Bandung, IO – Kamis lalu 30 April 2026. Penunjukan Susi Pudjiastuti sebagai Komisaris Utama Independen Bank bjb dalam RUPST tahun buku 2025 menuai sorotan. Tokoh Jawa Barat, Eka Santosa, mempertanyakan relevansi langkah tersebut di sektor perbankan yang ketat dan teknis.
Eka mengakui reputasi Susi sebagai figur publik kuat, namun menegaskan perbankan bukan ruang simbolik. “Ini industri berbasis kepercayaan dengan standar profesional tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, latar belakang Susi sebagai pengusaha dan mantan pejabat tidak otomatis linier dengan kebutuhan kompetensi perbankan. “Susi adalah ikon, tapi bank membutuhkan lebih dari sekadar ikon,” kata Eka.
Ia juga mengingatkan potensi politisasi dalam penunjukan ini. Nama besar Susi, kata dia, jangan dijadikan alat pencitraan. “Jangan sampai ini hanya langkah kosmetik yang justru berisiko pada institusi dan reputasi pribadi,” tegasnya.
Eka menyoroti krusialnya uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Ini bukan formalitas. Banyak figur publik gagal karena tak memenuhi parameter teknis,” ujarnya.
Meski mengkritik, Eka menegaskan dukungannya terhadap Susi tetap kuat jika ditempatkan di sektor yang sesuai dengan rekam jejaknya, seperti kelautan dan perikanan.
Hingga berita ini diturunkan, Bank bjb belum memberikan keterangan resmi terkait dasar penunjukan maupun kesiapan menghadapi uji kelayakan di OJK.(DY)
Eka Santosa Soroti Penunjukan Susi Pudjiastuti Menjadi Komisaris Utama Independen BJB







