KARAWANG, IO – Penanganan medis terhadap puluhan warga yang diduga mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi paket Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Telagasari terus menunjukkan progres positif.
Pihak pengelola memastikan seluruh pasien, termasuk balita bernama Dede Zhian yang sempat mendapat perawatan intensif, kini kondisinya telah berangsur membaik.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Telaga Mulya 2, Rizki Dhafin, menegaskan komitmen penuh pihaknya untuk mengawal pemulihan para korban hingga tuntas.
“Kami pantau dari awal hingga akhir. Kondisi pasien sudah membaik, semua kebutuhan medis sudah kami fasilitasi, termasuk bagi Dede Zhian dan korban lainnya. Kami bertanggung jawab penuh, baik kepada warga yang masuk kategori Keluarga Penerima Manfaat (KPM) maupun warga non-KPM yang turut terdampak,” ujar Rizki saat dikonfirmasi pada Minggu (19/4/2026).
Rizki menjelaskan bahwa berdasarkan investigasi internal sementara, diduga kuat pemicu gangguan kesehatan bukan berasal dari bahan baku makanan, melainkan jeda waktu konsumsi yang melampaui batas aman.
Menurutnya, pihak dapur telah mendistribusikan makanan sekitar pukul 10.00 WIB dengan imbauan konsumsi maksimal pada pukul 11.00 WIB.
Namun, ditemukan fakta di lapangan bahwa sejumlah warga baru mengonsumsi makanan tersebut pada sore hingga malam hari.
“Di luar jam tersebut, kualitas makanan sudah di luar pemantauan kami. Namun sekali lagi, kami tidak lepas tangan dan tetap menanggung seluruh biaya pengobatan sebagai bentuk tanggung jawab moral,” tambahnya.
Saat ini, pihak SPPG masih menunggu hasil uji laboratorium resmi dari Dinas Kesehatan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Buntut dari insiden ini, operasional dapur SPPG Telagasari resmi dihentikan sementara.
Meskipun surat keputusan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) masih dalam proses administratif, pihak pengelola telah mengambil langkah proaktif untuk menonaktifkan seluruh aktivitas masak-memasak.
Namun, kebijakan ini membawa dilema baru. Penutupan dapur berdampak langsung pada rantai ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada program tersebut.
1.Kehilangan Penghasilan: Para pekerja dapur mulai mengeluhkan ketidakpastian nasib karena pekerjaan ini merupakan tumpuan utama ekonomi keluarga.
2.Pelaku Usaha Kecil: Suplai bahan baku yang melibatkan pedagang pasar dan supplier lokal kini terhenti total.
Angka Pengangguran: Keberadaan dapur ini sebelumnya dinilai efektif menyerap tenaga kerja dari masyarakat setempat dan mengurangi angka pengangguran di wilayah Telagasari.
“Dapur ini bukan sekadar tempat memasak, tapi ekosistem ekonomi bagi warga sekitar, mulai dari pekerja hingga supplier lokal. Penutupan ini tentu memukul penghasilan mereka. Kami berharap proses investigasi cepat selesai agar roda ekonomi masyarakat bisa kembali berputar,” ungkap Rizki.
Pihak SPPG berharap insiden yang terjadi pada hari Kamis tersebut menjadi bahan evaluasi total, terutama dalam memperketat edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur penyimpanan dan batas waktu konsumsi makanan sehat.
Pasca Insiden Telagasari: Pengelola Jamin Biaya Pengobatan dan Soroti Dampak Ekonomi Penutupan Dapur








