Featured

Diduga Utak Atik Dapodik, Jumlah Siswa SMK Al-Qudsy Cibatu Garut Tak Sesuai Fakta?

×

Diduga Utak Atik Dapodik, Jumlah Siswa SMK Al-Qudsy Cibatu Garut Tak Sesuai Fakta?

Sebarkan artikel ini

Garut, www.idisionline.com/ – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Al Qudsy yang terletak di Desa Girimukti, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) miliki siswa/ peserta didik sebanyak 153 orang.

Namun faktanya, jumlah siswa sebanyak itu berbanding terbalik dengan keterangan yang didapat awak media saat lakukan pantauan di lokasi Sekolah yang tak miliki plang nama Sekolah itu.

Sejumlah Siswa yang berhasil di wawancarai menyebut jumlah siswa aktif SMK Al Qudsy.

“Untuk jumlah siswa secara keseluruhan tidak lebih dari 60 Siswa, terbagi kelas 10, 11 dan 12” Ucap siswa yang enggan menyebut nama.

Dari total jumlah Siswa yang disebutkan sumber informasi tersebut jelas terdapat perbandingan yang cukup signifikan dengan yang tercantum dalam Dapodik, sehingga menguatkan dugaan pihak sekolah lakukan Mark up jumlah siswa.

Ketika hal tersebut dilakukan konfirmasi, awak media sambangi SMK Al Qudsy, Jumat (10/02/2023), Kepala SMK tersebut, M.Faridudin di dampingi Wakaseknya Hasan, memaparkan ihwal tersebut.

“Siswa yang ada seluruhnya memang 153 yang tercatat dalam Dapodik, meski ada Dua orang siswa yang belum bisa masuk dalam sistim karena terkendala data. Jadi yang tercover dana BOS hanya 150 Siswa” paparnya.

Lebih lanjut Faridudin berkilah bahwa siswa saat ini setelah Covid jadi jarang masuk sekolah.

“Jika faktanya siswa terlihat sedikit, memang setelah Covid belajar di rumah, siswa jadi jarang masuk dan terlihat pada saat kegiatan belajar siswa sedikit” kilahnya.

Pernyataan kepala SMK Al Qudsy itu pun dibenarkan Wakilnya, Hasan

“Kami memiliki 6 ruang belajar, jika satu ruang diisi 20 Siswa saja minimalnya, jumlah siswa sudah lebih dari 100, tidak mungkin siswa kami kurang dari 60 kang” timpal Hasan.

Sungguh miris jika melihat dari kondisi Sekolah yang terkesan tak terawat itu, kendati program pemerintah baik melalui dana BOS, PIP Reguler dan PIP Aspirasi terus berjalan.

Bahkan menurut Hasan sebagai Wakil kepala Sekolah, dari PIP aspirasi siswa penerima dibayarkan tunggakan SPP.

“Ada sekitar 40 siswa penerima PIP aspirasi, terpaksa kami potong untuk membayar tunggakan SPP yang tiap bulannya dikenakan 100 ribu/ siswa” imbuh Hasan.

Potret dunia pendidikan yang disuguhkan di SMK Al Qudsy itu dipandang patut mendapat perhatian pihak KCD Wilayah XI Kabupaten Garut, jangan sampai sekolah hanya dijadikan ajang bisnis semata, dugaan utak atik Dapodik jadi intrik rogoh dana BOS?

*** Heryawan Azizi

Info Lainnya  Caleg PKB Dapil 5 Iceu Hendayani Hadiri pelepasan siswa siswi kelas 12 SMAN 2 Majalaya angkatan 14

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!