KARAWANG, Idisionline.com – Cahaya kuning keemasan dari ratusan obor bambu membelah kegelapan malam di lingkungan Tanjung di Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur.
Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Baabul Khoir turun ke jalan, melantunkan salawat, menciptakan pemandangan spiritual yang magis sekaligus memukau warga sekitar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 H.
Namun, di balik riuhnya syiar budaya tradisional tersebut, ada pesan mendalam dan menohok yang disuarakan dari atas podium pelepasan.
Momentum pergantian tahun Hijriah kali ini dijadikan sebuah refleksi besar: “Alarm” darurat reformasi akhlak anak di tengah gempuran digitalisasi.
Wakil Pimpinan Ponpes Baabul Khoir, Ustadz Agus Syafei, saat melepas gelombang santri pembawa obor, tidak menutupi rasa risaunya terhadap fenomena sosial hari ini.
Beliau menunjuk langsung layar gawai (handphone) sebagai salah satu pemicu utama renggangnya adab generasi muda.
“Di era digitalisasi ini, kita sering kali abai. Kita lalai mengontrol apa yang ditonton dan dimainkan anak-anak kita di HP. Melalui momentum ini, saya memohon dengan sangat kepada Ibu dan Bapak sekalian, tolong batasi anak-anak kita dalam bermain HP,” tegas Agus Syafei dengan nada imbauan yang penuh penekanan.
Menurutnya, degradasi moral atau penurunan akhlak anak zaman sekarang berada pada tahap yang mengkhawatirkan.
Kebebasan tanpa batas di dunia maya pelan-pelan mengikis rasa hormat anak terhadap orang tua.
“Sebab di zaman sekarang, realitasnya sudah banyak sekali anak-anak yang berani melawan orang tuanya sendiri. Kita tidak ingin teknologi justru menjauhkan anak dari surga,” tuturnya.
Ia berharap, “Semoga di tahun baru Hijriah ini, anak-anak kita dituntun menjadi generasi yang saleh dan salihah, yang berbakti kepada orang tua, negara, dan terutama teguh pada agamanya,” lanjutnya penuh harap.
Pesta obor yang berjalan tertib itu pun seolah menjelma menjadi simbol literasi.
Nyala api di tangan para santri malam itu bukan sekadar penerang jalan, melainkan simbol pengingat bagi setiap orang tua di Karawang bahwa di tengah kepungan dunia digital, benteng terbaik anak adalah agama dan pengawasan keluarga.













