
KARAWANG, Idisionline.com – Suhu politik di tingkat akar rumput mulai menghangat menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Bengle yang akan dihelat November mendatang.
Salah satu Bakal Calon Kepala Desa (Bacakades) potensial, Nurnida Alya (27), langsung mencuri start dengan turun ke lapangan, membedah langsung masalah yang dihadapi warga.
Mengusung jargon aksi “Alya Mendengar Rakyat”, figur muda representasi generasi milenial ini menggelar safari politik perdana sekaligus silaturahmi tatap muka bersama warga di pemukiman padat Wagir 2, Desa Bengle.
Kehadiran perempuan berusia 27 tahun ini dipusatkan di lingkungan RT 13 dan RT 14, RW 06.
Di hadapan puluhan kepala keluarga yang hadir, Alya secara lugas memaparkan visi besarnya untuk membawa perubahan progresif demi kemajuan desa.
Pertemuan tatap muka ini seketika berubah menjadi wadah tumpahan anspirasi warga yang selama ini mendambakan peningkatan kesejahteraan dan perbaikan fasilitas publik di segala sektor.
“Kami merindukan tindakan nyata. Fasilitas-fasilitas umum ini sudah lama dinantikan oleh warga kami di RT 13,” tegas Anton.
Keluhan senada juga dilemparkan oleh Ketua RT 14, Edi. Mewakili 80 KK di wilayahnya, Edi menyoroti kondisi memprihatinkan pada area pemakaman warga yang gelap gulita.
“Kondisinya sangat menyulitkan, terutama jika ada prosesi pemakaman saat diguyur hujan pada malam hari. Kami sangat butuh penerangan di area makam,” keluh Edi.
Ketua RT 13, Anton (Karlan Hardoni), yang mewakili sedikitnya 170 Kepala Keluarga (KK), blak-blakan memaparkan beberapa poin krusial yang selama ini luput dari perhatian pemerintah desa.
Di hadapan bakal calon, ia menjabarkan rentetan kebutuhan mendesak warga mulai dari pembangunan lapangan bulu tangkis sebagai sarana olahraga pemuda,.
Selain itu juga pengadaan pos ronda yang dilengkapi blandongan tempat bersantai, hingga infrastruktur dasar seperti pembangunan turap penahan tanah, normalisasi saluran drainase untuk mencegah genangan, serta penambahan lampu penerangan jalan umum (PJU).
Merespons rentetan jeritan aspirasi yang konkret tersebut, Nurnida Alya menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas keterbukaan para pengurus RT dan warga.
Bagi Alya, catatan dari warga Wagir 2 bukan sekadar pelengkap dokumen, melainkan blueprint (cetak biru) kerja nyata yang harus ia eksekusi jika diberi amanah memimpin kelak.
Pendekatan humanis dan dialogis yang dibawa Alya ini pun langsung memikat hati masyarakat setempat. Warga menilai, pembawaan Alya yang mau duduk sama rendah untuk mendengar adalah modal utama seorang pemimpin masa depan.
“Kami melihat sosoknya punya ketulusan untuk mendengar. Mudah-mudahan silaturahmi seperti ini bisa sering dilakukan. Doa kami, semoga apa yang dicita-citakan dikabulkan, selalu sehat, dan sing sayang ka warga (harus sayang dan peduli pada warga) jika terpilih nanti,” ujar Anton.







