Penulis : Oos Supyadin, SE., MM (Pengurus Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut)
Begitu banyak versi tentang tulisan sejarah Prabu Kian Santang Sang Putra Raja Pajajaran yang melegenda bagi masyarakat Sunda dan sangat terkenal dikalangan para raja di Nusantara kala itu. Dalam kesempatan ini penulis mencoba untuk mengupasnya melalui metode rangkuman dari banyak versi tulisan, namun yang pasti selalu tetap menarik untuk sama-sama kita gali dan kita kaji.
Prabu Kian Santang begitu banyak nama sebutannya antara Raden Sangara / Haji Mansur / Sunan Rohmat Godog Suci Garut / Galantrang Setra lahir pada tahun 1427 Masehi adalah putra dari Prabu Siliwangi alias Embah Baduga (Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi II ) / Raden Pamanah Rasa / Ratu Sakti Sangabatan Jayadewata dan ibunya bernama Nyai Nyimas Subang Larang / Kubang Kencana Ningrum / Kubang Kancana Wangi.
Prabu Kian Santang memiliki saudara sekandung yaitu Prabu Walangsung alias Pangeran Cakrabuana dan Nyimas Rara Santang alias Syarifah Mudaim. Sedangkan saudara yang seayah sangat banyak jumlah mengingat jumlah istri ayahnya pun bisa dikatakan cukup banyak.
Prabu Kian Santang memiliki istri yang bernama Nyai Kalimah / Halimah / Nyai Gedeng Kalisapu and Dewi Rengganis Situ Patengan. Dan Prabu Kian Santang memiliki beberapa putra diantaranya : Pangeran Ayan Permana, Prabu Kuncung Putih Pasarean dan Dalem Pagerjaya, Godog Suci Garut.
Silsilah Prabu Kian Santang sebagai berikut :
a. Dari pihak ayah Prabu Kian Santang putra Rd Pamanah Rasa putra Prabu Dewa Niskala / Ningrat Kancana putra Prabu Niskala Wastu Kancana / Wangisutah / Anggalarang / Linggawastu putra Prabu Linggabuana putra Prabu Ajiguna Linggawisesa
b. Dari pihak ibu Prabu Kian Santang putra Nyai Subang Larang putra Ki Gedeng Tapa putra Prabu Niskala Wastu Kancana / Ningrat Kancana putra Prabu Niskala Wastu Kancana / Wangisutah / Anggalarang / Linggawastu putra Prabu Linggabuana putra Prabu Ajiguna Linggawisesa
Wafat dan dikebumikan di tempat terakhir beliau berdakwah : Makam Godog di Desa Lebak Agung, Kec. Karangpawitan, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat.
Putera raja Pajajaran yang bernama Prabu Siliwangi dari ibunya bernama Dewi Kumala Wangi / Dewi Subang Larang. Mempunyai dua saudara yang bernama Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang.
Catatan lain pada sarasilah keturunan Dalem Aria Wiratanu (Jayasasana) Dalem CIkundul, menyatakan bahwa Kian Santang adalah putra Kakasih Radja putra Mundingkawati putra Banyak Wangi putra Banyak Larang putra Susuk Tunggal (Saudara Prabu Lingga Wesi) putra Guru Minda Kahiangan putra Ciung Wanara putra Prabu Cakrabuana (Mundingwangi) putra Prabu Siliwangi I putra Mundingsari alias Banjarsari.
Prabu Kian Santang menjadi Dalem Bogor
Disebutkan oleh Ferry Taufiq El Jaquene dalam Hitam Putih Padjajaran bahwa Kian Santang yang bernama kecil Radja Sangara masuk Islam sejak kecil dan disebutkan dalam Api Sejarah 1 karya Ahmad Mansur Suryanegara bahwa Kian Santang turut serta meresmikan berdirinya Kadipaten Cirebon dibawah kekuasaan abangnya,Raden Walangsungsang dengan menyerahkan bendera kerajaan. Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor
Disebutkan dalam Ensiklopedi Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia yang ditulis kementrian agama NKRI beliau berdakwah mengajak raja raja Sunda pedalaman masuk Islam diantaranya Sunan Pancer,Raja Galuh Pakuan.
Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid 2 menyebutkan bahwa Kian Santang pernah menuntut Ilmu ke Makkah.
Beliau menikah dengan Nyai Kalimah Sapujagad demikian menurut Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon dan tidak ada catatan resmi siapa keturunannya sehingga hal itu menimbulkan perdebatan.
Kiansantang dan Rakeyan Sancang
Prabu Kiansantang inilah disebut-sebut tradisi masyarakat sebagai putra Raja Padjadjaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham tentang keyakinan agama, tapi akhirnya mereka bersepakat Kian Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran, petilasan yang bertalian dengan Kian Santang berada di Godog Garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.
Cerita rakyat turun menurun dari mulut ke mulut bahwa Prabu Kiansantang / Kian Santang abad ke 15 yang bertemu dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tahun 1599-1661 dan mengejar bapaknya Prabu Siliwangi untuk di Islam-kan, hal ini terkait dengan siapa pemeluk Islam pertama di tataran Sunda, yakni dengan nama yang serupa dengan Pangeran dari Kerajaan Tarumanagara, yang bernama Rakeyan Sancang (lahir 591 M) putra Raja Kertawarman (Raja Kerajaan Tarumanagara 562– 618 M) saudara sebapak Raja Suraliman Sakti (568–597) Putra Manikmaya cucu Suryawarman Raja Kerajaan Kendan.
Keturunan Ki Santang
Dalam wangsit uga siliwangi dikatakan bahwa keturunanya akan menjadi pengingat mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya:
Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!:
artinya:
Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!
=========
Lahir tahun 1315 Masehi di Pajajaran yang sekarang Kota Bogor. Pada usia 22 tahun tepatnya tahun 1337 masehi Prabu Kiansantang diangkat menjadi dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Sejarah Makam Godog di Garut (Makam Prabu Kean Santang).
Pada usia 22 tahun Prabu Kian Santang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor.
Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa khususnya di Pasundan. Prabu Kian Santang merupakan sinatria yang gagah perkasa, tak ada yang bisa mengalahkan kegagahannya. Sejak kecil sampai dewasa yaitu usia 33 tahun, Prabu Kian Santang belum tahu darahnya sendiri dalam arti belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya di sejagat pulau Jawa.
Sering dia merenung seorang diri memikirkan, “Dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya.” Akhirnya Prabu Kian Santang memohon kepada ayahnya yaitu Prabu Siliwangi supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya. Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Prabu Kian Santang. Namun tak seorang pun yang mampu menunjukkannya.
Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa khususnya di Jawa Barat. Prabu Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa, tak ada yang bisa mengalahkan kegagahannya. Sejak kecil sampai dewasa yaitu usia 33 tahun, tepatnya tahun 1348 Masehi, Prabu Kiansantang belum tahu darahnya sendiri dalam arti belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya disejagat pulau Jawa.
Sering dia merenung seorang diri memikirkan, “dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya”. Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya yaitu Prabu Siliwangi supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya. Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Prabu Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya.
Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang itu adalah Syech Ali murtadho, yang tinggal jauh di Tanah Mekah.
Lalu orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang: “Kalau memang anda mau bertemu dengan Syech Ali harus melaksanakan dua syarat: Pertama, harus mujasmedi dulu di ujung kulon. Kedua, nama harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang – Berani, Setra – Bersih/ Suci). Setelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah pada tahun 1348 Masehi.
Tiba di tanah Mekah beliau bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Syech Ali, namun Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Syech Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu: “Kenalkah dengan orang yang namanya Syech Ali?” Laki-laki itu menjawab bahwa ia kenal, malah bisa mengantarkannya ke tempat Syech Ali.
Sebelum berangkat laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah, yang tak diketahui oleh Galantrang Setra. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Syech Ali berkata, “Wahai Galantrang Setra tongkatku ketinggalan di tempat tadi, coba tolong ambilkan dulu.” Semula Galantrang Setra tidak mau, namun Syech Ali murtadho mengatakan, “Kalau tidak mau ya tentu tidak akan bertemu dengan Syech Ali.”
Terpaksalah Galantrang Setra kembali ketempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan, dikira tongkat itu akan mudah
lepas. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, malahan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi dia berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi dari pada kecabut, malahan kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluar pulalah darah dari seluruh tubuh Galantrang Setra.
Syech Ali murtadho mengetahui kejadian itu, maka beliaupun datang. Setelah Syech Ali murtadho tiba, tongkat itu langsung dicabut sambil mengucapkan Bismillah dan dua kalimat syahadat. Tongkatpun terangkat dan bersamaan dengan itu hilang pulalah darah dari tubuh Galantrang Setra. Galantrang Setra merasa heran kenapa darah yang keluar dari tubuh itu tiba-tiba menghilang dan kembali tubuhnya sehat.
Dalam hatinya ia bertanya. “Apakah kejadian itu karena kalimah yang diucapkan oleh orang tua itu tadi?”. Kalaulah benar, kebetulan sekali, akan kuminta ilmu kalimah itu. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab. Alasannya, karena Galantrang Setra belum masuk Islam. Kemudian mereka berdua berangkat menuju kota Mekah. Setelah tiba di kota Mekah, dijalan ada yang bertanya kepada laki-laki itu dengan sebutan Syech Ali murtadho. “Kenapa anda Ali pulang terlambat?”. Galantrang Setra kaget mendengar sebutan Ali tersebut.
Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi namanya Syech Ali murtadho. Setelah Prabu Kiansantang meninggalkan kota Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Pajajaran) dia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan, maka dia berpikir untuk kembali ke tanah Mekah lagi. Maka kembalilah Prabu Kiansantang dengan niatan akan menemui Syech Ali dan bermaksud masuk agama Islam. Pada tahun 1348 Masehi Prabu Kiansantang masuk agama Islam, dia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. Setibanya di Pajajaran dan bertemu dengan ayahnya, dia menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Syech Ali murtadhò. Pada akhir ceritanya dia memberitahukan dia telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk masuk agama Islam. Prabu Siliwangi kaget sewaktu mendengar cerita anaknya yang mengajak masuk agama Islam. Sang ayah tidak percaya, malahan ajakannya ditolak.
Tahun 1355 Masehi Prabu Kiansantang berangkat kembali ke tanah Mekah, jabatan kedaleman untuk sementara diserahkan ke Galuh Pakuan yang pada waktu itu dalemnya dipegang oleh Prabu Anggalang. Prabu Kiansantang bermukim di tanah Mekah selama tujuh tahun dan mempelajari ajaran agama Islam secara khusu. Merasa sudah cukup menekuni ajaran agama Islam, kemudian beliau kembali ke Pajajaran tahun 1362 M. Beliau berniat menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Kembali ke Pajajaran, disertai oleh Saudagar Arab yang punya niat berniaga di Pajajaran sambil membantu Prabu Kiansantang menyebarkan agama Islam. Setibanya di Pajajaran, Prabu Kiansantang langsung menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat, karena ajaran Islam dalam fitrohnya membawa keselamatan dunia dan akhirat. Masyarakat menerimanya dengan tangan terbuka. Kemudian Prabu Kiansantang bermaksud menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan Keraton Pajajaran.
Setelah Prabu Siliwangi mendapat berita bahwa anaknya Prabu Kiansantang sudah kembali ke Pajajaran dan akan menghadap kepadanya. Prabu Siliwangi yang mempunyai martabat raja mempunyai pikiran. “Dari pada masuk agama Islam lebih baik aku muninggalkan istana keraton Pajajaran”. Sebelum berangkat meninggalkan keraton, Prabu Siliwangi merubah Keraton Pajajaran yang indah menjadi hutan belantara. Melihat gelagat demikian, Prabu Kiansantang mengejar ayahnya. Beberapa kali Prabu Siliwangi terkejar dan berhadapan dengan Prabu Kiansantang yang langsung mendesak sang ayah dan para pengikutnya agar masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi tetap menolak, malahan beliau lari ke daerah Garut Selatan ke salah satu pantai. Prabu Kiansantang menghadangnya di laut Kidul Garut, tetapi Prabu Siliwangi tetap tidak mau masuk agama Islam.
Dengan rasa menyesal Prabu Kiansantang terpaksa membendung jalan larinya sang ayah. Prabu Siliwangi masuk kedalam gua, yang sekarang disebut gua sancang Pameungpeuk. Prabu Kiansantang sudah berusaha ingin meng Islamkan ayahnya, tetapi Alloh tidak memberi taufiq dan hidayah kepada Prabu Siliwangi.
Prabu Kiansantang kembali ke Pajajaran, kemudian dia membangun kembali kerajaan sambil menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok daerah, dibantu oleh saudagar arab sambil berdagang. Namun istana kerajaan yang diciptakan oleh Prabu Siliwangi tidak dirubah, dengan maksud pada akhir nanti anak cucu atau generasi muda akan tahu bahwa itu adalah peninggalan sejarah nenek moyangnya.
Sekarang lokasi istana itu disebut Kebun Raya Bogor. Pada tahun 1372 Masehi Prabu Kiansantang menyebarkan agama Islam di Galuh Pakuwan dan dia sendiri yang mengkhitanan orang yang masuk agama Islam. Tahun 1400 Masehi, Prabu Kiansantang diangkat menjadi Raja Pajajaran menggantikan Prabu Munding Kawati atau Prabu Anapakem I. Namun Prabu Kiansantang tidak lama menjadi raja karena mendapat ilham harus uzlah, pindah dari tempat yang ramai ketempat yang sepi.
Dalam uzlah itu beliau diminta agar bertafakur untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam rangka mahabah dan mencapai kema’rifatan. Kepada beliau dimintakan untuk memilih tempat tafakur dari ke 3 tempat yaitu Gunung Ceremai, Gunung Tasikmalaya, atau Gunung Suci Garut. Waktu uzlah harus dibawa peti yang berisikan tanah pusaka. Peti itu untuk dijadikan tanda atau petunjuk tempat bertafakur nanti, apabila tiba disatu tempat peti itu godeg/ berubah, maka disanalah tempat dia tafakur, dan kemudian nama Kiansantang harus diganti dengan Sunan Rohmat. Sebelum uzlah Prabu Kiansantang menyerahkan tahta kerajaan kepada Prabu Panatayuda putra tunggal Prabu Munding Kawati. Setelah selesai serah terima tahta kerajaan dengan Prabu Panatayuda, maka berangkatlah Prabu Kiansantang meninggalkan Pajajaran.
Yang dituju pertama kali adalah gunung Ceremai. Tiba disana lalu peti disimpan diatas tanah, namun peti itu tidak godeg alias berubah. Prabu Kiansantang kemudian berangkat lagi ke gunung Tasikmalaya, disana juga peti tidak berubah. Akhirnya Prabu Kiansantang memutuskan untuk berangkat ke gunung Suci Garut. Setibanya di gunung Suci Garut peti itu disimpan diatas tanah secara tiba-tiba berubah/ godeg.
Dengan godegnya peti tersebut, itu berarti petunjuk kepada Prabu Kiansantang bahwa ditempat itulah, beliau harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat itu kini diberi nama Makam Godog. Prabu Kiansantang bertafakur selama 19 tahun. Sempat mendirikan Mesjid yang disebut Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kiansantang namanya diganti menjadi Syech Sunan Rohmat Suci dan tempatnya menjadi Godog Karamat. Beliau wafat pada tahun 1419 M atau tahun 849 Hijriah. Syeh Sunan Rohmat Suci wafat ditempat itu yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog.
GODOG SUCI
Menurut Sejarah Limbangan, bahwa pada awal abad 16 M daerah Godog Suci adalah pusat dari penyebaran agama Islam untuk untuk wilayah tatar Garut dan sekitarnya.Saat itu penyebaran agama Islam dilakukan oleh Raja Sangara bersama para pengikut setianya yang terdiri dari para bangsawan Sunda yang telah memeluk agama Islam, baik yangi ikut bersamanya selama di perjalanan dari Cirebon, maupun bangsawan dari daerah Godog Suci dan sekitarnya, seperti Dalem Pagerjaya, Sarepen Agung dan yang lainnya.
Di daerah Garut (menurut Sejarah Godog) Raja Sagara terkenal dengan sebutan Prabu Kiansantang atau Sunan Rohmat Suci, putra Prabu Jaya Dewata/ Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi, Raja Pakuan Pajajaran 1482 – 1521 M. Beliau adalah paman dari Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati putra Syekh Syarif Abdullah dengan Nyimas Hj.Syarifah Mudaim (Nyimas Rara Santang).
Di antara salah satu bangsawan Sunda yang telah memeluk agama Islam dan juga masih termasuk pengikut setia Raja Sangara adalah Prabu Wijayakusumah atau Adipati Limansenjaya Kusumah (Sunan Cipancar Limbangan) putra Prabu Hande Limansenjaya, yang pada tahun 1525 M menggantikan ayahnya sebagai penguasa Kerajaan Galeuh Pakuan (Limbangan). Dan pada tahun itu pula Kerajaan Galeuh Pakuan berubah menjadi Kabupaten Limbangan.
Yang menjadi Bupatinya sebagaimana tercatat pada fatsal 8 no.1, bundel 13 Preanger Regentschappen adalah Adipati Jaya alias Limansenjayakusumah/Sunan Cipancar, Bupati Limbangan (Galih Pakuan).
Perjalanan dakwah Islam Raja Sangara dan para pengikutnya tersebut dilakukan ke arah Selatan, seperti Sancang (Pameungpeuk), Kandangwesi (Bungbulang), Timbanganten (Tarogong-Leles), Panembong (Bayongbong) dan Batuwangi ( Cikajang ).
Setelah Raja Sangara dan para pengikutnya wafat, penyebaran agama Islam dilanjutkan oleh para seuweu siwi Dalem Pagerjaya, Sarepen Agung dan yang lainnya. Pada abad 16/17 M di daerah Suci tak ada catatan tertulis tokoh Kyai/ulama, sebelum lahirnya Embah Nuryayi.
Bersambung
Mengupas Sejarah Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat Godog Suci Garut)






