Kab. Sukabumi, IDISIONLINE.COM,-
Sudah jatuh tertimpa tangga. Ini adalah salah satu pribahasa yang saat ini tepat di sematkan untuk Kampung Ciherang, Desa Cijangkar, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi – Jawa Barat.
Pasalnya, semua orang sedang berpacu melawan dahsyatnya pandemi covid-19, baik yang terdampak langsung maupun tidak langsung oleh virus Corona, wilayah tersebut mengalami bencana yang cukup signifikan.
Yaitu pergeseran tanah yang telah membelah tanah di beberapa titik di daerah tersebut.
Dari informasi yang dapat di himpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Sukabumi mencatat setidaknya sejumlah puluhan rumah dan lebih dari 400 warga di perkirakan terdampak oleh bencana pergerakan tanah tersebut.
Data BPBD Sukabumi menemukan bencana pergerakan tanah yang melanda wilayah tersebut mengakibatkan 21 rumah tidak bisa dihuni. Puluhan rumah ini ditinggali 24 Kepala Keluarga (KK) terdiri atas 58 orang.
Tidak hanya fasilitas milik warga yang rusak dan terancam, fasilitas umum di Kampung Ciherang seperti SDN Ciherang, masjid, MCK, musala dan lainnya pun terancam. Bahkan, jika pergerakan tanah semakin masif maka tidak menutup kemungkinan fasilitas lainnya ikut terdampak.
Sementara terdapat 108 rumah yang dihuni 122 KK atau 392 yang terancam bencana pergerakan tanah.Dampak dari bencana itu pun sebanyak 57 KK atau 170 jiwa mengungsi dengan rincian 20 KK atau 66 jiwa mengungsi di bangunan SD dan sisanya atau 37 KK (104 orang) mengungsi di rumah kerabat.
Menurut warga setempat bahwa di daerah tersebut hampir setiap hari pergerakan tanah terjadi mulai dari longsor hingga amblas. Bahkan retakan tanah terus melebar sehingga banyak rumah warga yang amblas dan rusak berat. Bahkan wargapun sering dikejutkan oleh dentuman dari wilayah bencana tersebut.
Catatan BPBD Sukabumi, retakan tanah di kampung tersebut rata-rata sekitar satu hingga lima meter dengan kedalaman berbeda antara 0,5 hingga tujuh meter. Sementara jalan lingkungan dari arah Jalan Cibodas ke Ciherang pun mulai hancur.

Ditambah lagi, adanya tebing yang setiap harinya mengalami longsor serta retakan di jalan tersebut pun melebar serta memporak porandakan jalan penghubung antar-desa. Akhirnya saat ini akses tersebut sulit dilalui kendaraan khususnya roda empat.
Demi mengantisipasi kondisi memburuk, sebanyak 14 rumah terpaksa dibongkar karena amblas akibat retakan tanah yang kian lebar. Rumah-rumah yang terpaksa diratakan itu sudah tidak lagi bisa dihuni.
Menurut PLH Bupati Sukabumi Zainul dari hasil kajian tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menemukan bencana pergerakan tanah di Kampung Ciherang masuk dalam kategori sedang hingga tinggi.
PVMBG merekomendasikan agar warga yang tinggal di lokasi bencana untuk direlokasi. Pemkab kini berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menetapkan lahan milik PTPN sebagai titik relokasi warga.
Reporter : Agus Pren





