Bandung – idisionline.com || Tata Kelola Program ketahanan pangan (Ketapang) yang sejatinya bisa mendongkrak ekonomi warga Desa Malakasari, Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, namun sejauh ini terkesan masih simpang siur.
Penelusuran awak media guna mendapat informasi terkait hal itu, sambangi kantor Desa, nyaris terhalang dan menunggu cukup lama terkesan hindari wawancara wartawan dengan berbagai alasan.
“Maaf pak Sekdes sedang rapat dan banyak kerjaan kalau mau wawancara baiknya dengan pak Kades saja nanti” ucap kasi pemerintahan Desa.
Akhirnya berhasil ditemui diruang kerjanya, Sekretaris Desa (Sekdes) Ali, Kamis (06/08/2026). Ali saat itu tengah santai dan memberi penjelasan terkait pengelolaan Bumdes.
“Maaf memang tadi saya rapat diatas dengan BPD, pak Kades sedang tidak ada. Kalau pengelolaan Bumdes setahu saya sejak menjabat di Tahun 2022 saja. Penyertaan modal memang ada tiap tahun, awalnya untuk usaha internet dan gas elpiji”kilah Ali.
Ditambahkan Ali untuk program Ketahanan pangan di tahun 2025, untuk penggemukan sapi yang dikelola Bumdes.
“Untuk program ketapang, Bumdes ajukan usaha penggemukan sapi, dengan penyertaan modal sekitar 290 juta membeli 12 ekor sapi. Semua sudah terjual di lebaran qurban. Silahkan bisa konfirmasi dan ke pak Tata ketua bumdesnya” imbuh Ali.
Berhasil tersambung melalui selulernya, Direktur Bumdes Malakasari, Tata malah menuturkan penjelasan berbeda dengan fakta yang ada.
Dia menyebut bahwa Sapi yang terbeli dari modal tersebut 11 Ekor, sudah dijual semua jadi sekarang dikandang kosong.

“Dari penyertaan modal tersebut, dibelikan sapi 11 ekor dan pembuatan kandang. Tapi sekarang kandangnya kosong karena sapi sudah terjual, belum dibelajakan lagi. Untuk jumlah hasil penjualan nanti saya liat data dulu. Tunggu saja dikantor Desa, sebentar saya ke Desa” ucap Tata.
Ditunggu lama dikantor Desa Tata tak kunjung datang seolah sengaja berdalih saja. Sementara anehnya pantauan awak media di kandang sapi Bumdes, didapati 8 ekor sapi masih ada disana.
Simpang siurnya informasi yang dilontarkan pejabat publik Desa Malakasari, kian menambah kecurigaan serta persepsi negatif atas tata kelola Bumdes yang terkesan tidak beres. Seperti penyertaan modal tahun sebelumnya yang dikabarkan gulung tikar.***
Sejauh ini Kepala Desa Malakasari serta pihak terkait lainnya belum dapat ditemui untuk diminta keterangannya.
***Her














