Kota Bandung, Idisi Online – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan kembali turun langsung ke wilayah melalui Siskamling Siaga Bencana. Kali ini di Kelurahan Burangrang, Kecamatan Lengkong, Junat 9 Januari 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah dan warga untuk membedah persoalan nyata permukiman sekaligus mengevaluasi pelaksanaan Program Prakarsa RW.
Wali Kota Bandung menerangkan, Prakarsa RW dirancang bukan untuk menghadirkan pembangunan yang bersifat simbolik, tetapi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.
“Program ini kami rancang hampir satu tahun. Bukan untuk bangunan yang kelihatan gemerlap, tapi tidak menyentuh persoalan dasar warga. Rasanya tidak adil kalau jalan utama kinclong, tapi permukimannya tertinggal,” katanya.
Menurutnya, penataan permukiman harus menjadi prioritas, baru kemudian disusul pembenahan jalan protokol.
Pendekatan kewilayahan inilah yang kini terus diperkuat Pemkot Bandung.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Bandung menjelaskan, Prakarsa RW di Kelurahan Burangrang baru dilaksanakan di RW 08.
Ia meminta seluruh ketua RW memastikan program diawali dengan rembug warga, sehingga penggunaan anggaran benar-benar berdasarkan kesepakatan bersama.
“Dana Rp100 juta itu harus jelas dipakai untuk apa. Kalau pelaksanaan dan pelaporannya rapi, tahun depan anggarannya bisa terus meningkat,” ujarnya.
Ia mengingatkan, saat ini kendala utama bukan pada pelaksanaan kegiatan, melainkan ketertiban pelaporan.
Mengingat skema Prakarsa bisa dilakukan melalui swakelola, kelompok masyarakat, maupun pihak ketiga, laporan menjadi syarat mutlak untuk keberlanjutan program.
Farhan mengungkapkan, aspirasi warga memiliki tiga pintu resmi, yakni melalui:
1. Reses anggota DPRD.
2. Musrenbang, melalui ketua RW bersama lurah dan camat.
3. Prakarsa RW, yang sepenuhnya berbasis kesepakatan warga.
“Silakan pilih jalur yang paling tepat. Semua tersedia, tinggal dimaksimalkan,” katanya.
Perlu diketahui, Kelurahan Burangrang terdiri dari 9 RW dan 65 RT masih menghadapi sejumlah persoalan lingkungan. Di antaranya saluran air kotor yang belum tertangani optimal, bangunan yang berdiri di atas saluran, serta pohon rawan tumbang.
Menutup dialog, Farhan memastikan, wilayah Bandung Selatan tidak boleh terus dianggap sebagai kawasan pinggiran.
Melalui pendekatan kelurahan dan RW, Pemkot Bandung berupaya memastikan pembangunan berjalan lebih adil dan merata.
“Bandung harus dibangun dari dalam kampungnya. Kalau permukimannya rapi, aman, dan sehat, maka wajah kota akan ikut berubah,” pungkasnya.
Kunjungan Kerja di Kelurahan Burangrang, Wali Kota Bandung, Farhan Tegaskan Prakarsa RW Harus Dirasakan Warga Masyarakat






