KARAWANG – Langkah Satya Anggara menuju kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Bengle dimulai dengan cara sederhana.

Sebelum mendaftarkan diri sebagai bakal calon kepala desa, ia terlebih dahulu meminta doa dan restu dari kedua orang tuanya.

Malam sebelum pendaftaran, Satya pulang ke rumah dan memohon dukungan serta doa dari keluarganya.

Keesokan paginya, ia kemudian bersilaturahmi dengan warga di lingkungan tempat tinggalnya, para sesepuh, tokoh masyarakat, hingga warga di RT 21.

Dari lingkungan terdekat, perjalanan Satya kemudian berlanjut menuju lokasi pendaftaran.

Sekitar 700 orang turut mengiringi langkahnya dalam sebuah konvoi. Kedua orang tuanya pun hadir untuk mengantarkan langsung putranya mengikuti proses pendaftaran.

“Buat saya, ini bukan sekadar pendaftaran. Ini perjalanan yang dimulai dari restu orang tua dan doa masyarakat,” ujar Satya.

Satya mengaku maju dalam kontestasi Pilkades Bengle dengan keterbatasan logistik.

Namun, ia optimistis dapat membangun kekuatan melalui dukungan masyarakat, khususnya kalangan milenial dan pemuda.

Dengan mengusung gagasan Bengle Era Baru, Satya ingin membangun Desa Bengle melalui semangat kolaborasi.

Ia mengusung konsep pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, pemuda, dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga media untuk bergerak bersama.

Bagi Satya, pembangunan desa tidak bisa dilakukan hanya oleh kepala desa atau pemerintah desa semata. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar perubahan yang diinginkan dapat terwujud.

Di tengah persaingan menuju Pilkades, Satya juga menegaskan komitmennya untuk tidak menggunakan praktik politik uang.

“Suka atau tidak suka, politik uang memang sering menjadi bagian dari kontestasi. Tapi saya tidak mau menggunakan cara itu. Pilihan masyarakat harus lahir dari hati nurani,” katanya.

Menurutnya, setiap warga memiliki hak penuh untuk menentukan pilihan di bilik suara tanpa tekanan maupun pengaruh dari siapa pun.

Info Lainnya  Dandim 0604/Karawang Bacakan Amanat Menteri PPPA pada Peringatan Hari Anak Nasional ke-42

“Kalau ada yang memberi uang, silakan masyarakat menerima atau tidak. Tapi pilihan di bilik suara tetap menjadi hak masing-masing,” ucapnya.

Satya pun mengajak seluruh bakal calon dan para pendukung untuk menjaga suasana Pilkades Bengle tetap aman dan kondusif.

Ia menilai perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar dalam sebuah demokrasi, namun tidak boleh sampai menimbulkan permusuhan di tengah masyarakat.

“Sedikit panas dalam kontestasi mungkin wajar. Tapi jangan sampai kita bermusuhan. Semua calon harus siap kalah, jangan cuma siap menang,” tegasnya.

Dengan keterbatasan logistik yang dimiliki, Satya memilih melangkah dengan keyakinan dan membawa program sebagai kekuatan utama.

Baginya, pencalonan tersebut bukan hanya soal memenangkan kontestasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan sejarah baru bagi Desa Bengle.

“Modal nekat, program hebat. Kita ingin membuat sejarah untuk Bengle,” pungkasnya.