KARAWANG, Idisionline.com – Gemuruh tepuk tangan penonton seketika pecah di Grand Ballroom Mercure Hotel Karawang saat sekelompok anak-anak dengan kostum unik naik ke atas panggung.
Kemeriahan ini menjadi bagian dari gelaran Pentas Seni dan Wisuda Angkatan XIV TK & SDIT Shafa Marwah Karawang yang berlangsung meriah dan penuh warna.
Di antara riuhnya penampilan bakat siswa, aksi panggung dari kelompok Class Adil sukses mencuri perhatian publik.
Salah satu magnet utamanya adalah Rayna Almera Nurshidqi, siswi Level A- yang baru menginjak usia 5 tahun.
Menariknya, bocah cilik yang akrab disapa Rere ini juga dikenal sebagai salah satu siswa berprestasi yang berhasil meraih Juara 1 dalam semua aspek di kelasnya.
Mengenakan busana kreatif yang khas, bocah cilik yang akrab disapa Rere ini tampil penuh totalitas bersama rekan-rekannya.
Mereka membawakan penampilan bertema nelayan tradisional yang dikombinasikan secara apik dengan presentasi sains berbahasa Inggris tentang endoscope.
Tanpa canggung, mereka membawakan lagu anak-anak legendaris berjudul “Katanya” dengan koreografi yang kompak dan ekspresi yang sangat ceria.
Meskipun baru berusia belia, Rere dan teman-temannya berhasil memancarkan esensi nyata dari visi ‘Happy Learning’ dan ‘Happy School’ yang selama ini ditanamkan oleh sekolah.
Keberanian luar biasa untuk tampil di panggung megah di hadapan ratusan pasang mata menjadi bukti konkret keberhasilan metode pembentukan karakter anak sejak dini.
Rasa bangga sekaligus haru mendalam dirasakan oleh sang ibu, Triana Nur Harryulianti, S.Keb (Tria).
Menyaksikan tumbuh kembang putrinya yang begitu berani, Tria mengungkapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada pihak sekolah.
Secara khusus, ucapan terima kasih ia tujukan kepada para Miss dan guru yang telah membimbing anak-anak dengan penuh kesabaran.
“Melihat Rere bisa berdiri sepercaya diri itu di atas panggung besar benar-benar membuat saya merinding sekaligus haru,” ungkap Tria pada Sabtu (20/6/2026).
Tria menyampaikan rasa berterima kasih kepada para Miss dan seluruh guru yang luar biasa.
“Karena berkat bimbingan, kesabaran, dan kasih sayang mereka, anak-anak kami bisa tumbuh seberani ini,” tambah Tria.
Tria mengakui sebagai orang tua, pentas seni ini bukan sekadar hiburan atau unjuk bakat biasa melainkan laboratorium psikologis yang luar biasa untuk melatih mental, kemandirian, dan ego positif anak.
“Di sinilah karakter mereka benar-benar ditempa dengan cara yang menyenangkan,” tutur Tria.
Pentas seni tahun ini menjadi potret nyata bahwa pendidikan anak usia dini yang tepat tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif.
Pendidikan yang baik justru berfokus pada kebahagiaan anak dalam belajar (happy learning).
Dengan demikian, sekolah dapat melahirkan generasi yang berani, kreatif, dan berakhlak mulia.













