Dimanakah nuranimu wahai Pemerintah Kota Sukabumi ??
Kota Sukabumi. IDISIONLINE.COM –
Miris.. Ketika di kota Sukabumi masih di dapati sebuah pesantren yang dalam menjalankan aktifitasnya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, apalagi lokasi pesantren ini tidak jauh dari pusat kota. Publik bertanya, kemana pihak pemerintah kota dan yang terkait selama ini khususnya dalam hal ini adalah Kemenag kota Sukabumi.

Pasalnya dalam menjalankan aktifitasnya Ponpesnya selama ini hanya mengandalkan hasil sewa sawah yang di kelola oleh ustad dan di bantu oleh para santri. Juga dalam menjalankan belajar dan mengajar hanya di lakukan oleh seorang Ust. Udin Jalaludin di bantu oleh beberapa santri yang di anggapnya sudah mampu.

Dengan luas bangunan Ponpes berukuran 10×10 meter persegi dengan kondisi yang sudah sangat rapuh ini berdiri sejak tahun 2004 sampai saat ini kondisinya sangat tidak layak, seperti alas tidur yang terbuat dari kayu ruangan tidur santri sudah keropos serta atapnya pada bocor.
Pondok Pesantren Nurul Alif yang beralamat di jln cemerlang depan BSI RT. 004/001 kelurahan sukakarya kec. Warudoyong kota Sukabumi dengan jumlah santri akhwat 14 orang nginap, 34 orang pulang ke rumah masing². Santri ikhwan yang nginap 24 orang sementara 10 orang pulang ke rumah. Para santri tidak di pungut bayaran apapun. Aktifitas belajarpun berjalan siang sore dan malam.

Bangunan yang sudah berdiri selama 17 tahun diperuntukkan untuk santri mengaji setiap hari. Semua sarana yang dimiliki seperti tempat wudhu dan penyimpanan kitab santri pun sudah sangat jauh dari kata layak.
Dan tidak menutup kemungkinan ketika hujan turun, tempat tidur para santri pastilah bocor. Yang sangat di khawatirkan bangunan tersebut sewaktu-waktu bisa roboh.
Ketika di konfirmasi Erfan Fauji minggu (6/2) salah satu keluarga Ust. Udin Jalaludin pimpinan Ponpes tersebut, ia mengatakan sudah beberapa kali mengajukan bantuan ke pemerintah kota Sukabumi tapi tidak pernah ada tanggapan. “Saya berharap ada perhatian dan kepedulianya dari pihak-pihak terkait”, ujarnya.

Reporter : Agus Pren





