Penulis: Hasna Mursyidatul Ummah Asy-Syahidah
Idisi Online,- Penyerangan Israel di wilayah Gaza belum berakhir. Sejak 07 Oktober 2023, terjadi penyerangan brutal yang mengakibatkan korban berjatuhan. Tidak hanya korban jiwa, penyerangan brutal ini menyebabkan hancurnya wilayah-wilayah Gaza, fasilitas kesehatan setempat, pasokan medis yang sangat akut dan kekurangan obat-obatan.
Terarsirnya zona kemanusiaan aman dari total wilayah Gaza Selatan, yang awalnya terdapat 63% wilayah Gaza menjadi 9,5% wilayahnya. Minimnya tempat berlindung bagi warga Palestina mendorong mereka pada kondisi krisis kemanusiaan. Ditambah lagi dengan pernyataan Kementerian Kesehatan Gaza bahwa akan ada penghentian total layanan medis dikarenakan keterbatasan yang ada. Tidak tanggung-tanggung, Israel juga turut memutuskan pasokan listrik pengiriman bahan bakar salah satunya untuk pembangkit listrik setempat sambil menutup perbatasan.
PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) selaku pelopor kemanusiaan melontarkan tuduhan genosida pada Israel yang diputuskan di Mahkamah Internasional, memerintahkan penghentian operasi militer di kota Rafah bagian Selatan Gaza. Fakta bahwa penyerangan masih aktif sampai saat ini, PBB kemudian mengambil langkah mengajukan perdamaian atas nama kemanusiaan. Namun tidak semudah itu perdamaian terjadi, karena Israel mengajukan persyaratan agar perdamaian berjalan lancar yaitu mengajukan penempatan pasukannya di jalur perbatasan Netrazim dan jalur perbatasan antara Gaza dan Mesir, juga mengusulkan untuk mengembalikan warga sipil ke bagian Utara Gaza.
Duka kaum manusia tiada henti-hentinya meminta keadilan, bertahun-tahun lamanya, kabar dari negeri semangka tak kunjung mengundang lampu hijau bagi seisi dunia. Tangisan mereka, panggilan mereka tidak mereda pada kita, saudara-saudara mereka. Tapi faktanya, tak semua manusia peduli dengan keberadaan mereka. Masih ada yang sibuk dengan hal-hal duniawi, bahkan memikirkan diri sendiri.
Dan lebih parahnya lagi, para pemimpin dunia pun menganggapnya sebagai urusan negara masing-masing. Mereka malah cenderung mengejar kursi kekuasaan, harta, dan kenikmatan hidupnya sendiri. Mereka memilih berdiam diri, tak mau ikut campur ataupun terlibat sebagaimana semestinya. Difikiran mereka hanyalah materi yang melimpah, alih-alih peduli terhadap kekejaman yang nyata dihadapan mereka.
Dan faktanya, hampir dari mereka merupakan seorang muslim. Alih-alih menjadi sahabat seiman seperjuangan mereka malah menjadi antek-antek musuh agamanya sendiri. Bahkan menjadi penyalur konsumsi para penyerang negeri Palestina. Innalillahi semuanya hanya demi keuntungan sendiri. Tak peduli untuk siapa, bagaimana akibat, dan kepada siapa dampaknya. Ideologi kapitalisme yang mereka terapkan, telah membunuh jutaan jiwa yang tak bersalah dengan berbagai cara. Dan ini menjadi bukti sistem dunia hari ini merupakan sistem yang jahat. Ini mencerminkan rusaknya kepemimpinan dunia.
Tindakan israel beserta pendukungnya bukanlah hal remeh. Segala bentuk perebutan dan penghancuran negara yang berakhir genosida tidak pernah dianggap benar oleh akal manusia. Apalagi di negara muslim jejak para utusan Allah. Genosida di Gaza adalah perang ideologi.
Ideologi yang benar takkan pernah mengakibatkan hal seperti ini terjadi. Hanyalah ideologi islam yang terbukti menyejahtarakan 2/3 dunia dalam sejarah. Sejak datangnya Rasulullah.SAW sampai keruntuhan Khilafah Utsmaniyah.
Sayangnya hari ini ideologi Islam baru diemban oleh individu dan belum diemban oleh negara.
Karena itu yang melawan adalah muslim Palestina dan individu yang berideologi Islam. Perang ini adalah perang melawan negara, sehingga membutuhkan tegaknya negara berideologi Islam, yaitu khilafah yang akan mendorong adanya jihad. Tegaknya Khilafah membutuhkan kesadaran yang sama, di tengah umat. Sehingga menjadi umat yang satu dalam penegakan agama yang diridhai-Nya. Wallahu a’lam bishawab.
Sampai Kapan Dunia Abai Pada Gaza?






