Opini | Oleh: Angghani Puspa Adha
Baleendah, Kab Bandung, Idisi Online – Sabtu (18/7/2026)
Sabtu, 18 Juli 2026. Di tepian Sungai Citarum, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, ada keramaian yang tidak biasa. Bukan keramaian hiburan, tapi keramaian produksi.
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) – Kegiatan Desa Mandiri Produktif digelar di sana. Saya datang bersama teman. Dan jujur, pemandangan itu memberi makna: selama ini kita terlalu lama membiarkan UMKM berjalan sendirian.
Ruang Bertemu Antara Produk dan Pasar
Selama puluhan tahun kita bicara soal “membeli produk lokal”. Tapi pertanyaannya: di mana ruangnya?
KDMP menjawab itu. Ia menjadi etalase. Menjadi ruang temu antara keringat petani, tangan pengrajin, dan dompet pembeli.
Di stand-stand sederhana itu saya melihat keberagaman yang luar biasa. Ada makanan tradisional, minuman kekinian, kerajinan tangan. Ada produk lokal yang selama ini hanya beredar di grup WA RT, kini dipajang dan diuji langsung oleh pasar.
Ini penting. Karena UMKM tidak akan naik kelas kalau hanya disuruh “bertahan”. Mereka butuh panggung. Butuh saingan. Butuh kritik dan apresiasi langsung. Di situlah KDMP bekerja.
Kerja Kolektif, Bukan Kerja Simbolik
Yang menarik, KDMP ini tidak jalan sendiri. Hadir Babinkamtibmas, Babinsa, Linmas, pengurus KDMP, dan perangkat desa. Ini sinyal bagus.
Artinya negara hadir. Artinya keamanan, ketertiban, dan dukungan kelembagaan ada di sana.
Tapi mari jujur. Kehadiran aparat dan seremoni pembukaan tidak akan cukup. Kalau setelah ini tidak ada pendampingan, tidak ada pasar tetap, dan tidak ada akses permodalan, maka KDMP hanya akan jadi “pesta sehari” yang fotonya bagus untuk laporan.
UMKM butuh lebih dari tepuk tangan. Mereka butuh pelatihan kemasan, legalitas PIRT, hingga diajari jualan di marketplace. Mereka butuh agar produknya tidak hanya laku di bazar, tapi juga bisa masuk minimarket dan diekspor.
Catatan Kritis untuk ke Depan
Saya berharap KDMP Rancamanyar jadi awal, bukan akhir.
Pertama, konsistensi. Jangan hanya digelar saat ada kunjungan atau momentum. Jadikan agenda bulanan agar pembeli tahu kemana harus datang mencari produk lokal.
Kedua, keberpihakan. Pastikan yang diuntungkan benar-benar masyarakat menengah ke bawah. Petani, ibu-ibu PKK, pemuda yang baru mulai usaha. Jangan sampai KDMP dikuasai segelintir orang.
Ketiga, visi besar. KDMP harus nyambung dengan 8 pilar kebangsaan dan visi Indonesia Emas. Menguatkan ekonomi desa adalah cara paling nyata menjaga ketahanan negara. Karena negara kuat dimulai dari perut yang kenyang dan dompet yang terisi.
Sungai Citarum sudah terlalu lama jadi saksi pencemaran. Hari ini, mari kita jadikan ia saksi kebangkitan. Saksi bahwa dari bantaran sungai, UMKM desa bisa bangkit dan bersaing.
Pertanyaannya bukan lagi “bisakah UMKM bersaing?”. Pertanyaannya: “maukah kita serius mengawal mereka?”
Karena kalau bukan kita yang membeli dan membela produk sendiri, lalu siapa lagi?







