Garut, idisionline.com – Sekolah Menengah Pertama (SMP) PGRI Kadungora, yang berlokasi di Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut. Diketahui dibawah naungan Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP). Kini tengah diterpa Isu miring, disinyalir lakukan pungutan liar (Pungli)

Indikasi adanya praktik pungli yang dilakukan sekolah itu mulai merebak dikalangan publik. Terkuak dari mulai pungutan Murid baru tiap Tahun ajaran, pungutan daftar ulang hingga pungutan bulanan berdalih infaq.



Celakanya lagi hasil pungutan infaq bulanan sebesar Rp.10.000/murid tersebut, kabarnya digunakan untuk membayar angsuran kredit ke bank.

Sumber informasi menyebut adanya pengajuan kredit senilai Rp. 200.000.000, yang diajukan Kepala SMP PGRI Kadungora kepada salah satu Bank dengan agunan Sertifikat Hak Milik. Berdalih untuk penuhi keperluan sekolah serta disetujui sejumlah Guru.

Padahal keperluan operasional sekolah telah dicover dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Belum lagi hasil pungutan yang diraup dari Murid baru Tahun Ajaran 2026/2027, sebesar Rp. 800.000/Murid. Pungutan biaya daftar ulang murid kelas VIII dan kelas IX, yang dibandrol sebesar Rp.300.000/murid.

Jika diakumulasi nilai pungutan yang dilakukan tiap tahun dengan asumsi jumlah Murid baru (Kelas VII) sebanyak 150 Murid total pungutan diperkirakan  Rp 120.000.000. Ditambah pungutan daftar ulang  dengan jumlah murid 300 (Kelas VIII dan kelas IX) mencapai nilai cukup fsntastis.

Pungutan tersebut dilakukan tiap Tahun ajaran sebelum sebelumnya. Hanya nilai yang sedikit berbeda. Untuk Murid baru Rp. 600.000 dan daftar ulang Rp. 200.000/ Murid.

Hasil pungutan tersebut disinyalir tidak jelas peruntukannya. pihak sekolah raup banyak keuntungan. Murid baru hanya diberi pakaian olah raga, batik dan atribut sekolah.

Informasi yang berhsil dihimpun terkait persoalan itu, Ditepis Kepala SMP PGRI, Teti Kurniati, S.Pd yang berhasil dikonfirmasi, Jumat (10/09/2025). Teti membantah tudingan itu.

“Semua tudingan yang diarakan kepada kami itu fitnah. Semua disini gratis tiadak ada pungutan. isu ini saya kira sengaja digemboskan dari pihak internal, saya tahu itu

Disinggung ihwal kredit senilai Rp. 200.000.000 yang diajukan, Teti Kurniati tidak menampik hal itu memang benar.

“Memang benar saya pinjam ke Bank 200 untuk renovasi saran kelas berikut lapang. Pinjaman itu murni atasnama Saya untuk kepentingan sekolah. Aangsuran tiap bulan saya yang bayar tanpa libatkan iuran murid” ketusnya.

“Coba saja konfirmasi dengan ketua komite, saya yakin jawabannya sama” ucapnya penuh jumawa.

Pernyataan yang dilontarkan Kepala SMP PGRI Kadungoran, penuh tendensi dan emosi. Namun bagaimanapun hebatnya membantah, kebenaran suatu waktu akan membongkar.

Pengumpulan Data dan fakta serta keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan, bisa jadi pintu masuk pihak berwebang ungkap kebenaran.

Sejauh ini hingga berita dirilis, Ketua Yayasan YPLP serta Jajaran pengurus PGRI Garut belum sempat ditemui untuk diminta tanggapannya.

***Yus/Red

Info Lainnya  Dokumen Pribadi Customer Rusak dan Hilang, J&T Express dinilai Ceroboh