Kab. Bandung, Idisi Online – Pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Kampung Rancakole RT 01 RW 03, Desa Rancakole, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, mendapat sorotan dari warga.
Proyek peningkatan jaringan irigasi Daerah Irigasi Bojong yang telah berjalan sekitar tiga minggu itu dinilai dikerjakan tidak sesuai harapan. Warga menduga ada pengurangan mutu pekerjaan serta minimnya pengawasan di lapangan.
Proyek yang berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan SDA Citarum ini bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Nilai bantuan yang disalurkan sebesar Rp195.000.000.
Berdasarkan papan informasi proyek dengan nomor kontrak HK.02.01/PPK OPSDA III-Av/P3TGAI/03/2026, kegiatan ini memiliki durasi 45 hari kalender dan dilaksanakan secara swakelola oleh Kelompok Tani P3A Sobat Petani.
Minim Pengawasan dan Jumlah Pekerja Berkurang
Pantauan di lokasi menunjukkan pengawasan dari pihak terkait masih minim. Pelaksana maupun pengawas teknis belum terlihat mendampingi pekerjaan secara rutin.
Padahal, sesuai prosedur, pendamping dari BBWS Citarum bernama Meta memiliki tanggung jawab memastikan pekerjaan fisik sesuai dengan Petunjuk Teknis dan Rencana Anggaran Biaya.
Selain itu, jumlah tenaga kerja di lapangan juga mengalami penurunan. Pada awal pengerjaan, proyek swakelola ini menyerap hingga 20 orang. Saat ini jumlahnya tersisa sekitar 10 orang.
Untuk pengupahan, pekerja harian dibayar Rp120.000 untuk posisi tukang dan Rp100.000 untuk posisi laden.
Kualitas Pekerjaan Dipertanyakan
Secara teknis, pembangunan saluran irigasi ditargetkan sepanjang 490 meter dan dibagi menjadi dua sisi. Dimensi yang direncanakan adalah tinggi 80 cm, lebar atas 30 cm, lebar bawah 45 cm, dan lebar saluran air 60–80 cm.
Meskipun dimensi secara umum tampak sesuai, warga menyoroti kualitas adukan dan kerapian pasangan batu yang dinilai kurang maksimal. Hal ini dikhawatirkan dapat memengaruhi daya tahan struktur dalam jangka panjang.
Untuk material, hingga minggu ketiga tercatat sudah masuk 20 dump truck batu, 8 dump truck pasir pasang, serta sejumlah semen. Material tersebut disuplai dari wilayah Jalan Fakta dan Jembarmukti atau Cileutik.
Warga Minta Audit dan Evaluasi
Ketua P3A Sobat Petani, Edi, mengatakan pihaknya menerima sejumlah pertanyaan dari masyarakat terkait efisiensi dan transparansi penggunaan anggaran Rp195 juta tersebut.
Warga dan anggota kelompok tani berharap Satker OP SDA BBWS Citarum bersama tim independen segera turun ke lokasi. Mereka meminta dilakukan evaluasi, audit fisik, serta verifikasi kesesuaian pekerjaan di lapangan.
“Program ini menggunakan dana APBN. Kami berharap hasilnya benar-benar berkualitas dan tahan lama, sehingga bisa memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan petani di Desa Rancakole,” ujar salah seorang warga.
Tim







