
KARAWANG – Senja baru saja berganti malam ketika ketegangan di depan Gedung Paripurna DPRD Karawang mencair menjadi diskusi terbuka.
Di tengah kepulan asap sisa ban terbakar dan barikade petugas, sosok Iqbal Jamalullail (akrab disapa Gus Iqbal) dari Fraksi Gerindra hadir menjadi jembatan antara aspirasi rakyat dan kebijakan negara.
Sekitar pukul 19.00 WIB, suasana yang semula memanas mendadak teduh. Tanpa sekat kursi mewah atau meja formal, Gus Iqbal bersama Dede Anwar dan Asep Junaedi memilih untuk duduk melantai beralaskan paving blok di pelataran gedung.
Tindakan ini seketika meruntuhkan dinding pembatas antara legislator dan mahasiswa.
Suasana semakin riuh saat Gus Iqbal meraih pengeras suara (Toa). Dengan suara lantang yang memecah kesunyian malam, ia tidak memberikan pembelaan birokratis, melainkan apresiasi tinggi terhadap gerakan mahasiswa.
“Saya ucapkan terima kasih banyak kepada mahasiswa sebagai agen perubahan, sebagai pilar utama pembangunan Indonesia,” ujar Gus Iqbal di hadapan massa yang melingkar.
Gus Iqbal menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa dengan 7 tuntutan tegasnya bukanlah gangguan, melainkan pengingat bagi mereka yang duduk di kursi dewan.
Ia memastikan bahwa setiap poin, mulai dari isu pendidikan hingga kedaulatan tenaga kerja lokal, sudah masuk dalam prioritas perjuangannya.
“Sudah kami baca dan pelajari. Tidak satu pun yang tidak kami bahas, dan tidak ada yang tidak kami tekankan kepada Pemkab Karawang. Kami (Fraksi Gerindra) akan menjadi partai yang paling depan untuk terus memperjuangkan masyarakat Karawang,” tegas Gus Iqbal.
Didampingi rekan legislator lainnya, Dede Anwar dan Asep Junaedi, Gus Iqbal menerima langsung dokumen “7 Tuntutan Tegas” yang dirumuskan mahasiswa atas keresahan warga Karawang:
1.Pendidikan Bukan Komoditas: Mendesak prioritas Dana Pendidikan dan menolak penghapusan prodi non-industri.
2.Hapus Perbudakan Modern: Mencabut regulasi outsourcing dan magang murah yang merugikan kepastian kerja.
3.Kedaulatan Lokal: Menuntut sanksi bagi perusahaan yang melanggar kuota 60% tenaga kerja lokal di Karawang.
4.Nasib Buruh Tani: Menjaga stabilitas harga gabah dan menjamin ketersediaan pupuk di tengah industrialisasi yang kian masif.
5.Solusi Putus Sekolah: Pemda harus transparan dan memberikan solusi nyata atas tingginya angka putus sekolah.
Demiliterisasi Sipil: Menolak segala bentuk keterlibatan militer dalam ruang pendidikan dan urusan sipil lainnya.
Stop Kriminalisasi: Mendesak penghentian kriminalisasi aktivis dan pembebasan mereka yang ditahan saat menyuarakan hak rakyat.
Ketiga anggota dewan, termasuk Dede Anwar dan Asep Junaedi, secara kolektif menyatakan menerima aspirasi tersebut untuk segera ditindaklanjuti ke tingkat eksekutif.
Bagi mahasiswa, diterimanya mereka pada petang hari itu secara lesehan adalah bukti bahwa suara rakyat tidak bisa lagi dibatasi oleh dinding-dinding ruang rapat yang kaku.
Aksi ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal setiap poin tuntutan.
Mahasiswa menegaskan, meski dialog hari ini berakhir dengan jabat tangan di teras gedung, pengawalan terhadap kebijakan akan terus berlanjut hingga perubahan benar-benar dirasakan oleh masyarakat Karawang.











