KARAWANG – Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digelar di Desa Pinayungan, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya mendukung program prioritas pemerintah dalam pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta kelompok masyarakat rentan.
Kegiatan sosialisasi tersebut menghadirkan mitra kerja Komisi IX DPR RI, drg. Putih Sari, Ecan Frendisco, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) yaitu Tenaga Ahli Kepala BGN, Muhammad Sirod, sebagai narasumber.
Kehadiran para narasumber bertujuan memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat mengenai arah kebijakan, sasaran, manfaat, serta pentingnya dukungan bersama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Dalam sambutannya, drg. Putih Sari menyampaikan bahwa persoalan gizi masih menjadi salah satu tantangan besar yang harus mendapat perhatian serius dimana program ini digagas dan buat oleh Presiden Prabowo Subianto dengan tujuan sangat mulia.
Menurutnya, masalah gizi tidak hanya berdampak pada kesehatan anak dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Ia menegaskan, masih adanya kasus stunting menjadi pengingat bahwa pemenuhan gizi harus dilakukan secara serius, berkelanjutan, dan melibatkan banyak pihak. Karena itu, Program Makan Bergizi Gratis hadir sebagai salah satu langkah nyata pemerintah untuk memperkuat pemenuhan gizi sejak dini.
drg. Putih Sari menjelaskan bahwa Program MBG tidak hanya menyasar anak-anak sekolah. Saat ini, sasaran program MBG juga mencakup kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Menurutnya, perluasan sasaran tersebut sangat penting karena pencegahan stunting tidak bisa hanya dilakukan ketika anak sudah masuk usia sekolah. Pemenuhan gizi harus dimulai sejak masa kehamilan, masa menyusui, hingga usia balita yang dikenal sebagai periode emas tumbuh kembang anak.
“MBG bukan hanya untuk anak sekolah. Saat ini ibu hamil, ibu menyusui, dan balita juga menjadi sasaran penerima manfaat. Ini penting agar pencegahan stunting dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan,” ujar drg. Putih Sari.
Ia menerangkan, stunting bukan hanya berkaitan dengan kondisi tinggi badan anak, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan, daya tahan tubuh, perkembangan otak, kemampuan berpikir, konsentrasi belajar, hingga produktivitas anak ketika dewasa. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menjadi langkah strategis dalam mencegah stunting sejak awal kehidupan.
Dengan asupan gizi yang cukup dan seimbang, kesehatan ibu diharapkan lebih terjaga, pertumbuhan janin dapat berlangsung lebih baik, kualitas ASI meningkat, serta tumbuh kembang anak menjadi lebih optimal.
Hal ini juga diharapkan mampu menekan risiko kekurangan gizi pada anak sejak dini.
Selain menyoroti aspek kesehatan, drg. Putih Sari juga menekankan bahwa MBG memiliki hubungan erat dengan dunia pendidikan. Menurutnya, anak-anak yang mendapatkan asupan gizi cukup akan memiliki kondisi tubuh yang lebih sehat, daya tahan tubuh yang lebih baik, serta lebih siap mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Dengan tubuh yang sehat, siswa diharapkan lebih rajin masuk sekolah, tidak mudah sakit, lebih fokus menerima pelajaran, dan memiliki semangat belajar yang lebih tinggi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong peningkatan prestasi siswa, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
“Anak yang sehat akan lebih mudah belajar. Kalau gizinya baik, daya tahan tubuhnya juga lebih baik, konsentrasinya meningkat, dan peluang untuk berprestasi juga semakin besar,” ungkapnya.
Karena itu, drg. Putih Sari menilai Program Makan Bergizi Gratis tidak boleh hanya dipandang sebagai program pemberian makanan semata. Lebih dari itu, MBG merupakan investasi jangka panjang untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, kuat, dan produktif.
Sementara itu, Ecan Frendisco menyampaikan bahwa Program MBG memiliki manfaat yang sangat luas bagi masyarakat.
Selain membantu memperbaiki kualitas gizi anak-anak dan menekan angka stunting, program ini juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat dan bergizi.
Menurutnya, MBG bukan sekadar program pemberian makanan, tetapi juga bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan anak-anak Indonesia memperoleh hak dasar berupa makanan yang layak, sehat, aman, dan bergizi. Ia berharap masyarakat dapat ikut mengawal dan mendukung pelaksanaan program tersebut agar berjalan tepat sasaran.
Ecan juga menilai, pelaksanaan MBG dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di daerah. Program ini membuka ruang keterlibatan banyak pihak, mulai dari petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, penyedia bahan pangan lokal, tenaga dapur, hingga masyarakat yang terlibat dalam proses distribusi makanan.
Menurutnya, apabila kebutuhan bahan pangan untuk program MBG dapat dipenuhi dari potensi lokal, maka manfaat program ini tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan, tetapi juga oleh masyarakat yang bergerak di sektor ekonomi rakyat.
“Ketika bahan pangan lokal digunakan, maka ekonomi masyarakat ikut bergerak. Petani, pelaku usaha kecil, dan tenaga kerja lokal bisa ikut merasakan manfaatnya. Jadi MBG bukan hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga pada perputaran ekonomi daerah,” jelas Ecan.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat lokal dalam rantai pelaksanaan MBG dapat menciptakan peluang kerja baru. Mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan makanan, pengemasan, hingga distribusi, semuanya berpotensi membuka ruang ekonomi bagi warga sekitar.
Tenaga Ahli Kepala Badan Gizi Nasional, Muhammad Sirod, dalam pemaparannya menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu strategi besar pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini.
Menurutnya, pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kualitas manusia.
Anak-anak yang sehat, cukup gizi, dan memiliki kemampuan belajar yang baik akan menjadi modal penting bagi kemajuan Indonesia di masa mendatang.
Muhammad Sirod menjelaskan, MBG memiliki sejumlah manfaat strategis, antara lain membantu menurunkan angka stunting, memperbaiki status gizi anak, meningkatkan konsentrasi belajar, mengurangi risiko anak sakit, serta memperkuat daya tahan tubuh. Selain itu, program ini juga mendorong terbentuknya kebiasaan makan sehat di lingkungan keluarga dan sekolah.
Ia menyebut, pelaksanaan MBG juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif bahwa pemenuhan gizi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pelaku usaha.
Muhammad Sirod juga menambahkan bahwa pelaksanaan MBG memiliki efek berganda bagi daerah. Permintaan terhadap bahan pangan bergizi seperti beras, telur, sayuran, buah-buahan, ikan, daging, susu, dan sumber protein lainnya akan meningkat. Kondisi ini dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang.
“Program ini memiliki efek berganda. Selain memperbaiki gizi anak-anak, MBG juga dapat menggerakkan ekonomi lokal, meningkatkan permintaan bahan pangan dari petani dan pelaku usaha daerah, serta membuka peluang lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat,” jelas Muhammad Sirod.
Ia menilai, apabila dikelola dengan baik, MBG dapat menjadi program yang tidak hanya menyelesaikan persoalan gizi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah. Dengan memanfaatkan produk lokal, daerah dapat membangun ekosistem pangan yang lebih kuat, sehat, dan berkelanjutan.
Selain penyampaian materi dari para narasumber, kegiatan sosialisasi juga berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab bersama peserta.
Masyarakat yang hadir diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, pengalaman, serta masukan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Sejumlah peserta menyampaikan harapan agar program MBG dapat dilaksanakan secara merata, tepat sasaran, dan memperhatikan kualitas makanan yang diberikan.
Mereka juga berharap agar makanan yang disalurkan benar-benar memenuhi standar gizi, kebersihan, keamanan pangan, serta sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
Masukan dari masyarakat tersebut menjadi bagian penting agar pelaksanaan program ke depan semakin baik dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dukungan masyarakat dinilai sangat diperlukan agar MBG dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata.
Kegiatan sosialisasi juga semakin meriah dengan adanya pembagian doorprize kepada peserta. Pembagian doorprize tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan suasana kegiatan yang lebih akrab, komunikatif, dan penuh antusiasme.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Kabupaten Karawang diharapkan semakin memahami bahwa Program Makan Bergizi Gratis memiliki manfaat besar, tidak hanya bagi kesehatan anak-anak, tetapi juga bagi pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Sosialisasi MBG di Kabupaten Karawang ini juga menjadi momentum untuk memperkuat dukungan bersama antara pemerintah, DPR RI, Badan Gizi Nasional, pemerintah daerah, pelaku usaha, sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Dengan kerja sama semua pihak, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat berjalan optimal, tepat sasaran, menjaga kualitas makanan, serta memberikan manfaat nyata bagi generasi penerus bangsa.













