WERU, CIREBON, IO – “Alhamdulillah, saya bersyukur sekali dapat perhatian bantuan renovasi. InsyaAllah akan kami laksanakan sesuai aturan bangunan dan ketentuan yang sudah ditetapkan,” ucap Ibu Sri Eka Kesumawati, S.Pd, Kepala TK Sekarwangi dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah menjamurnya sekolah swasta baru, TK Sekarwangi yang berada di Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, tetap kokoh berdiri. Sejak didirikan tahun 1982, sekolah ini sudah mengantar ribuan anak usia dini untuk siap masuk SD. Kini, di usianya yang ke-43 tahun, TK Sekarwangi masih menjadi rujukan warga sekitar karena biayanya paling terjangkau.

67 Anak Didik dan Segudang Prestasi
Saat ini TK Sekarwangi menaungi 67 anak didik dengan tenaga pengajar yang sabar dan penuh kasih. Jumlah murid memang tidak banyak, tapi semangat dan prestasinya patut diacungi jempol. 

Salah satu bukti nyata adalah torehan juara lomba mewarnai tingkat Kabupaten. Prestasi itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah, orang tua, dan masyarakat Tegalwangi.

“Kami tidak punya fasilitas mewah, tapi kami punya semangat. Anak-anak diajarkan mandiri, disiplin, dan cinta seni sejak dini,” tutur Ibu Eka.

SPP Rp850.000/Tahun, Bisa Dicicil. Paling Murah Se-Weru
Yang membuat TK Sekarwangi berbeda adalah soal biaya. Di era sekarang, tidak mudah menemukan TK dengan biaya seringan ini. 

“Total biaya setahun hanya Rp850.000. Bisa dicicil selama 1 tahun penuh. Ini paling murah dibanding TK lain se-Kecamatan Weru,” jelas Ibu Eka, Senin (31/8/2026).

Kebijakan itu lahir dari keprihatinan. Mayoritas wali murid di sini berprofesi sebagai buruh, petani, dan pedagang kecil dengan penghasilan tidak menentu. Agar tidak ada anak yang putus sekolah karena biaya, pihak sekolah membuka kelonggaran pembayaran.

Bahkan untuk anak yatim, SPP digratiskan 100%. “Kami tidak mau ada anak yang tidak sekolah hanya karena tidak punya orang tua,” tegasnya.

Dilema: Iuran Cepat untuk Arisan, Lambat untuk SPP
Namun di balik kebijakan sosial itu, ada cerita lain yang membuat kepala sekolah miris. 

Info Lainnya  SDN Puspajaya Gelar Acara Kenaikan Kelas Dan Pelepasan Siswa/i Kelas VI SDN Puspajaya

“Kendalanya di kesadaran membayar. Ekonomi orang tua memang beda-beda. Tapi anehnya, kalau untuk urusan makan-makan, arisan, iuran kegiatan, cepat sekali. Giliran bayar SPP untuk anaknya sendiri malah susah,” keluhnya lirih.

Kondisi ini membuat bendahara sekolah harus ekstra bekerja keras menagih dan mengatur kas agar operasional sekolah tetap berjalan. Gaji guru honorer, listrik, ATK, hingga perawatan kelas semua bergantung dari iuran orang tua.

Renovasi Datang, Tapi Pusingnya di Laporan SPJ
Kabag yang paling memusingkan saat ini adalah administrasi. Setelah sekian lama mengajukan, TK Sekarwangi akhirnya mendapat kabar baik berupa bantuan renovasi gedung.

Gedung yang dibangun tahun 1982 itu memang sudah banyak yang retak, bocor saat hujan, dan tidak layak untuk 67 anak. “Kami ingin anak-anak belajar dengan aman dan nyaman. Itu mimpi kami dari dulu,” kata Ibu Eka.

Tapi kebahagiaan itu dibarengi tantangan. “Pusingnya di laporan SPJ. Persyaratannya banyak, pembukuannya harus rapi. Kami guru, bukan akuntan. Tapi demi anak-anak, kami belajar,” ujarnya sambil tersenyum.

Harapan: Aman, Nyaman, dan Pendidikan Terus Berjalan
Ke depan, Ibu Eka berharap renovasi bisa segera terealisasi tanpa kendala. Ia juga berharap ada lebih banyak perhatian dari pemerintah dan donatur untuk pendidikan usia dini di desa.

“Harapan kami sederhana. Gedung aman, kelas nyaman, anak-anak betah belajar. Semoga semua urusan administrasi, bantuan, dan kegiatan sekolah bisa berjalan lancar. Doakan kami,” pungkasnya.

Dengan biaya terjangkau, hati yang tulus, dan semangat pantang menyerah, TK Sekar Wangi membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak harus mahal. Di sinilah, di sebuah desa kecil di Weru, masa depan 67 anak sedang ditempa dengan penuh cinta.

Reporter Ginananjar, Syobit

Info Lainnya  Program Genius, Kang DS: Dalam Rangka Menurunkan Angka Stunting di Kabupaten Bandung