KARANGWANGI, CIREBON, IO – Setelah 24 tahun berdiri, SMP Al Falah di Desa Karangwangi, Kecamatan Karangwangi, Kabupaten Cirebon, terus tumbuh. Pada tahun ajaran 2026 jumlah siswa mencapai 343 orang. Angka ini meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya, menandakan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah swasta berbasis agama ini semakin kuat.
SMP Al Falah didirikan pada tahun 2002. Sejak awal berdirinya hingga kini, sekolah ini sudah dipimpin oleh empat kepala sekolah. Pergantian kepemimpinan tidak menghalangi konsistensi sekolah dalam menjaga mutu pendidikan, terutama di bidang pembinaan akhlak dan kegiatan keagamaan.
Fokus Pendidikan Agama Jadi Daya Tarik Orang Tua
Salah satu keunggulan SMP Al Falah adalah kegiatan rutin bernuansa Islami yang dijalankan setiap hari. Aktivitas dimulai pagi hari dengan mengaji bersama dan pembacaan Surat Yasin. Tepat pukul 10.00 WIB, seluruh siswa melaksanakan sholat Dhuha berjamaah di masjid sekolah,di lanjut sholat dhuhur berjamaah.
“Orang tua sangat senang karena sekolah di sini agamis dan banyak kegiatannya. Mereka paham betul betapa pentingnya akhlak dan pembinaan agama bagi anak. Itu jadi nilai plus di mata masyarakat,” ungkap Kepala Sekolah SMP Al Falah, Rudi B. Hafidz, S.Ag.
Selain pembinaan spiritual, SMP Al Falah juga dikenal sebagai sekolah yang meringankan beban ekonomi orang tua. Saat penerimaan siswa baru (SPMB) sekolah menggratiskan tiga hal utama: biaya pendaftaran, seragam, dan buku tulis. Setiap siswa baru juga menerima satu paket buku pelajaran dan seragam biru putih secara cuma-cuma.
“Menyekolahkan anak di sini bisa dibilang irit. Orang tua tidak perlu pusing mikirin biaya awal masuk. Kami ingin pendidikan tetap bisa diakses semua kalangan,” jelas Pa Rudi.
Bantuan Terakhir Tahun 2020, Kondisi Ruang Kelas Memprihatinkan
Meski jumlah siswa terus bertambah, SMP Al Falah masih menghadapi kendala sarana dan prasarana. Sejak berdiri, sekolah hanya pernah menerima bantuan rehab dari Dinas Pendidikan sebanyak satu kali, yaitu pada tahun 2020. Bantuan tersebut digunakan untuk memperbaiki tiga ruang kelas.
“Sampai sekarang belum ada lagi bantuan. Padahal kondisi ruang kelas kami sudah mulai rapuh, sebagian atap bocor kalau hujan deras. Toilet siswa juga masih sangat minim, tidak sebanding dengan jumlah anak yang sekarang 343 orang,” kata Pa Rudi.
Kondisi ini membuat pihak sekolah berharap ada perhatian lebih dari Dinas Pendidikan dan pemerintah daerah. Menurutnya, peningkatan jumlah siswa harus diimbangi dengan perbaikan fasilitas agar proses belajar mengajar tetap nyaman dan aman.
Harapan: Sinergi Masyarakat dan Perhatian Pemerintah
Pa Rudi menekankan bahwa kemajuan SMP Al Falah tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan masyarakat Karangwangi menjadi faktor utama.
“Maju mundurnya sekolah ini ada di tangan orang tua, terutama masyarakat Karangwangi sendiri. Kami harus saling bersinergi. Kalau masyarakat percaya dan mendukung, insya Allah SMP Al Falah bisa terus berkembang dan sukses dalam SPMB ke depan,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kebutuhan sekolah swasta yang selama ini turut membantu mencerdaskan anak bangsa.
“Pendidikan itu tanggung jawab bersama. Kami mohon Dinas terkait memperhatikan kondisi kami. Toilet siswa kurang, ruang kelas bocor. Anak-anak butuh tempat belajar yang layak,” tutur Pa Rudi.
Dengan jumlah siswa yang terus meningkat, kegiatan keagamaan yang konsisten, serta kebijakan bebas biaya pendaftaran dan perlengkapan, SMP Al Falah membuktikan bahwa sekolah swasta di pelosok pun bisa menjadi pilihan utama masyarakat. Kini, tinggal menunggu uluran tangan pihak terkait agar mimpi memiliki sarana belajar yang layak segera terwujud.
Rep. Ginanjar Syobit
SMP Al Falah Karangwangi Bertahan 24 Tahun, Fokus Pendidikan Agama dan Bebas Biaya serta Masih Butuh Perhatian Insfrastruktur









