KARAWANG, IO – Bagi Ahmadia (41), atau yang akrab disapa Memed, aroma khas kandang bebek di Kompi Produksi Ketahanan Pangan Kodim 0604/Karawang adalah aroma kebebasan dan harapan.
Pria dengan tiga anak ini tidak pernah menyangka bahwa obrolan santai dengan Pasiter Kodim Karawang pada Desember lalu akan menjadi gerbang yang mengubah “sisi gelap” hidupnya menjadi terang benderang.
Memed adalah seorang penyintas masa lalu yang keras. Ia sempat menghabiskan waktu 2,5 tahun di balik jeruji besi akibat jeratan hukum pasal 170 dan 151.
Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, di dalam Lapas ia justru menimba ilmu melalui pelatihan budidaya ternak hingga mengantongi sertifikat resmi.
“Dulu hidup saya semrawut. Saya keluar dengan bekal ilmu, tapi nol modal,” kenang Memed.
Keberaniannya muncul saat ia memaparkan konsep uji banding bebek Peking kepada Kapten Inf Kihajar.
Gayung bersambut, TNI menerima masa lalu Memed dengan tangan terbuka dan memberinya kesempatan untuk merintis dari nol.
Hanya dalam waktu satu bulan, fasilitas kandang selesai dibangun dan petualangan baru pun dimulai.
Perjalanan yang dimulai dari 800 ekor bibit itu berkembang pesat menjadi 2.400 ekor. Hasilnya pun luar biasa.
Dalam tiga fase panen yang terukur, Memed berhasil membuktikan keahliannya. Sesi pertama menghasilkan 16 kuintal dari 800 ekor, disusul sesi kedua sebanyak 8 kuintal, dan puncaknya pada sesi terakhir yang menembus angka lebih dari 1 ton 7 kilogram.
Keberhasilan ini membawa dampak nyata di meja makan rumahnya. Istri dan ketiga anaknya kini bisa bernapas lega karena ekonomi keluarga telah kembali normal.
Bebek Peking, yang menurut Memed memiliki minat pasar lebih luas dibanding entog, menjadi jalan ninja baginya untuk bangkit.
Sambil memantau ribuan bebeknya, Memed menitipkan pesan menyentuh bagi mereka yang sedang berjuang menghapus stigma negatif sebagai eks-narapidana.
“Jangan pernah berkecil hati. Jangan anggap diri kita manusia sampah atau terbuang. Bangkitlah, lihatlah ada rezeki untuk kita masing-masing. Buktikan dan perlihatkan bahwa kita semua layak untuk hidup lebih baik,” pungkasnya.
Kisah Memed bukan sekadar tentang suksesnya panen kuintalan bebek, melainkan tentang bagaimana sebuah institusi seperti Kodim 0604/Karawang mampu memberikan “kesempatan kedua” bagi seorang manusia untuk memulihkan martabatnya demi masa depan keluarga








