Timur Tengah, Idisionline – Di tengah eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, sebuah terobosan diplomasi tingkat tinggi tengah berlangsung di balik layar. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilaporkan telah secara rahasia memberi tahu utusan khusus AS, Steve Witkoff, bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, telah menyetujui pembicaraan potensial guna mengakhiri konflik. Hal ini berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh Al-Arabiya pada Rabu (24/03)
Namun, laporan terbaru dari BBC (25/03) memberikan pandangan yang lebih berhati-hati. Meskipun ada “jendela kecil” untuk diplomasi, para pengamat menilai bahwa berakhirnya perang secara instan masih sangat tidak mungkin terjadi karena tuntutan kedua belah pihak yang kian mengeras.
Kabar kesediaan negosiasi ini muncul tak lama setelah Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan pasca-tewasnya Ayatollah Ali Khamenei. Merespons sinyal ini, Presiden AS Donald Trump dengan cepat mengklaim di media sosial dan di hadapan wartawan bahwa perundingan “yang sangat kuat” sedang berlangsung. Trump menyatakan bahwa pembicaraan ini bisa mengarah pada “resolusi konflik yang utuh dan total di Timur Tengah.”
Sebagai bentuk itikad baik (dan tekanan), Trump mengumumkan bahwa ia telah menunda rencana serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan. Menurut analisis BBC, penundaan ini menjadikan hari Jumat –tepat saat pasar keuangan global ditutup—sebagai tenggat waktu (deadline) baru yang sangat krusial bagi nasib perundingan tersebut.
Meskipun Trump terdengar sangat optimis, laporan BBC mengungkap bahwa komunikasi antara Araghchi dan Witkoff masih pada tahap “sangat awal” (preliminary). Bahkan, para pejabat di Teheran dikabarkan mulai memandang jalur komunikasi Witkoff dengan kecurigaan, menganggapnya sebagai kemungkinan akal-akalan atau manuver pengelabuan (subterfuge) dari pihak AS.
Sementara negosiasi rahasia diupayakan, perang urat saraf di ranah publik terus berlanjut. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Ghalibaf, kini mengambil peran layaknya “kepala troll” (troller-in-chief) di media sosial, secara aktif menantang dan membalas berbagai rentetan pernyataan Trump.
BBC juga menyoroti bahwa Trump tampaknya sedang mencari sosok pemimpin pragmatis dan kuat di Iran yang bisa ia “tundukkan” untuk memuluskan kesepakatan—mirip dengan skenario yang ia terapkan di Venezuela bersama Presiden sementara Delcy Rodríguez di awal masa jabatannya.
Hambatan terbesar saat ini adalah tuntutan keras dari kedua belah pihak. Berdasarkan analisis BBC, Iran baru-baru ini menerbitkan daftar tuntutan perdamaian yang dipandang sangat mustahil untuk diterima oleh Washington. Tuntutan tersebut mencakup penutupan seluruh pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, pembayaran biaya pampasan perang (reparasi), serta jaminan tegas agar agresi serupa tidak terulang di masa depan. Di sisi lain, tuntutan dari AS juga ikut mengeras.
“Trump sepertinya percaya bahwa perang ini telah memberinya daya tawar (leverage) tambahan untuk memaksa Iran menerima syarat-syaratnya,” ungkap Mohammad Ali Shabani, editor situs Amwaj.media yang dikutip BBC. “Namun di saat yang sama, Iran merasa posisinya sudah semakin kuat dan memiliki nilai tawar strategis yang besar di Selat Hormuz.”
Pakar diplomasi dan peneliti kebijakan senior serta wakil kepala program Timur Tengah dan Afrika Utara di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, Ellie Geranmayeh, seperti yang dikutip dari BBC juga mengingatkan bahwa pertemuan tatap muka di tingkat pejabat tinggi belum akan terjadi dalam waktu dekat. “Kedua belah pihak tidak akan bertemu di level tersebut sampai AS dan Iran benar-benar mendekati terobosan politik, dan ada banyak negosiasi teknis yang harus dilalui sebelum mereka mencapai tahap itu,” jelasnya. (Rdw)






