Oleh: Reni Sumarni
Kabar berita yang tengah beredar di masyarakat saat ini tentang penetapan bantuan pemerintah yang disesuaikan dengan angka desil, imbasnya masyarakat semakin resah karena ketakutan tidak mendapat bantuan.
Padahal jelas ekonomi saat ini sedang dalam masa sulit.
Masyarakat mulai ragu dengan hasil desil mereka yang tercatat di Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Meskipun pemerintah menyatakan bahwa angka desil bukan ukuran absolut kemiskinan, akan tetapi nyatanya masyarkat resah. Apalagi yang terdata angka desil 9 dan 10 maka ditetapkan sebagai warga yang mampu dan tidak berhak mendapat bantuan. Padahal bisa saja ada kekeliruan saat mendata saking banyaknya warga dan membuat petugas sensus pun kadang bisa salah melaporkan data.

Aturan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan faktanya hanya membuat polemik di tengah masyarakat yang tidak ada hentinya. Untuk apa pemerintah terus melakukan pendataan tapi pada dasarnya bantuan tetap tidak dirasakan dan diterima masyarakat bahkan kemiskinan terus meningkat?
Terjadinya polemik ini tidak lain dan tidak bukan karena sistem yang diterapkan bukan dari Islam. Setiap masalah yang ada bukan dicari akar masalahnya tapi malah semakin menambah masalah baru. Sistem kapitalis telah gagal membuat rakyat sejahtera karena definisi miskin dalam kapitalis dinilai dari angka bukan dari kenyataan. Sementara angka bisa di manipulasi, meskipun fakta rakyat yang kelaparan jelas terbukti bahkan yang berujung pada kematian.
Di sisi lain, standar kaya yang dibeberkan oleh pemerintah membuat rakyat Indonesia semakin geram, dimana gaji seorang kepala keluarga tiga juta perbulan bahkan dua juta sudah dikategorikan kaya dan tidak berhak mendapat bantuan. Padahal dari penghasilan dua juta perbulan mereka harus menghidupi 4 atau 3 jiwa bahkan bisa lebih dari itu. Sungguh hidup di tengah sistem kapitalis membuat akal manusia diluar nalar.
Sistem ekonomi kapitalistik di Indonesia membuat kepemilikan SDA kita berpindah kepada pihak kapitalis atau oligarki dimana keuntungan pengelolaan SDA hasilnya bukan untuk rakyat tapi untuk para oligarki. Alhasil kemiskinan akan terus jadi problem di negeri ini karena pemasukan negara yang bersumber dari SDA hasilnya seharusnya untuk rakyat,nyatanya masuk ke dalam kantong para oligarki.
Semua ini menunjukkan kebijakan yang ditetapkan pemerintah tidak bisa memberikan solusi jangka panjang. Yang ada semua itu hanyalah tambal sulam. Perubahan ekonomi rakyat sejahtera bukan hanya diberi bantuan saja, akan tetapi kebutuhan yang lainnya harus terpenuhi, dengan cara rakyat mudah menjangkau kebutuhan-kebutuhan mereka. Sepertinya mustahil masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan di negeri ini bisa memenuhi seluruh kebutuhan hanya dari bantuan pemerintah saja.
Solusi yang ditawarkan Islam untuk mengatasi polemik desil semata-mata bukan dilihat dari angka. Siapapun yang dalam keadaan sulit memenuhi kebutuhan asasi, terkategori miskin. Dan jelas bahwa seorang pemimpin atau kepala negara beserta jajarannya adalah raa’in yaitu bertugas melayani dan mengurusi urusan umat guna memenuhi seluruh kebutuhan rakyat tanpa terkecuali.
Negara atau pemerintahan Islam tahu akan fungsi mereka di tengah umat, maka dari itu untuk memenuhi kebutuhan rakyat pemerintah Islam sudah menyediakan dana dalam sebuah lembaga yaitu baitul mal, yang akan disalurkan ke setiap tempat atau kepada masyarakat yang membutuhkan. Dan kategori yang berhak mendapat bantuan atau zakat dalam Islam tentunya jelas yaitu kehidupannya dibawah standar layak.
Sumber Daya Alam dalam Islam juga tentunya akan dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kemaslahatan umat, hingga pada akhirnya rakyat tidak akan ada yang hidup dalam kemiskinan. Kesejahteraan akan didapatkan apabila negara benar dalam mengurusi SDA. Tertoreh dalam sejarah, saat daulah Islam tegak saat itu, negara bingung mencari fakir miskin untuk diberi harta dari baitul mal dan nyatanya saat itu masyarakat hidup dalam kesejahteraan dan tidak ada yang menjadi penerima zakat dari baitul mal.
Tentu saja berbeda dengan kondisi saat ini banyak rakyat yang membutuhkan bantuan tapi negara tidak memiliki harta untuk diberikan kepada rakyatnya. Dari sini kita bisa lihat bagaimana sistem Islam diterapkan hingga ke penjuru dunia dan nyaris saat Islam tegak kesejahteraan bisa dirasakan oleh rakyatnya. Bahkan seorang pemimpin negara sekelas Umar bin Khatab rela memanggul sendiri gandum untuk diberikan kepada seorang ibu yang tidak memiliki makanan sedikit pun untuk keluarganya.
Hanya Islamlah satu-satunya solusi untuk segala macam persoalan umat. Tapi untuk mewujudkan semua itu bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan menegakkan kembali syariat Islam yaitu dengan dakwah untuk memahamkan kepada umat agar mau diterapkan sistem Islam. Dan bukan hal yang mustahil Islam diterapkan sehingga hidup umat akan sejahtera. Dan itu sudah terbukti pada masa kepemimpinan Islam yang berawal dari tegaknya Islam di Madinah atas perjuangan Rasulullah saw dan kaum Muslim tentunya. Wallahu A’lam bishshowab.








