CISONDARI, KAB. BANDUNG, IO – Di tengah isu pemangkasan dana transfer daerah, Desa Cisondari justru mengambil langkah progresif dengan mengalokasikan dana desa untuk pengendalian Tuberkulosis (TB).
Hal itu mengemuka dalam sosialisasi penggunaan dana desa untuk pengendalian TB yang digelar di Aula Desa Cisondari kecamatan Pasir jambu kabupaten Bandung,17 September 2026 Kegiatan diikuti para kepala desa dan warga masyarakat.

Ketua tim Rizky hasolan.SE.MM penyusunan pengendalian dana desa yang menjadi narasumber menjelaskan, polemik soal anggaran tidak seharusnya menghentikan upaya penanggulangan TB di desa.
Berdasarkan RAPBN 2026, alokasi Transfer ke Daerah (TKD) direncanakan Rp650 triliun, turun 24,7% dibanding outlook 2025 sebesar Rp864,1 triliun. Angka ini tercatat sebagai yang terendah dalam lima tahun terakhir. Pada 2021 realisasi transfer daerah dan dana desa mencapai Rp785,7 triliun, kemudian naik menjadi Rp816,2 triliun pada 2022, Rp881,4 triliun pada 2023, dan Rp863,5 triliun pada 2024.
Meski ada penurunan, ada tiga alasan mengapa dana desa tetap tepat digunakan untuk TB:
1. Soal ketepatan sasaran, bukan besarnya dana. Indonesia masih peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia. Kasus tersebut bermula dari desa dan kota yang terkompilasi menjadi data nasional. Pengendalian TB juga menjadi salah satu prioritas Asta Cita, sehingga perlu implementasi nyata sampai ke pedesaan.
2. Kebutuhan anggaran di desa tidak besar. Obat TB dan alat diagnosis sudah disediakan pemerintah pusat melalui Puskesmas. Jika pasien memburuk dan butuh perawatan rumah sakit, biayanya ditanggung BPJS Kesehatan. Dana desa hanya diperlukan untuk pemberdayaan masyarakat, kader kesehatan, dan penyuluhan serta pencarian kasus aktif.
3. Pusat bisa bantu langsung ke pasien. Ia mencontohkan India dengan program Nikshay Poshan Yojana (NPY), di mana pasien TB di desa mendapat insentif 500 rupee per bulan selama menjalani pengobatan.
Ia juga menekankan peran kepala desa dan tokoh masyarakat dalam tiga hal: mendorong warga bergejala TB untuk periksa ke Puskesmas, memastikan pasien minum obat sampai tuntas, dan menjamin tidak ada stigma bagi pasien dan keluarga.
Kepala Desa Cisondari H.Dudi Wiwaha menyambut baik kolaborasi ini.
“Upaya ini sangat baik dan kami menyambut baik. Akhirnya kami akan menggunakan anggaran dana desa untuk kegiatan sosialisasi TB. Semoga dengan kolaborasi ini antara Kemendes dan pemerintahan desa bisa menuntaskan penyakit TB khususnya di desa kami, umumnya di Kabupaten Bandung,” cetusnya kepada awak media.
Langkah ini sejalan dengan target pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan Zero TB pada tahun 2030.
Rep. Edwin
