TEBING TINGGI, idisionline.com – Nasib memprihatinkan dialami Sapridah (61 tahun), warga Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Tambangan, Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi. Sebagai lansia yang menderita sakit struk ringan, kondisi fisiknya kini sangat terbatas. Ia sama sekali tak mampu bergerak sendiri dan harus selalu digendong atau dibantu orang lain hanya untuk beraktivitas sehari-hari. Kondisi memilukan ini terungkap saat awak media mendatangi kediamannya pada Sabtu (16/05/2026).
Ibu Sapridah diketahui hanya memiliki 1 orang anak. Untuk menjalani hidupnya sehari-hari, ia sepenuhnya menggantungkan nasib pada anak dan menantunya, Sahat (35), yang berprofesi sebagai buruh harian dengan penghasilan yang sangat pas-pasan. Ironisnya, meski kondisi ekonomi keluarga ini sangat memprihatinkan, ternyata baik Ibu Sapridah maupun anak dan menantunya sama sekali tidak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah.
Saat ditemui, Sapridah menceritakan rasa sedih, kecewa, dan rasa bersalah yang mendalam. Ia tak tega melihat menantunya bekerja keras memikul beban keluarga sendirian, sementara penghasilannya tidak seberapa, padahal juga harus membesarkan keempat cucunya yang masih bersekolah.
“Sekarang, makan minum saya, hidup saya, semuanya saya gantungkan pada anak dan menantu saya. Dia satu-satunya anak saya, dan menantu saya cuma seorang buruh. Dia yang memikul beban saya, padahal gajinya sangat kecil, pas-pasan saja. Belum lagi dia harus membesarkan dan memberi makan keempat anaknya. Hati ini benar-benar perih melihatnya bekerja keras memikul kami sekeluarga. Saya kasihan, Nak…. Saya merasa seperti beban berat yang menindih hidupnya. Padahal kami sekeluarga ini tidak dapat bantuan apa pun, sama sekali tidak ada,” ungkap Sapridah dengan suara terbata-bata dan mata berkaca-kaca.
Penderitaan Ibu Sapridah dan keluarganya terasa bertambah dengan ketidakjelasan urusan administrasi. Padahal, pihak Kepala Lingkungan (Kepling) setempat diketahui sudah datang ke rumah dan mengumpulkan data dirinya beberapa waktu lalu dengan tujuan agar namanya dimasukkan ke dalam daftar penerima bantuan. Namun, sampai saat ini tak ada kabar atau kejelasan apa pun mengenai nasib data tersebut.
Menantunya, Sahat, membenarkan hal itu dan mengaku sangat berharap ada bantuan, baik berupa sembako, bantuan tunai, maupun perlengkapan kesehatan guna meringankan beban keluarganya. Menurutnya, sebagai buruh, penghasilannya sangat bergantung pada ada tidaknya pekerjaan, sehingga sangat sulit untuk menutup semua kebutuhan hidup dan biaya pengobatan mertuanya yang sakit-sakitan.
“Padahal Kepling sudah ke rumah saya dan meminta data mamak saya supaya dapat bantuan, namun sampai sekarang tidak ada kejelasan sama sekali. Kami sekeluarga ini memang tidak dapat bantuan apa-apa, padahal penghasilan saya sebagai buruh tidak menentu dan sangat sulit untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Sahat dengan nada kecewa.
Kasus ini pun memicu pertanyaan keras dan kekecewaan warga sekitar. Mereka mempertanyakan kinerja Kepala Lingkungan selaku ujung tombak pelayanan dan pendataan di tingkat masyarakat. Warga menilai peran Kepling sangat krusial dalam mendata warga yang benar-benar membutuhkan, namun kenyataannya banyak data warga miskin dan lansia sakit seperti Sapridah justru terabaikan atau nasibnya menjadi tidak jelas setelah diserahkan ke pihak kelurahan.
Tak hanya itu, warga juga menyoroti kejanggalan kriteria penerima bantuan sosial yang dirasa belum transparan dan akurat. Banyak warga yang kondisi ekonominya kurang mampu, berpenghasilan rendah, atau memiliki kebutuhan khusus justru tidak terdata, sementara warga yang dianggap mampu secara ekonomi malah tercatat sebagai penerima bantuan.
Warga pun menuntut adanya pembaruan data yang jujur, akurat, dan transparan, agar hak warga yang benar-benar sakit, tua, dan tak berdaya seperti Sapridah bisa terpenuhi.
“Seharusnya Kepling lebih peka, lihat kondisi fisik Ibu Sapridah ini saja, jelas-jelas butuh bantuan. Keluarganya pun hanya mengandalkan seorang buruh, dan mereka sama sekali tidak dapat bantuan apa pun. Kenapa data sudah dikumpulkan tapi tak ada hasilnya? Kami minta ada kejelasan, jangan sampai hak warga hilang begitu saja,” tegas salah seorang tetangga yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Kepling maupun Kelurahan Tambangan terkait kasus ini. Warga berharap Dinas Sosial Kota Tebing Tinggi segera melakukan pengecekan ulang, memverifikasi kondisi Sapridah dan keluarganya, serta memperbarui data penerima bantuan agar tepat sasaran, transparan, dan benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.







