BANDUNG, Idisi Online – Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat (Jabar) menyelenggarakan Training of Trainers (Pelatihan untuk Pelatih) Jenjang Sekolah Luar Biasa (SLB).
Bekerja sama dengan Self Learning Institute, pelatihan yang diikuti 40 pelatih dari berbagai SLB di Jabar ini bertujuan memperkuat pendidikan inklusif yang berkualitas bagi seluruh peserta didik berkebutuhan khusus.
“Program ini dirancang untuk membentuk pribadi yang mandiri, mampu menyesuaikan diri, meregulasi perilaku serta memiliki keterampilan relevan sesuai kekhususan masing-masing,” ujar Kadisdik Jabar, Purwanto di Eco Camp, Kab. Bandung, Selasa (18/11/2025).
Kadisdik menjelaskan, para peserta nantinya akan melaksanakan in house training di satuan pendidikan SLB masing-masing sepanjang tahun 2025. “Program ini menjadi bagian dari ikhtiar Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menghadirkan pendidikan karakter Pancawaluya sebagai standar karakter, moral, perilaku, dan kompetensi belajar di Jawa Barat,” ungkapnya.
Sedangkan Direktur Self Learning Institute, Moch. Irvan Efrizal menyampaikan, penerapan pendidikan karakter Pancawaluya di SLB memiliki tantangan tersendiri karena karakteristik siswa yang beragam.
“SLB memiliki jenjang dari TK hingga SMA dengan latar belakang keterbatasan yang berbeda. Karena itu, pelatih harus mampu merelevansikan Pancawaluya dalam strategi pembelajaran melalui pemahaman potensi, asesmen kepribadian, dan karakteristik setiap peserta didik,” ucapnya.
Sementara itu, Koordinator Pengawas SLB Jabar, Deded Koswara mengungkapkan, pendidikan karakter Pancawaluya memberikan peluang besar bagi peningkatan kemandirian peserta didik berkebutuhan khusus.
“Karena pendampingan di SLB berlangsung sejak pra-sekolah hingga menengah, penerapan Pancawaluya dapat berjalan berkesinambungan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan pendidikan di SLB memiliki perbedaan mendasar dibandingkan sekolah umum. “Pembelajaran dilakukan melalui pendekatan konstruktivisme, di mana pengetahuan tidak hanya diberikan, melainkan dibangun melalui pengalaman dan situasi nyata,” ungkapnya.
Dengan demikian, lanjutnya, Pancawaluya tidak hanya menjadi materi pengetahuan, tetapi menjadi praktik kehidupan sehari-hari yang mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan di masyarakat.
Redaksi IO, Imul
Sumber Humas Disdik Jabar






