
KARAWANG, Hari Kartini biasanya dirayakan dengan seremoni dan kebaya, namun bagi Siti Kamilah (22), warga Kelurahan Plawad, Karawang, makna perjuangan perempuan adalah tentang bakti dan keringat yang bercucuran demi keluarga.
Di usia mudanya, Siti harus memikul beban sebagai tulang punggung keluarga sekaligus perawat bagi ibunda tercintanya, Urni (52).
Kondisi Ibu Urni kini tak lagi bugar. Faktor usia dan penyakit yang dideritanya membuat beliau hanya bisa berbicara terbata-bata.
Di tengah keletihannya pulang bekerja, Siti tak pernah absen untuk sekadar memijat kaki sang ibu, memastikan wanita yang melahirkannya itu bisa beristirahat dengan nyaman.
Bagi Siti, memijat ibu bukan sekadar rutinitas, melainkan caranya merayakan sosok ‘Kartini’ dalam hidupnya.
Ia mengaku, meski lelah mendera setelah seharian mencari nafkah, melihat senyum di wajah ibunya adalah obat paling mujarab.
“Senang rasanya di umurku yang semakin dewasa dan ibu yang sudah menua ini, aku masih bisa menyaksikan senyumannya,” ujar Siti dengan nada lirih saat ditemui di kediamannya, Selasa (21/4/2026).
Ketika ditanya seberapa besar arti kehadiran Ibu Urni dalam hidupnya, Siti sempat terdiam sejenak.
Baginya, kata-kata tak akan pernah cukup untuk menggambarkan peran sang ibu yang menjadi bahan bakar semangatnya setiap hari.
“Seberapa besar? Mungkin bumi dan seisinya saja tidak akan cukup untuk menjelaskan berapa besar arti seorang ibu bagi saya,” tuturnya.
Di balik ketegarannya sebagai tulang punggung keluarga, Siti tetaplah seorang anak yang merindukan dekapan hangat dan kesehatan ibunya.
Di momen Hari Kartini ini, ia hanya memanjatkan satu doa sederhana namun mendalam: kesembuhan.
“Doaku untuk ibu, cepat sembuh ya, Bu. Anakmu ini tidak sekuat yang Ibu pikir, aku masih anak yang membutuhkan kasih sayang darimu. Jadi, cepat pulih ya, Bu!” ucap Siti penuh harap.
Meski saat ini hidup dalam keterbatasan, Siti Kamilah memiliki mimpi besar. Ia enggan menyerah pada keadaan. Pemudi asal Plawad ini menyimpan ambisi untuk menjadi seorang pengusaha sukses dan bos muda.
Impian itu ia gantungkan setinggi langit bukan untuk pamer kekuasaan, melainkan agar bisa membahagiakan kedua orang tuanya serta menjadi tangan yang membantu sesama yang membutuhkan.
Kisah Siti Kamilah adalah pengingat bagi kita semua, bahwa Kartini masa kini bukan hanya mereka yang berada di panggung besar, tapi juga mereka yang berjuang dalam sunyi, merawat kasih sayang, dan menjaga martabat keluarga di gang-gang sempit pemukiman warga.















