Oleh : Elut Haikal
Baru kali ini di Era Reformasi terjadi Demo di Kota Sukabumi berjilid jilid sebut saja fenomena Demo oleh Mahasiswa, Ormas, Lsm, Padepokan hingga RT/RW. dibawah kepala daerah Ayep Zaki dan Boby Maulana ,
jika kita telaah Apa Faktor pemicunya ?
Sekilas kita tengok balik ke belakang, tentang kepala daerah Kota sukabumi Era Reformasi yang di pilih langsung oleh Rakyat, pertama dipimpin oleh Almarhum Walikota Muslich Abdul Syukur dari latar PNS, mantan Pejabat Senior yang terjun ke politik adalah sosok Figur dan Tokoh yang dihormati saat itu, kedekatan dengan Semua Kalangan mampu memimpin 2 periode.
Dari cara dan gaya mengelola Pemerintahan, dan menata Kotanya serta menumbuhkan Ekonomi , dari basic Profesi yang dimilikinya , dalam mengambil kebijakan satu sama lain akan berbeda dengan basic Politikus Pengusaha dan mantan Pejabat cara mengelola Pemerintah dan APBD, mantan PSN akan lebih memahami dalam menentukan arah kebijakan pembangunan dan peningkatan Pelayanan Warganya serta meningkat kan Ekonomi dari sumber potensi daerahnya, namun belum tentu juga berhasil memajukan semua sektor
Kota Sukabumi saat pertama kali di Era Reformasi di pimpin oleh Muslih Abdul Syukur, bukan berarti berjalan mulus tanpa kendala, dan gejolak sosial namun nyaris tidak terjadi Demo besar berjilid jilid
Lantas bagaiman estafet Kepala Daerah dari Alm. Muslih A.S kepada Walikota Muraz – Fahmi. Yang juga pentolan mantan PNS
Diawal ke pemimpinan nya terbilang kondusif tanpa riak dan gejolak dari Elemen masyarakat atas Kebijakan nya. normal hingga 3 tahun berjalan.mulai Terjadi gejolak sosial bermula dari adanya Kebijakan Rencana Revitalisasi Pasar Pelita yang sudah kumuh untuk diremajakan bernuansa Pasar Modern.
diduga terjadi keteledoran pemilihan Investor yang tidak bertanggung jawab mengakibat kan Mangkraknya pelaksanaan pembangunan Pasar hingga 4 tahun, hal ini menjadi pemicu awal Kegaduhan Sosial dan politik sehingga terjadi Demo Demo namun tidak berjilid jilid , Demo pun Fokus pada satu persoalan kerugian warga Pasar.
Secara moral dan politis berimbas fatal pada Walikota.saat itu. Hal lainnya diluar itu dalam pemerintah berjalan normal.
Persoalan mangkraknya pasar berlanjut pada Walikota berikut nya pasca walikota Muraz, yaitu Walikota Fahmi Andri mantan wakil menjadi kepala daerah. Tentu turut menanggung beban bersama, gejolak sosial tetap ada namun tanpa demo besar lambat laun tensi menurun.
Perjalanan Walikota Fahmi – Andri H dalam menjalankan roda pemerintahan dan menata kota dalam mengelola kebijakan nya masih menjadi sorotan utama Pasar Pelita.
Yang berimbas pada kebijakan lain nya yang banyak menyoal kebijakan nya, atas Isyu Peran dominasi Partai dan Kroninya menjadi pemicu kecemburuan akan Kue Pembangunan timbul kesenjangan dan persaingan Kalangan PNS,/ASN yang di dominasi kroni² nya.
Dengan dugaan dalam mengambil kebijakan lebih manut pada titah Partai, namun demikian kepemimpinan Fahmi, dalam menyikapi kritikan dan gejolak dilakukan persuasif penuh komunikatif berjalan sewajar nya
Sikap pada Timsesnya tetap menjadikan bagian dalam menentukan arah kebijakan pembangunan, semua Tim dihargai terlibat dalam bagian percepatan Pembangunan.
Kepemimpinan Fahmi saat itu, tidak terjadi demo besar besaran, Riak dan gejolak tetap ada.
Dalam mengelola Pemerintah dan menata kota cukup terbuka dan welcome pada semua elemen masyarakat untuk berdialog Hatta bukan bagian Timsesnya, diayomi dan dilayani dengan baik serta merealisasikan Aspirasi warga
peran politis dan kepentingan kelompok dari rival politik dalam gejolak sosial saat itu tentu ada Andil namun semua masih dalam koridor normal, hasil nyata dalam Pembangunan nya hingga saat ini dapat dirasakan penuh nuansa baru tata kota Sukabumi oleh Walikota Muraz dan Fahmi.
Lain halnya dengan Estafet kepemimpinan Pasca Fahmi kepada Walikota Ayep Zaki – Boby M, Terjadi fenomena Demo yang berjilid dari awal menjalankan roda pemerintahan hingga saat ini Kenapa ?
hal ini terjadi ada faktor² pemicu nya ? Dugaan bisa dari cara dan gaya sepak terjang Ayep Zaki dari sejak kampanye sudah menjadi sorotan banyak menuai kontroversi , Dengan gaya yang beda, cara menabur program janji manis, hambur kan Sembako dan bantuan saat kampanye menjadi sorotan tajam.dari rival² politiknya, diluar dugaan cara mobilisasi Money Politik dangan cara bai’at dan sumpah setia, menuai Aksi protes hingga Demo.
Ayap Zaki dan Boby M adalah calon yang tidak diperhitungkan oleh kalangan elit politik, elit partai dan para bobotoh timses, tidak tercatat dalam hitungan lawan berat dalam kalkulasi politik mereka..
Ayep Zaki dan Boby wajah baru dalam kancah politik pilkada, namun gebrakan program Janji janji manisnya menarik minat pemilih kaum tua dan muda,dipandang wajah baru yang penuh harapan dalan memimpin kedepan.
Entah apa yang terbesit dalam benak berpikir saat kampanye hingga bertabur Janji manis, seolah surga yang akan nyata, dengan bekal Sumpah setia dan Bai’at , Janji Dana Abadi Sumpah Serapah jika terpilih akan jujur tidak berkhianat, Sumpah dilaknat jika khianat dalam menjalan kan Roda Pemerintahan, mungkin kah saat itu dilakukannya demi Tahta, Martabat upaya meraih jadi orang no 1, hingga semua dilakoni ? Atau sumpah demi Rakyat dan Kota Sukabumi ?! Sumpah yang terpatri dihati masy untuk ujud kan janji ?
Kondisi berkata lain Janji yang sangat di nanti DANA ABADI 10 juta / tahun, insentif RT /RW, ditingkat kan ,peningkatan UMKM dll, Realisasi janji belum terbukti, ditagih janji yang Terpatri Dana Abadi. Lantas adakah komitmen janji manis lain pada Timses, Elit Politik pengusung dan pendukung ? untuk posisi duduk lingkarannya, terucap sebelum meraih kemenangan dalam kampanye ??
Hal ini diera reformasi bukan rahasia lagi biasa terjadi semodel balas jasa, bagi2 kueh APBD, jika tidak akan timbul kekecewaan, yang memicu cikal bakal kegaduhan demo.
Atau saat itu telah terjadi Transaksi jual beli pada Timses dan Partai kontrak putus mau menang atah kalah seusai kampanye bubar jalan, selebihnya kemenangan yang diraih tahta Walikota menjadi miliknya?, sehingga terealisasi Timses tidak tampak di pusaran pemerintahan yang ada Dominasi kroni orang dekat Walikota ?
Sudah terbentuk kah ? susunan Stuktur timses yang akan membantu kinerja Walikota saat itu tetap hanya dijadikan Pigura saja.?
Indikasi baru seumur jagung menjalankan Roda Pemerintah kota sukabumi muncul kebijakan baru yang menimbulkan gejolak sosial politik, meluncur kan Program WAKAF diluar program janji yang tidak tertuang dalam RPJMD RPJMP. Dll ? Kebijakan yang dipandang hanya kepentingan Pribadi dan kelompok nya ?
Ini menyita perhatian kontroversi terutama oleh Rival politik yang kalah, ditambah kebijakan penempatan dari Staf Ahli yang merangkap jabatan Dawas ( dewan pengawas) RSUD dan Ajudan orang terdekat walikota yang belum dikenal, memicu riak adanya demo mahasiswa, langkah kebijakan kontroversi lainya muncul Rumor negatip kebijakan pemotongan TUKIN untuk WAKAF , melalui Yasasan FKDB Milik Keluarga Walikota yang asal nya duduk sebagai Ketua Yayasan juga Dirut Perusahaan Alpindo Mitra Bajs saat itu, saat ini diganti oleh saudaranya.yang terus memicu Demo dan Demo oleh kalangan mahasiswa
Gejolak makin timbul dimasyarakat dan mahasiswa berbagai spekulasi pertanyaan akan bagaimana pengelolaan Hasil Wakaf akan seperti Apa transparansi laporan Pemasukan dan Pengeluarannya ?
Sejauh mana Peran Pemkot terlibat dalam mengelola uang Wakaf ? kekhawatiran kenapa tidak dikelola BUMD atau badan Organisasi Islam yg ada di bawah pemerintah seperti Baznas dll ? Menjadi topik utama
Semua teka teki masyarakat bukan tampa alasan ditujukan pada Walikota Ayep Zaki yang mantan Ketua yayasan FKDB dIisukan FKDB terafiliasi dengan dengan salah satu Aliran Penganut Sesat aliran keagamaan
Tentu dugaan negatif masyarakat lebih tajam hawatir akan penyalah gunaan, yang salah arah & salah penyaluran.hasli Wakaf
Sorotan lainya dari Timses Partai dan Timses inti relawan tidak ada di pusaran pemerintah mungkin ini terjadi karna Walikota menganggap semua sudah dibeli dalam transaksi pilkada ?? semua Dominasi orang terdekat Walikota menjadi Jargon Demo yang Rangkap Jabatan dan mendapat gaji Doble.
Pemicu lain nya setiap kritikan & masukan serta Aspirasi warga di pandang tidak penting, yang penting kerja mencapai target PAD, Pelayanan masyarakat maximal di tiap SKPD., Tata kelola dan laporan Administrasi ke uangan baik, capaian PAD meningkat, dan mendapat penilaian & penghargaan Pusat.?
Tentu semua hasil kinerja bukan hanya akan dinikmati walikota, kebanggan Jajaran Pemkot
Tetapi harus menyentuh hajat hidup Rakyat pada pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja perbaikan infrastruktur, dan mewujudkan janji² yang krusial dapat terealisasi,meningkatkan sektor bisnis terus tumbuh, terbuka Investasi
hal ini harus dirasakan oleh warga, tidak bertolak belakang dengan capaian kinerja pemkot untuk target penghargaan dari pusat menjadi ukuran keberhasilan kepala daerah.
Sementara Aspirasi Warga dan keluhan terabai kan padahal kritik dan saran serta Aspirasi Warga adalah bagian pelayanan Walikota secara langsung terserap dan terakomodir yang jadi Prioritas. yang dapat dirasakan dari kinerja Walikota. Karna walikota bapak semua warga nya tanpa kecuali.
Sorotan lain pada orang² ter dekat Walikota dengan perubahan kebijakannya pada Anggaran pembangunan di tiap kelurahan tidak luput dari isyu, yang asalnya dikerjakan warga dan lurah secara Swakelola menjadi proyek Kontraktual, yang jadi rumor diduga dikerjakan pihak Kontraktor yang dikuasai orang dekat walikota tentu kegaduhan akan terus timbul yang baru.
lebih Seru lagi isyunya terbalik Justru di Dinas PUTR yang mengelola Anggaran Besar kegiatan Belanja Infrastruktur yang biasa kontraktual menjadi Swakelola, yang dikerjakan oleh Dinas, secara aturan itu tidak menyalahi, tetapi efek ekonomi terganggu yang biasa dikerjakan Kontraktor banyak menyerap tenaga kerja harian tumbuh kan ekonomi, kini tak bergerak,
Selain Faktor pemicu Diatas sepintas terlintas adakah peran pemicu lainya selain warga Rt/Rw Dugaan lain dari dalam sendiri, Peran External para tokoh, elit politik, rival² pilkada dan timsesnya, Pelaku Usaha, hingga mahasiswa, Lsm, , menjadi bagian peran pemicu Demo dari awal pemerintahan Ayep Zaki hingga saat ini berjilid jilid Dan yang akan datang terus berdemo ??
Apakah semua peristiwa ini menjadi Potret Instrospeksi bagi walikota yang harus dijawab kontan atau perlahan pada perubahan dan perbaikan dengan apa yang menjadi kritik dan aspirasi warga artinya walikota tidak asik kerja sendiri, asik melayani keluarga sendiri, asik dengan kroni sendiri, ? Serta asik di habitat sendiri, tentu Kesampingkan Ego menjadi no5.
Lantas apa saja Capaian kinerja Walikota Ayep Boby selama hampir 2 tahun ini ? Part II.













