KBB, IO – Siswa SMKN 1 Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, mengeluhkan variasi menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai kurang beragam. Sekolah yang menerima pasokan MBG dari SPPG Dapur Citaleum 1, Kecamatan Cipongkor, sejak Juli 2025 itu menyebut menu yang disajikan cenderung berulang sehingga membuat siswa merasa bosan.
Koordinator MBG SMKN 1 Cipongkor, Sri Handayani, mengatakan keluhan dari siswa kerap muncul karena menu yang diberikan kurang variatif. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian makanan tidak habis dikonsumsi dan masih menyisakan makanan di wadah makan siswa.
“Anak-anak paling bosan dengan menu telur dan sayuran. Selain itu, beberapa jenis sayuran seperti wortel dan buncis dinilai memiliki bumbu yang terlalu menyengat sehingga kurang disukai. Dari tray MBG yang kami lihat, masih banyak makanan yang tersisa setiap harinya,” ujar Sri Handayani kepada wartawan, Kamis (11/6/2026).
Menurut Sri, pihak sekolah berharap penyelenggara program dapat menyusun menu yang lebih bervariasi agar sesuai dengan selera siswa tanpa mengurangi nilai gizi yang terkandung dalam makanan.
“Kami berharap pihak SPPG bisa membuat variasi menu yang lebih menarik dan disukai anak-anak, sehingga makanan yang disalurkan tidak terbuang sia-sia,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam satu pekan distribusi yang berlangsung selama lima hari, menu yang diterima umumnya terdiri atas empat hari menu ayam dan satu hari menu telur. Sementara itu, selama hampir satu tahun pelaksanaan program, siswa disebut baru satu kali menerima menu daging sapi.
“Dalam satu tahun ini, menu yang paling sering diberikan adalah ayam dan telur. Untuk daging sapi, setahu kami baru satu kali diberikan,” ungkapnya.
Selain persoalan variasi menu, sekolah juga menyoroti keterlambatan distribusi makanan yang beberapa kali terjadi. Menurut Sri, kondisi tersebut berdampak pada proses penyaluran MBG kepada siswa.
“Karena sistem pembelajaran di sekolah kami menggunakan dua sif, ketika pengiriman terlambat, sebagian siswa sudah pulang sehingga makanan tidak tersalurkan secara optimal,” tuturnya.
Pihak sekolah berharap evaluasi dapat dilakukan terhadap variasi menu maupun ketepatan waktu distribusi agar pelaksanaan Program MBG berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat maksimal bagi para siswa.
Rep. Asted







