Arjasari, Bandung, Idisi Online – Kepala Desa Arjasari Rosiman bersama Babinsa melakukan sidak ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Arjasari 2, Desa Arjasari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Kamis 3 September 2026. Sidak digelar setelah muncul banyak keluhan warga penerima manfaat terkait kualitas makanan yang disajikan.
Kedatangan pihak desa dan Babinsa untuk mengecek langsung kesesuaian penyajian dengan standar harga paket Rp10.000 dan Rp8.000.
Dalam pertemuan, Ahmad Fauzi Kepala SPPG menjelaskan menu yang disajikan sudah disusun berdasarkan rekomendasi ahli gizi. Ia juga menyebut sudah membuat invoice sesuai menu dan menjalankan menu harian sesuai SOP.

“Kalau menurut menu itu sudah kami kerjakan sesuai SOP, per hari. Kenapa banyak menu yang tidak dimakan,” ujar fauzi saat dikonfirmasi.
Namun terkait keluhan rasa dan porsi, muncul dugaan adanya pengurangan kualitas menu sekitar 20 persen. Kepala SPPG menyebut pemotongan itu dilakukan pihak Aria perwakilan yayasan dan supplier dengan alasan penyesuaian anggaran.
Sidak juga menemukan sejumlah persyaratan SPPG yang belum dipenuhi. Kepala SPPG dan bagian akunting mengakui SPPG Arjasari 2 hingga kini belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi SLHS dan belum memiliki standar uji kualitas air.
“Memang ada beberapa hal yang belum terpenuhi dalam persyaratan di SPPG ini, termasuk SLHS dan uji kualitas air,” kata Kepala Desa Rosiman.
Pihak desa dan Babinsa meminta manajemen SPPG segera berkoordinasi dengan yayasan dan supplier untuk memperbaiki kualitas sajian. Mereka juga mendesak kelengkapan dokumen dan standar yang masih kurang agar program bantuan pangan berjalan sesuai ketentuan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak yayasan Quantum Berkah Zenith No.ID.SPPG.GZRHPIOW terkait dugaan pengurangan kualitas menu tersebut.
Rosiman menegaskan, SPPG Arjasari 2 sudah berjalan tujuh bulan tetapi belum memiliki SLHS dan hasil uji kualitas air. Ia meminta Badan Gizi Nasional BGN segera hadir untuk melakukan sidak ke SPPG Arjasari 2.
“Jangan sampai menunggu ada kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan,” cetus Rosiman.
Rep. Edwin
