KARAWANG, Idisionline.com – Di dunia militer, pangkat dan jabatan adalah amanah, namun rekam jejak adalah bukti nyata dari loyalitas.
Itulah yang melekat pada sosok Serka Imang, seorang prajurit TNI Angkatan Darat yang telah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk menjaga tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Langkah pengabdian Serka Imang dimulai pada sebuah momentum bersejarah, tepatnya 23 April 2001, saat ia resmi dilantik menjadi prajurit TNI.
Sejak saat itu, jiwanya telah mewakafkan diri untuk nusa dan bangsa.
Awal kariernya dihabiskan di satuan tempur legendaris, Yonif Para Raider 305/Tengkorak.
Di bawah baret hijau Kostrad, Serka Imang menempa diri menjadi prajurit yang tangguh.
Tak butuh waktu lama bagi negara untuk menguji mentalnya; pada tahun 2002 hingga 2003, ia dikirim ke medan operasi Aceh.
Di tengah gejolak konflik kala itu, Imang belajar arti sebenarnya dari keberanian dan rasa kemanusiaan.
Pengabdiannya di pasukan tempur terus berlanjut hingga tahun 2012, termasuk menjalankan misi pengamanan wilayah perbatasan di Kalimantan pada tahun 2011.
Setelah 11 tahun berada di garis depan bersama Pasukan Tengkorak, Serka Imang memperluas wawasan strategisnya dengan berdinas di Puskodal Makostrad (2012–2015).
Namun, panggilan untuk membina wilayah (teritorial) membawanya pulang ke tanah Jawa, bergabung dengan Kodam III/Siliwangi.
Sejak tahun 2015, sosoknya mulai akrab di tengah masyarakat. Mulanya di Kodim 0616/Indramayu, dan kini sejak tahun 2018 hingga sekarang, ia menjadi bagian penting dari keluarga besar Kodim 0604/Karawang.
Sebagai prajurit teritorial, Serka Imang menjadi jembatan antara TNI dan rakyat, memastikan bahwa kemanunggalan TNI tetap kokoh di hati masyarakat Karawang.
Di balik ketegasan pangkat Sersan Kepala, Imang adalah seorang ayah dan suami yang penyayang. Keberhasilannya melewati berbagai medan tugas tidak lepas dari doa dan dukungan istri tercinta, Wulan Sri Ningrum.
Cahaya matanya, Najwa Pasya Fadhilah, Akmal Mochamed Al-Qawiy, dan Syakilah Minhatul Wafirah, menjadi alasan utama bagi Serka Imang untuk selalu pulang dengan selamat dan terus bekerja dengan integritas.
Bagi Serka Imang, menjalankan tugas negara adalah kehormatan, namun menjaga keluarga adalah ibadah yang tak terputus.
“Setiap jengkal tanah yang saya pijak, dari hutan Aceh hingga jalanan Karawang, adalah saksi bahwa seragam ini bukan hanya kain, tapi janji kepada Ibu Pertiwi.” Serka Imang.














