Bandung, idisionline.com – Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang dikelola Desa Mandalahaji, Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung, sejak berdiri sekitar Tahun 2018 hingga Tahun 2025, tercatat sudah menyedot modal usaha yang bersumber dari Dana Desa (DD) bernilai fantastis.

Akumulasi penyertaan modal yang digelontorkan Desa Mandalahaji dalam kurun waktu tersebut diperkirakan mencapai Rp. 608.865.000. Modal sebesar itu dinilai percuma lantaran usaha bumdes tak buahkan hasil alias mandul.



Berikut data rincian alokasi penyertaan modal yang tercatat, pada Tahun 2025, sebesar Rp 348.500.000- Tahun
2021.Rp 40.000.000- Tahun
2020.Rp 68.255.000- Tahun
2019, Rp 39.610.000- Tahun
2018, untuk Pelatihan Pengelolaan BUM Desa (Pelatihan yang dilaksanakan oleh Desa) Rp 10.000.000- dan modal BUMDesa, Rp 102.500.000.

Suntikan modal serta penggunaan Dana yang seharusnya dibuka ke Publik itu, malah terkesan ditutupi. Sekertaris Desa Mandalahaji, Iwan saat diminta konfirmasi awak media, Kamis (10/09/2026) memilih bungkam dan menghindar dari pertanyaan Wartawan.

Lebih aneh lagi saat Iwan berkilah, dengan mengatakan bahwa dirinya hanya diperbantukan di Desa, bukan menjsbat sebagai Sekdes.

“Saya hanya diperbantukan di Desa, tapi anggap saja saya Sekdes.
Setahu saya penyertaan modal untuk Bumdes baru sekali. itu data yang dibawa dari mana, sudah ada ijin belum. Saya tidak bisa menjelaskan tanpa ijin pak Kades”kilahnya.

Seolah tidak faham tupoksi  jabatanya sebagai Sekdes, Iwan juga terkesan berkelit dan menghindari saat dicecar  wartawan.

“Tidak pernah ada Pendapatan yang dihasilkan dari Bumdes, silahkan saja tanya ke Ketuanya pak Atang. Cukup ya saya masih banyak acara”ucapnya seraya pergi.

Berhasil ditemui terpisah dikediamannya, Direktur Bumdes, Atang memaparkan tata kelola Bumdes Mandalahaji sejak dirinya menjabat.

“Saya diberi kepercayaan menjabat Direktur Bumdes baru tahun lalu ketika program ketahanan pangan bergulir, dikelola Bumdes. Penyertaan modal yang diterima sekitar Rp. 348 juta. Rencana awal modal untuk usaha budidaya Lele dan jual beli padi/beras”jelasnya.

Dalam praktiknya modal dan usaha yang dikelola Bumdes malah dikeluhkan Atang, banyak kendala yang dihadapi hingga berualang alami kerugian.

“Terus terang saya merasa kewalahan mengelola modal  dengan bidang usaha yang bukan pengajuan saya. Budidaya lele yang tersebar di 3 lokasi sudah 5 kali panen alami rugi. Modal untuk gabah yang dialihkan untuk biaya perawatan sumber air, berubah usaha jadi jual beli beras. Modal kian menipis sementara, cuma bisa buat bertahan saja”ungkapnya.

Pantauan awak media pada salah satu kolam lele diatas lahan yang diketahui milik Kades. Terpantau sudah kosong tidak ada isinya. menurut Atang, sengaja di stop dulu karena faktor cuaca dan air yang tidak mendukung.

“Dari 9 kolam lele yang dibuat, sebagian memang sudah tidak diisi karena banyak kendala termasuk cuaca dan air, untuk sewa lahan saja tidak memadai. Untung pak Kades meminjamkan lahan ini”tuturnya.

Disinggung perihal Serah terima jabatan Direktur Bumdes, Atang mengaku tidak ada Sertijab dan aset yang diserahterimakan.

“Hanya sumber air usaha yang diwariskan, itupun pas saya menjabat harus keluar modal lebih dari 50 juta. Serahterima jabatan dan aset dari kepengurusan terdahulu, tidak ada. Saya fikir bakal ada penghasilan urus Bumdes, gak taunnya malah seperti ini” keluh Atang

Sementara itu, Kepala Desa Mandalahaji, Endang Jumara saat hendak dikonfirmasi Dikantornya  saat itu, terlihat tengah sibuk dalam kegiatan pembagian bantuan pangan.

Berhasil terhubung melalui pesan WhatsApp, Endang seolah enggan memberi penjelasan lewat seluler. pihaknya meminta bertemu  untuk memberi klarifikasi. Sayangnya Endang tidak menentukan kapan waktu bisa bertemu.

“Untuk klarifikasi terkait hal tersebut, baiknya langsung ketemu agar lebih jelas. Nanti waktunya saya kabari kembali jika sudah senggang”tutupnya mengakhiri percakapan WhatsApp.

***Her

Info Lainnya  Kades Cipancar Leles Garut Akui Lolos Seleksi P3K, Terindikasi Unprosedural Cacat Formil