Bandung, idisionline.com – Tata kelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dalam program ketahanan pangan yang diluncurkan di tahun anggaran 2025 merogoh 20% Dana Desa (DD). Sejauh ini sangat minim yang menuai hasil sesuai harapan.
Program yang terkesan dipaksakan itu tampak terlihat dalam realisasi tata kelola Bumdes menjalakan usaha program itu, tak sedikit yang gulung tikar dengan berbagai alasan.
Seperti halnya pengelolaan program andalan pemerintah tersebut direalisasikan Desa Dayeuh kolot, Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung.
Saat diwawancarai awak media dengan sambangi kantor Desa, Rabu (12/08/2026), Sekretaris Desa Sunardi diruang kerjanya menyebut penyertaan modal ketapang dan usaha yang dijalankan.
“Berhubung letak strategis tidak memungkinkan untuk sektor pertanian maupun peternakan, jadi BUMDES tahun 2025 bidang usahanya buka gerai jualan sembako. Lokasi gerainya di sekretariat Bumdes belakang kantor Desa”, ujarnya.
Pantauan awak media di gerai yang di tunjukan sekertaris desa tersebut. Didapati tidak ada kegiatan jual beli.
Kedai tidak nampak seperti habis mendapat kucuran dana, keadaan gerai tersebut nampak tidak seperti umum nya warung. tidak nampak barang jualan. Hanya nampak beberapa karung beras saja.
Alhasil penjelasan yang disampaikan Sekdes Dayeuhkolot dinilai hanya isapan jempol belaka, tak seperti harapan pemerintah bumdes jadi penopang ekomomi warga.
Sampai berita ini di terbitkan kepala Desa Y. Setiana dan direktur Bumdes, Hadi belum memberikan tanggapan resmi.
***Her
Pengelolaan Program Ketapang Desa Dayeuh Kolot Jualan Sembako Hanya Isapan Jempol Belaka








