ArtikelSosial & Budaya

Penelusuran Sejarah : Dalem Boncel Putra Bungbulang Garut Yang Menjadi Dalem Di Kadipaten Caringin Banten Tahun 1840 – 1849

×

Penelusuran Sejarah : Dalem Boncel Putra Bungbulang Garut Yang Menjadi Dalem Di Kadipaten Caringin Banten Tahun 1840 – 1849

Sebarkan artikel ini

Oleh : Kang Oos Supyadin SE MM (Pemerhati Kesejarahan dan Budaya)

A. Sejarah Kadipaten Caringin Banten

Caringin merupakan sebuah dusun/kampung yang terletak dipesisir pantai kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Pada jaman Kesultanan Banten Caringin adalah sebuah pelabuhan yang sangat maju, itu terlihat dengan adanya ekspansi bangsa asing (Belanda) tahun 1813 yang memecah kesultanan Banten menjadi 4 Wilayah yaitu Banten Kidul, Banten Kulon, Banten Lor dan Banten Tengah.

Kemajuan disektor pertanian membuat Caringin menjadi ( Top Rice in Banten) setelah Tirtayasa (Pontang) dan pemerintah keresidenan menyebutnya sebagai lumbung padi yang paling tersohor di wilayah kekuasaannya.

Selanjutnya pada tanggal 2 Desember 1828, Hindia Belanda membagi wilayah keresidenan Banten menjadi 3 kabupaten ; yaitu kadipaten Serang, Kadipaten Lebak dan kadipaten Caringin, yang mana kadipaten Caringin yang pada sekitar 1840-an dipimpin oleh seorang patih dari Bungbulang Garut yang bernama Raden Tumenggung Wiradijaya (1840-1849) sehingga warga sekitar memanggilnya Raden Dalem atau Regen Boncel atau lebih dikenal dengan julukan Dalem Boncel.

Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Wiradijaya atau Regen Boncel, Caringin mempunyai torehan (Peringkat) luar bisa disektor pertanian, pembangunan dan kebijakan monopoli perdagangan, sehingga bangsa asing yang berkunjung ke kadipaten/kabupaten Caringin amatlah banyak dan perairan sungai Ci Sanggom, Cisukma sampai ke perairan Banyubiru banyak dilalui oleh kapal-kapal dagang eropa dan timur tengah, seperti India, Spanyol, Ingris, Belanda, Prancis bahkan Cina dan Arab yang erupakan Konsumen dagang yang bisa dianggap sering berkunjung.

Dikutif dari buku (Catatan Masa Lalu Banten ; Ambary) yaitu pada tahun 1839 M, bupati Serang Raden Adipati Jayakusuma Ningrat lantas diganti oleh Raden Adipati Manduraraja Jaya Negara (bupati Caringin), setelah itu beliau digantikan oleh Raden Tumenggung Wiradijaya (Regen Boncel) Bupati yang baru berasal dari Bungbulang Garut. Sedangkan yang menjabat di Pandeglang pada saat itu ialah Raden Ario Condro Negoro, yang memang keduanya bukan dari kalangan bangsawan asli bangsa Banten.

B. Gunung Krakatau Menjadi Bukti Peradaban Masa Lalu Kadipaten Caringin

Pada tanggal 27 Agustus 1883 M, Gunung berapi yang berada di dasar laut Jawa-Sumatera (Selat sunda) bernama Gunung Krakatau yang
tertidur lamanya akhirnya terbangun dan meluluh lantahkan sekitar pulau jawa dan sekitarnya dengan kekuatan 250 Megaton Bom Atom Hiroshima dan Nagashaki. Sehingga pemukiman disekitar pantai pulau Jawa-Sumatera serta Bandar-Bandar Niaga Hindia Belanda hancur menjadi puing-puing reruntuhan bersejarah.

Kadipaten Caringin pada saat itu yang penduduknya banyak menjadi korban, umumnya mereka tewas di terjang tsunami setinggi pohon kelapa (20 meter).

Asisten Jao Van den Bosch termasuk P. Schalk, tewas seketika dan bupati Caringin Raden Tumenggung Jaya Negara bersama 55 orang keluarganya tewas pula. Tercatat 12.000 orang meninggal dunia di wilyah Kadipaten Caringin.

Bahkan menurut warga sekitar ada satu pemukiman penduduk yang hilang dan berada dipedalaman laut pesisir pantai caringin yang terkena bah tsunami Krakatau. Karena dahulu jarak laut ke dataran tinggi cukup jauh, maka bisa saja, masih banyak puing- puing bangunan yang masih terpedam didasar laut bekas letusan gunung Krakatau 1883.

Kadipaten Caringin dipenghujung Abad Ke-18 M atau kisaran sebelum abad ke 19 masehi kadipaten Caringin adalah sebuah kota dan pelabuhan niaga bangsa asing yang bermukim dan menjalin hubungan dengan kaum pribumi, sehingga timbul kepedulian antar umat beragama baik sesama maupun non-muslim.

Kadipaten Caringin pada masa tersebut adalah sebuah pemukiman padat penduduk, ini terlihat dengan beberapa aktivitas penduduk local dan ragam social masyarakat asing yang membaur menjadi satu. Walaupun notabenya masyarakat pada saat itu adalah seorang nelayan, buruh dan petani, namun tingkat kesejahteraan bisa dibilang makmur.

Dengan adanya lajur ekonomi membuat masyarakat sekitar mendapatkan penghasilan yang cukup untuk melakukan niaga (Perdagangan) dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Komoditas rempah-rempah membuat Caringin bisa dikatan sebagai jalur dagang alternatif, selain dekat dengan perairan Caringin pun tidak begitu jauh dari pedalaman hutan dan pegunungan.

Namun, kebijakan ekonomi Hindia Belanda yang tidak sesuai dan memberatkan pribumi, membuat rakyat semakin terpuruk dan sengsara. Sehingga dibeberapa wilayah seperti di pesisir timbulah perlawanan rakyat yang dipimpin oleh para ulama dan santri untuk menghentikan peran kolonial yang semata-mata menguntungkan pihak asing sendiri tanpa peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya. Itu terlihat dari eksplorasi kompeni yang memegang kendali lajur ekonomi dan perdagangan rempah-rempah dengan harga tinggi. Sehingga penjual hanya mendapatkan harga minim dari rempah-rempah yang dijualnya.

Keterpurukan dan koropsi pun merajalela dari kaum bangsawan sampai ke kesultanan. Walaupun sultan pada saat itu yang memegang kebijakan. Namun, tetap saja, kompenilah yang ada dibelakang. Sangat jelas sekali kaum pribumi dirugikan dengan kebijakan-kebijakan politik ethis Hindia Belanda apalagi yang notabennya dari kaum kecil. Mereka memeras keringat pribumi tanpa ada rasa terimaksih.
Masih timbul banyak pertanyaan bagi penulis, termasuk bagaimana pasca (setelah) terjadinya letusan Gunung Krakatau di wilayah Caringin dan kisaran kurun waktu setelah lengsernya Raden Tumenggung Wiradijaya (Regen Boncel) yang kalau dibabakan periode masanya dari tahun 1813, 1828, 1839, 1840, 1849 sampai dengan 1883 kurang lebih sekitar 70 Tahun silam.

C. Bukti Sejarah Peninggalan yang masih banyak ditemukan di wilayah Desa Pejamben dan sekitarnya

Pejamben merupakan salah satu wilayah yang berada di daerah Pandeglang-Banten, suatu daerah padat penduduk, memang pada saat itu keluarahan/desa Pejamben belum ada namun secara historis pejamben memiliki banyak kisah panjang tentang Kadipaten Caringin Pada Abad ke-18 sampai dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Beberapa peninggalan Pejamben Banten Heritage (Pejamben Warisan budaya Banten) yang memperlihatkan potensi sejarah kadipaten Caringin pada abad ke-18 dan Abad ke- 19 Masehi, yaitu sebagai berikut :
1. Makom Raden Tumenggung Wiradijaya (Regen Boncel) dan istrinya Widaningrum dengan tulisan di batu nisannya (1840-1849) tepatnya di TPU-Cibango Desa Pejamben.
2. Makom Pangeran Jimat (Yudanegara) tahun tidak diketahui.
3. Makom Pangeran Raden Mas Kusumah Nagara 1849 (anak dari Raden Tumenggung Wiradijaya (“Regen Boncel”).
4. Terdapat 20 Makom tidak dikenal dengan batu nisan berbentuk kubah lonjong (Perkiraan makom demang, adipati dan patih-patih terdahulu)
5. Makom Syekh Mantri (Penasehat Kesultanan Banten) di komplek Sekolah MDTA Riyadhunasiin Kp. Caringin Lor.
6. Benteng Jepang dicaringin, yang berkisar dari tahun 1942-1945.
7. Makom Pembantaian Komunis tahun tidak dapat diketahui.
8. Gedung Rombeng (Gedung Tua) diwilayah Pesisir Pantai Caringin.
9. Makom Syekh K.H. Asnawi Caringin, yaitu Ulama dan pejuang kebanggan tahan air Indonesia (situs BCB).
10. Makom Patih Rasinah (tidak dapat diketahui Riwayatnya).
11. Sejarah Pasir Lame Desa Pejamben.
12. Komplek Makom Cina dikampung Cidoke-Pejamben (tidak diketahui tahunnya).
13. Kademangan (Salah satu Kampung yang berada didesa Caringin).
14. Gedung Kewedaan Labuan yang menjadi symbol adanya historical masa penjajah (Sekarang Sudah Hilang).
15. Rel Kereta Api dan Stasiun Kereta Api Labuan kisaran abad ke-19 M (sekerang sudah tdk terawat).
16. Benteng Jepang diteluk-Labuan dibangun kisaran Abad ke-19 M (tidak ada yang tahu riwayatnya).
17. Masjid Agung “assalafi” Caringin di desa Caringin (dibangun pada tahun 1884 oleh KH. Syekh Asnawi Caringin) dan salah satu situs BCB.
18. Komplek Makom Syehk Daud di Cigondang-Labuan (situs BCB yang dikelola Warga Cigondang).
19. Jejeran Pohon Asem disepanjang Jalan Caringin-Jiput (Orde Lama).
20. Masjid Tua Nurul Huda Kampung Kadupayung Desa Bama.
21. Situ Cening di kawasan desa Jiput
22. Tempat pemeliharaan kuda, salah satunya Kandang kuda milik mang Jaman (Delman ; Kuda Para Demang dan bupati) di sekitar kampung Siruang desa Caringin (Bestcamp). Ada seorang warga desa Caringin yang bernama mang Jaman (alm.) Ia mempunyai Delman yang dipakainya untuk mencari nafkah. Namun, disayangkan Delaman itu sudah hamper punah.
23. Sekolah tua Mts/MA Masyariqul Anwar (Pusat Pendidikan Belajar yang cukup tua diwilayah Kecamatan Labuan Berada di Desa Caringin).
24. Benteng Peninggalan Jepang di kampung Laba.
25. Mitologi Tenjolahang (Cerita Rakyat Tenjolahang) dan Mitologi Pejamben (Cerita/Legenda Rakyat Pejamben)

D. Sekilas Cerita Perjalanan Si Boncel Bungbulang Hingga Menjadi Seorang Dalem (Bupati)

Diambil dari buku bacaan Cerita Rakyat Jawa Barat Dalem Boncel yang ditulis oleh Dra. Sunarsih, M.Hum bahwa sekitar awal abad 18 atau awal tahun 1700 an disebutlah kisah seorang petani suami istri di daerah Bungbulang yang hidupnya serba kekurangan dan mereka memiliki seorang anak laki-laki yang diberinama Boncel.

Keadaan masyarakat Bungbulang saat itu masih terbilang sangat sedikit, si Boncel kesehariannya suka membantu orang tuanya bertani. Keadaan inilah yang mendorong si Boncel berkeinginan merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Maka pada suatu hari si Boncel minta restu kepada kedua orangtuanya untuk berpamitan mencari pekerjaan keluar dari Bungbulang.

Dikisahkan perjalanan si Boncel adalah menuju daerah Cidaun Cianjur Selatan, di tengah hutan dalam perjalanannya tiba-tiba ia digong-gong anjing yang sedang memburu di hutan tersebut. Namun untunglah pemburu itu segera menghampiri si Boncel dan ditanya siapa, darimana dan mau pergi kemana untuk tujuan apa.

Setelah si Boncel menjelaskannya maka pemburu itu akhirnya mengajak si Boncel tinggal bersama dengan diberi pekerjaan mengurus kuda-kuda yang suka dipake memburu ke hutan. Pemburu itu bernama Ki Paninggaran seorang jawara sekaligus guru silat dari berbagai daerah yang hobbinya memburu ke hutan.

Tak terasa si Boncel sudah seminggu mengabdi di Ki Paninggaran sebagai tukang rumput makanan kuda, ia ingin mencari pekerjaan yang lebih baik lagi maka akhirnya ia memberanikan diri untuk ijin keluar mencari pekerjaan yang lebih baik, dan Ki Paninggaran mengijinkannya.

Dengan berbekal upah selama seminggu di Ki Paninggaran, maka Si Boncel terus melakukan perjalanan melewati Cidaun ke arah Sukabumi terus Cikotok Banten dan tibalah di wilayah Caringin Pandeglang Banten, saking kelelahannya ia memberanikan diri tidur bermalam di emperan rumah seseorang. Besok paginya si pemilik rumah yang tiada lain adalah pegawai desa di Caringin membangunkan si Boncel yang tengah lelap tidur. Lalu ditanya siapa, darimana, mau kemana dengan tujuan apa. Si Boncel pun menjelaskannya dengan harapannya bisa diterima bekerja di daerah sini.

Akhirnya pegawai desa tersebut mengajak si Boncel untuk tinggal bersama dan mengurus kuda-kudanya serta bisa antar jemput anaknya yang masih sekolah.

Pergaulan si Boncel dengan anak pegawai desa menyebabkan si Boncel jadi bisa baca, tulis dan hitung. Bahkan tempat kandang kuda majikannya oleh si Boncel ditulisin ‘Kandang Si Jalu’ dan ‘Kandang Si Gagah’.

Kepintaran si Boncel membuat majikannya mengangkat si Boncel membantu surat menyurat di desa, hingga membentuk pribadi si Boncel yang menjadi serba bisa dan semakin luas pengetahuannya.

Seiring majikannya naik jabatan menjadi lurah maka si Boncel diangkatnya sebagai sekretaris lurah, lalu majikan menjadi seorang Dalem Caringin maka si Boncel menjadi patihnya, dan akhirnya sang Dalem wafat maka si Boncel lah yang menggantikannya menjadi Dalem. Dan resmilah Boncel seorang dari Bungbulang Garut menjadi Dalem di Kadipaten Caringin Banten tahun 1840 – 1849.

Si Boncel yang setelah diangkat menjadi Dalem maka bergelar Raden Tumenggung Wiradijaya memiliki seorang istri bernama Nyimas Widaningrum dengan seorang putra bernama  Pangeran Raden Mas Kusumah Nagara.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dengan harapan banyak pihak yang berkenan melengkapi dan menyempurnakan sejarah Dalem Boncel Putra Bungbulang Garut ini.
Dengan keterbatasan sumber dan informasi penulis berharap banyak kritikan serta saran yang membangun. Namun, dari catatan kecil penulis, semoga menjadi kado istimewa para penggiat sain dan kaum terpelajar agar lebih mendalami tentang sejarah local.

Wallahualam

Info Lainnya  Tidak Hilang Ditelan Zaman, Kang Haji Cucun: Generasi Muda Harus Dikenalkan Pencak Silat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Idisi Online

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

138000491

138000492

138000493

138000494

138000495

138000496

138000497

138000498

138000499

138000500

138000501

138000502

138000503

138000504

138000505

138000506

138000507

138000508

138000509

138000510

138000511

138000512

138000513

138000514

138000515

138000516

138000517

138000518

138000519

138000520

138000521

138000522

138000523

138000524

138000525

article 138000526

article 138000527

article 138000528

article 138000529

article 138000530

article 138000531

article 138000532

article 138000533

article 138000534

article 138000535

article 138000536

article 138000537

article 138000538

article 138000539

article 138000540

article 138000541

article 138000542

article 138000543

article 138000544

article 138000545

article 138000546

article 138000547

article 138000548

article 138000549

article 138000550

article 138000551

article 138000552

article 138000553

article 138000554

article 138000555

158000396

158000397

158000398

158000399

158000400

158000401

158000402

158000403

158000404

158000405

158000406

158000407

158000408

158000409

158000410

158000411

158000412

158000413

158000414

158000415

article 158000416

article 158000417

article 158000418

article 158000419

article 158000420

article 158000421

article 158000422

article 158000423

article 158000424

article 158000425

article 158000426

article 158000427

article 158000428

article 158000429

article 158000430

article 158000431

article 158000432

article 158000433

article 158000434

article 158000435

208000411

208000412

208000413

208000414

208000415

208000416

208000417

208000418

208000419

208000420

208000421

208000422

208000423

208000424

208000425

208000426

208000427

208000428

208000429

208000430

208000431

208000432

208000433

208000434

208000435

article 208000436

article 208000437

article 208000438

article 208000439

article 208000440

article 208000441

article 208000442

article 208000443

article 208000444

article 208000445

article 208000446

article 208000447

article 208000448

article 208000449

article 208000450

article 208000451

article 208000452

article 208000453

article 208000454

article 208000455

article 208000456

article 208000457

article 208000458

article 208000459

article 208000460

article 208000461

article 208000462

article 208000463

article 208000464

article 208000465

208000436

208000437

208000438

208000439

208000440

208000441

208000442

208000443

208000444

208000445

208000446

208000447

208000448

208000449

208000450

208000451

208000452

208000453

208000454

208000455

228000271

228000272

228000273

228000274

228000275

228000276

228000277

228000278

228000279

228000280

228000281

228000282

228000283

228000284

228000285

article 228000286

article 228000287

article 228000288

article 228000289

article 228000290

article 228000291

article 228000292

article 228000293

article 228000294

article 228000295

article 228000296

article 228000297

article 228000298

article 228000299

article 228000300

article 228000301

article 228000302

article 228000303

article 228000304

article 228000305

article 228000306

article 228000307

article 228000308

article 228000309

article 228000310

article 228000311

article 228000312

article 228000313

article 228000314

article 228000315

238000241

238000242

238000243

238000244

238000245

238000246

238000247

238000248

238000249

238000250

238000251

238000252

238000254

238000255

238000256

238000257

238000258

238000259

238000260

article 238000261

article 238000262

article 238000263

article 238000264

article 238000265

article 238000266

article 238000267

article 238000268

article 238000269

article 238000270

article 238000271

article 238000272

article 238000273

article 238000274

article 238000275

article 238000276

article 238000277

article 238000278

article 238000279

article 238000280

news-1701