Garut, Idisi Online – Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang sejatinya jadi motor penggerak roda ekonomi warga Desa sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah.
Namun dalam implementasinya, keberadaan BUMDES yang diharapkan jadi primadona usaha, sejauh ini disejumlah wilayah banyak ditemukan usaha yang dikelola BUMDES terkesan mati suri.
Sementara penyertaan modal yang rutin digelontorkan dari kantong Dana Desa berjumlah fantastis.
Seperti halnya tidak optimalnya tata kelola usaha yang dijalankan BUMDES Sindangsuka, kecamatan Cibatu kabupaten Garut. Terindikasi lantaran kurangnya transparansi dan kerjasama dengan pihak lain.
Penelusuran awak media terkait hal itu coba sambangi kantor Desa Sindangsuka, Rabu (29/07/2026).
Berhasil terkonfirmasi diruang kerjanya, Kepada Desa (Antar Waktu-Ted), Dadang Sujana memaparkan keluhannya sejak dirinya baru menjabat seumur jagung.
“Saya baru menjabat Kades 2 Bulan, melalui PAW belum banyak yang saya tahu dan lakukan. Tapi saya akan berupaya optimal memberikan pelayanan terbaik dan dorong ekonomi warga” tutur Dadang.
Disinggung ihwal kegiatan usaha yang di kelola BUMDES serta penyertaan modal yang digelontorkan, Dadang Sujana seolah enggan beri penjelasan.
“Meskipun saya belum jadi Kades, saya sekedar tahu bahwa kegiatan BUMDES untuk program ketahanan pangan, usahanya budidaya ayam petelur yang dikelola pak Nandang” jelasnya.
“Silahkan saja pantau ke kandang ayam dan konfirmasi pak Nandang” imbuhnya.
Ditempat terpisah, lokasi kandang Ayam petelur BUMDES yang berada dilahan milik Nandang, nampak ratusan ekor ayam.
Menurut Nandang, dirinya bukan Direktur melainkan pembina BUMDES. Baru aktif di tahun 2025.
“Posisi saya di BUMDES bukan Direktur tapi pembina sekaligus pengurus ternak ayam yang berjumlah 800 ekor’ ungkap Nandang.
Disebutkan Nandang bahwa penyertaan modal dari dana desa yang diterima untuk usaha itu sekitar 250 juta.
“Penyertaan modal yang diterima sekitar 250 juta, dibuatkan kandang sekurangnya 70 juta, sisanya beli bibit dan pakan” kata Nandang.
Pengakuan Nandang produksi telur hingga saat ini telah mencapai 39 Kilo/Hari.
“Rata rata produksi telur mencapai 39 Kilo per hari, angka kematian ayam juga saat inicukuobtinggi karena faktor cuac, kematian mencapai 50 ekor. Tapi hasil produksi kami sudah bisa sumbang PADes” paparnya.
Sementara itu tokoh masyarakat setempat yang minta namanya tidak ditulis bahkan memberikan pernyataan yang berbanding terbalik dengan Nandang.
“Program ketahanan pangan itu lebih cenderung dinilai masyarakat usaha pribadi bukan usaha masyarakat. Setahu saya tidak pernah nyumbang PADes. Padahal usaha BUMDES bukan hanya dari ternak ayam saja. Penghasilan rutin dari limbah pabrik yang dikelola BUMDES juga saya fikir harus jelas’cibir warga.
Persoalannya BUMDES yang bergulir di Desa Sindangsuka, ternyata tidak sebatas sampai disitu saja. Warga masyarakat setempat meminta kejelasan akan tata kelola anggaran dan sumber daya yang jadi pendapatan Desa demi esejahteraan warga.
Sejauh ini hingga berita dilansir, pihak terkait baik DPMD dan inspektorat Garut belum dapat diminta tanggapannya.
**Her/Yus
Saling Silang Tata Kelola BUMDES Sindang Suka Picu Persepsi Negatif Warga







