan Distribusi LPG 3 KG Bagi Pemakaian Rumah Tangga dan UMKM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

cuaca 898100116

cuaca 898100117

cuaca 898100118

cuaca 898100119

cuaca 898100120

cuaca 898100121

cuaca 898100122

cuaca 898100123

cuaca 898100124

cuaca 898100125

cuaca 898100126

cuaca 898100127

cuaca 898100128

cuaca 898100129

cuaca 898100130

cuaca 898100131

cuaca 898100132

cuaca 898100133

cuaca 898100134

cuaca 898100135

cuaca 898100136

cuaca 898100137

cuaca 898100138

cuaca 898100139

cuaca 898100140

cuaca 898100141

cuaca 898100142

cuaca 898100143

cuaca 898100144

cuaca 898100145

cuaca 898100146

cuaca 898100147

cuaca 898100148

cuaca 898100149

cuaca 898100150

cuaca 898100151

cuaca 898100152

cuaca 898100153

cuaca 898100154

cuaca 898100155

article 999990061

article 999990062

article 999990063

article 999990064

article 999990065

article 999990069

article 999990070

article 999990071

article 999990072

article 999990073

article 999990074

article 999990075

article 710000131

article 710000132

article 710000133

article 710000134

article 710000135

article 710000136

article 710000137

article 710000138

article 710000139

article 710000140

article 710000141

article 710000151

article 710000152

article 710000153

article 710000154

article 710000155

article 710000156

article 710000157

article 710000158

article 710000159

article 710000160

article 710000161

article 710000162

article 710000163

article 710000164

article 710000165

article 710000166

article 710000167

article 710000168

article 710000169

article 710000170

article 710000171

article 710000172

article 710000173

article 710000174

article 710000175

article 710000176

article 710000177

article 710000178

article 710000179

article 710000180

cuaca 638000091

cuaca 638000092

cuaca 638000093

cuaca 638000094

cuaca 638000095

cuaca 638000096

cuaca 638000097

cuaca 638000098

cuaca 638000099

cuaca 638000100

cuaca 638000101

cuaca 638000102

cuaca 638000103

cuaca 638000104

cuaca 638000105

budaya 538000031

budaya 538000032

budaya 538000033

budaya 538000034

budaya 538000035

budaya 538000036

budaya 538000037

budaya 538000038

budaya 538000039

budaya 538000040

budaya 538000046

budaya 538000047

budaya 538000048

budaya 538000049

budaya 538000050

budaya 538000051

budaya 538000052

budaya 538000053

budaya 538000054

budaya 538000055

budaya 538000056

budaya 538000057

budaya 538000058

budaya 538000059

budaya 538000060

psda 438000036

psda 438000037

psda 438000038

psda 438000039

psda 438000040

psda 438000041

psda 438000042

psda 438000043

psda 438000044

psda 438000045

psda 438000046

psda 438000047

psda 438000048

psda 438000049

psda 438000050

psda 438000051

psda 438000052

psda 438000053

psda 438000054

psda 438000055

psda 438000056

psda 438000057

psda 438000058

psda 438000059

psda 438000060

psda 438000061

psda 438000062

psda 438000063

psda 438000064

psda 438000065

psda 438000066

psda 438000067

psda 438000068

psda 438000069

psda 438000070

psda 438000071

psda 438000072

psda 438000073

psda 438000074

psda 438000075

psda 438000076

psda 438000077

psda 438000078

psda 438000079

psda 438000080

psda 438000081

psda 438000082

psda 438000083

psda 438000084

psda 438000085

psda 438000086

psda 438000087

psda 438000088

psda 438000089

psda 438000090

psda 438000091

psda 438000092

psda 438000093

psda 438000094

psda 438000095

psda 438000096

psda 438000097

psda 438000098

psda 438000099

psda 438000100

psda 438000101

psda 438000102

psda 438000103

psda 438000104

psda 438000105

psda 438000106

psda 438000107

psda 438000108

psda 438000109

psda 438000110

news-1701