Artikel

Sejarah Pesantren Kampung Lekor Desa Lembang Kec. Leles Garut

×

Sejarah Pesantren Kampung Lekor Desa Lembang Kec. Leles Garut

Sebarkan artikel ini

SEJARAH PESANTREN KAMPUNG LEKOR DESA LEMBANG KEC. LELES GARUT
oleh: Kang Oos Supyadin, Garsel

Pesantren Lekor merupakan pesantren pertama di wilayah kecamatan Leles Garut. Awal mula berdirinya pesantren di Kampung Lekor Desa Lembang Kec Leles Garut yang dulunya bermula masih berupa majelis ta’lim yang di pimpin oleh Syekh Syarif yang biasa dipanggil Juragan Guru Sepuh atau Eyang Engah. Syekh Syarif sendiri merupakan murid dari Syekh Ahmad Khatib Sambas yang sejaman dengan Syekh Bangkalan dan Syekh Hasyim Asyari.

Sekitar awal abad 18 Juragan Guru Sepuh bersama kedua saudaranya yakni Eyang Mad Husen dan Eyang Nini Uta yang berasal dari daerah Garut Selatan wilayah Sancang tepatnya Kampung Miramareu datang ke Kampung Lekor melalui perjalanan wilayah Kandangwesi yakni Bungbulang lalu masuk ke Cibuluh selanjutnya terakhir di Kampung Lekor Desa Lembang Kec Leles Garut. Syekh Syarif menikah dengan wanita asal Cibiuk yang biasa dipanggil Ibu namun tidak dikaruniai anak, sedangkan Eyang Mad Husen menikah dengan Eyang Emet dan dikaruniai 4 anak, serta Eyang Nini Uta menikah dengan Habib Hasan Arif dari Demak yang masih keturunan dari negeri Yaman dan dikaruniai 4 anak.

Eyang Nini Uta menikah dengan Habib Hasan Arif, putranya sebagai berikut:
1. KH Hasbullah Jawawi, lahir sekitar tahun 1898 dan wafat tahun 1970.
2. Hasan Arif
3. H. Sodikin di Cikoneng Ciamis sebagai Penghulu
4. Junaedi

Sedangkan Eyang Mad Husen menikah dengan Eyang Ibu Emet, memiliki putra sebagai berikut:
1. Nini Emong, yang menikah dengan Mama Sarbi di Bunisari Limbangan
2. Umi Kalsum
3. Nini Emur, yang menikah dengan Hasan Arif bin Habib Hasan Arif
4. Hj. Nioh

Berdirinya Pesantren Lekor

Pada tahun 1822, Juragan Guru Sepuh mendirikan pesantren namun masih berupa majelis taklim. Sehingga majelis ta’lim ini lebih fokus pada Tariqah, yakni Tariqoh Qodiriah.

Karena Syekh Syarif tidak memiliki keturunan, sehingga ia mengambil keponakan dari adiknya yang bernama KH Hasbullah Jawawi putra Eyang Nini Uta sejak usia 9 tahun, yang kelak dipersiapkan untuk melanjutkan majlis ta’lim tersebut.

Info Lainnya  Sekenario Global Manusia Atau Kehendak Tuhan Pandemi Covid 19 ??



Juragan Guru Sepuh wafat tahun 1930 diusia 150 tahun, ini artinya tahun kelahiran Syekh Syarif alias Juragan Guru Sepuh alias Eyang Engah pada tahun 1780. Selama hidupnya Syekh Syarif pernah diangkat oleh Belanda sebagai Landraat sehingga bersama Mama Bojong yakni Syekh Adroi mendapatkan penghargaan berupa Tanda Bintang.

Pada masa KH Hasbullah Jawawi yang lebih dikenal dengan sebutan Juragan Aceng, baru mulai berdiri Pondok Pesantren, namun belum memiliki santri yang begitu banyak. Kemudian pada masa KH Hasbullah selain memulai mendirikan Pondok Pesantren, ia pun dipenuhi dengan jama’ah majlis ta’lim dari berbagai daerah, termasuk dari luar pulau Jawa karena masyhurnya Tariqoh Qodiriah yang ia emban.

Selain belajar ilmu pesantren ke Juragan Guru Sepuh, maka KH Hasbullah Jawawi alias juragan Aceng ini pun pernah belajar agama ke Mama Dukuh Pananjung Tarogong Kaler. Mama Dukuh adalah muridnya Syekh Mahfuzh al-Tirmisi alias Muhammad Mahfuzh bin Abdullah bin Abdul Manan bin Abdullah bin Ahmad at-Tarmasi. Ia lahir dari desa yang cukup terpencil, yaitu Termas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, pada 31 Agustus 1868 M.

Saat itu Hasbullah Jawawi hanya belajar kitab Safinah saja yang diajarkan selama 4 tahun, dan anehnya sekalipun hanya kitab Safinah yang dipelajari tapi kitab lainnya pun beliau bisa dan paham. Teman belajar agama saat itu adalah Mama Ajengan Lomri Haur Kuning Kadungora yang menukil Kitab Tafsir Bayan.

Keturunan KH Hasbullah Jawawi alias Juragan Aceng

KH Hasbullah Jawawi menikah dengan Umi Kulsum binti Mad Husen yang masih saudara sepupunya, memiliki putra sebagai berikut:
1. H Umar Basri, menikah dengan Umi Kalsum tidak memiliki keturunan
2. H Ahmad Hidayat, menikah dengan Hj Euis Maesaroh memiliki putra: Agus Salim dan Siti Khodijah
3. Hj Siti Fatimah, menikah dengan H Abdullah Muhsin dari Sukaresmi Leles memiliki putra: Ai Kulsum, Zaeni Dahlan, H Sofwan, H Burdah, H Deden Haidar, dan Nyimas Didoh.
4. Hj Oting Sundinat, menikah dengan Ajengan Enu dari Desa Samida Selaawi memiliki putra: H Aminudin dan Dede Ma’mun

Istri pertama juragan Aceng maot, lalu menikah sama Hj Siti Hasanah binti H Basari dan dikaruniai 4 putra yaitu:
5. H Aceng Ali, menikah dengan Hj Imas Maemunah memiliki putra: Aceng Supyan Sauri, Ai Hanifa, Aceng Yusup, dan Aceng Rahmatullah Jawawi.
6. Aceng Masturo, menikah dengan Hj Umi Kulsum mantan istrinya H Umar Basri memiliki putra: Hj Intan, Susan Nafiza dan Wilan.
7. Aceng Imam Harmaen, menikah dengan Ny Ai memiliki putra: Alfi, Andri, Anti dan Arni.
8. Aceng Muhammad Afifudin alias Abah Ucang, menikah dengan Ny Wiwin memiliki putra: aceng Husni, neng Wanti Jamilah, aceng Bayin dan Aceng Bayan.

Semoga bermanfaat

Info Lainnya  Rakyat Indonesia Rindu Sosok Negarawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

cuaca 898100116

cuaca 898100117

cuaca 898100118

cuaca 898100119

cuaca 898100120

cuaca 898100121

cuaca 898100122

cuaca 898100123

cuaca 898100124

cuaca 898100125

cuaca 898100126

cuaca 898100127

cuaca 898100128

cuaca 898100129

cuaca 898100130

cuaca 898100131

cuaca 898100132

cuaca 898100133

cuaca 898100134

cuaca 898100135

cuaca 898100136

cuaca 898100137

cuaca 898100138

cuaca 898100139

cuaca 898100140

cuaca 898100141

cuaca 898100142

cuaca 898100143

cuaca 898100144

cuaca 898100145

cuaca 898100146

cuaca 898100147

cuaca 898100148

cuaca 898100149

cuaca 898100150

cuaca 898100151

cuaca 898100152

cuaca 898100153

cuaca 898100154

cuaca 898100155

article 999990061

article 999990062

article 999990063

article 999990064

article 999990065

article 999990069

article 999990070

article 999990071

article 999990072

article 999990073

article 999990074

article 999990075

article 710000131

article 710000132

article 710000133

article 710000134

article 710000135

article 710000136

article 710000137

article 710000138

article 710000139

article 710000140

article 710000141

article 710000151

article 710000152

article 710000153

article 710000154

article 710000155

article 710000156

article 710000157

article 710000158

article 710000159

article 710000160

article 710000161

article 710000162

article 710000163

article 710000164

article 710000165

article 710000166

article 710000167

article 710000168

article 710000169

article 710000170

article 710000171

article 710000172

article 710000173

article 710000174

article 710000175

article 710000176

article 710000177

article 710000178

article 710000179

article 710000180

cuaca 638000091

cuaca 638000092

cuaca 638000093

cuaca 638000094

cuaca 638000095

cuaca 638000096

cuaca 638000097

cuaca 638000098

cuaca 638000099

cuaca 638000100

cuaca 638000101

cuaca 638000102

cuaca 638000103

cuaca 638000104

cuaca 638000105

budaya 538000031

budaya 538000032

budaya 538000033

budaya 538000034

budaya 538000035

budaya 538000036

budaya 538000037

budaya 538000038

budaya 538000039

budaya 538000040

budaya 538000046

budaya 538000047

budaya 538000048

budaya 538000049

budaya 538000050

budaya 538000051

budaya 538000052

budaya 538000053

budaya 538000054

budaya 538000055

budaya 538000056

budaya 538000057

budaya 538000058

budaya 538000059

budaya 538000060

psda 438000036

psda 438000037

psda 438000038

psda 438000039

psda 438000040

psda 438000041

psda 438000042

psda 438000043

psda 438000044

psda 438000045

psda 438000046

psda 438000047

psda 438000048

psda 438000049

psda 438000050

psda 438000051

psda 438000052

psda 438000053

psda 438000054

psda 438000055

psda 438000056

psda 438000057

psda 438000058

psda 438000059

psda 438000060

psda 438000061

psda 438000062

psda 438000063

psda 438000064

psda 438000065

psda 438000066

psda 438000067

psda 438000068

psda 438000069

psda 438000070

psda 438000071

psda 438000072

psda 438000073

psda 438000074

psda 438000075

psda 438000076

psda 438000077

psda 438000078

psda 438000079

psda 438000080

psda 438000081

psda 438000082

psda 438000083

psda 438000084

psda 438000085

psda 438000086

psda 438000087

psda 438000088

psda 438000089

psda 438000090

psda 438000091

psda 438000092

psda 438000093

psda 438000094

psda 438000095

psda 438000096

psda 438000097

psda 438000098

psda 438000099

psda 438000100

psda 438000101

psda 438000102

psda 438000103

psda 438000104

psda 438000105

psda 438000106

psda 438000107

psda 438000108

psda 438000109

psda 438000110

news-1701