AdvertorialSosial & Budaya

KERAJAAN-KERAJAAN YANG ADA DI TATAR SUNDA

×

KERAJAAN-KERAJAAN YANG ADA DI TATAR SUNDA

Sebarkan artikel ini


Oleh : Prof. Dr. Nina Herlina, M.S.

Pengantar

@IdisiaOnline
Gulir untuk membaca

Tidak semua kabupaten/kota di Jawa Barat ikut dalam kirab budaya, atau tidak diikutkan, sehingga masyarakat ada yang protes, misalnya Masyarakat Adat Kabupaten Garut.
Oleh karena itu, saya, selaku Ketua Tim Peneliti Hari Jadi Tatar Sunda, merasa perlu menyampaikan informasi tentang kerajaan-kerajaan yang ada di Tatar Sunda, yang umumnya memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Sunda. Seperti diketahui bahwa kirab budaya kali ini, memamerkan  Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, mahkota penobatan Raja-raja Sunda, yang dibuat di Kerajaan Galuh, dan sekarangdisimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, di Sumedang.

Periode Pra Tarumanegara

Yang dimaksud dengan Tatar Sunda adalah wilayah yang terbentang dari Ujung Barat Pulau Jawa, yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Banten, diikuti wilayah yang sekarang disebut Daerah Khusus Ibukota Jakarta, hingga sebagian wilayah yang sekarang disebut Provinsi Jawa Tengah dari Pantai utara Brebes hingga ke Pantai Selatan Cilacap.  Kerajaan apa saja yang pernah ada di Tatar Sunda ini?

Sebuah berita Cina yang berasal dari tahun 132 menyebutkan bahwa Raja Pien dari kerajaanYe-tiao meminjamkan meterai mas dan pita ungu kerajaannya kepada Maharaja Tiao-pien. Menurut G. Ferrand, seorang ahli sejarah Perancis, Ye-Tiao adalah nama yang diberikan oleh orang Cina untuk menyebut Yawadwipa, sedangkan Tiao-pien adalah lafal Cina dari nama Sansekerta Dewawarman (Krom, 1931: 61-62).

Dalam Naskah Wangsakerta diberitakan danya Dinasti Dewawarman lengkap dengan masa pemerintahannya di Kerajaan Salakanagara sejak awal abad Masehi, secara historis sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Namun, berdasarkan prinsip yang dikemukakan Gilbert Garraghan (1956), disebutkan bahwa dalam ketiadaan sumber, maka sumber sekunder seperti ini dapat dipakai, meskipun dianggap sebagai pembuktian yang sangat lemah, hingga ditemukan bukti yang baru.

Kerajaan Tarumanagara

Pusat kekuasaan pertama di Tatar Sunda, yang memiliki bukti-bukti berupa sumber primer berupa prasasti tentang eksistensinya, dan juga termasuk yang awal di Nusantara, adalah Kerajaan Tarumanagara. Hingga sekarang, Raja Tarumanagara yang terkenal dan yang dikenal adalah Purnawarman. Sumber tertulis yang memberitakan tentang Tarumanagara adalah berita Cina, masing-masing berasal dari Fa-hsien tahun 414, Dinasti Soui dan T’ang, serta tujuh buah prasasti batu.

Pada tahun 414, seorang Cina yang menjadi biksu kembali dari ziarah ke India. Perahu yang ditumpanginya diterjang badai sehingga terdampar di suatu tempat bernama Ye-po-ti. Menurut pendeta yang bernama Fa-hsien itu, di Ye-po-ti hanya sedikit ditemukan orang beragama Budha. Mereka umumnya beragama Brahmana, dan lebih banyak yang beragama “kotor”.

Selanjutnya berita dari Dinasti Soui antara lain menyebutkan bahwa pada tahun 528 dan tahun 535, datang utusan dari T’o-lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Sementara itu, sumber dari masa Dinasti T’ang juga menyebutkan bahwa pada tahun 666 dan tahun 669 datang utusan dari T’o-lo-mo (Moens, 1937: 363).

Rupanya dapat dipastikan bahwa T’o-lo-mo adalah nama tempat di daerah Tatar Sunda. Karena dari abad kelima itu ditemukan sejumlah tinggalan purbakala yang berkenaan dengan Tarumanagara, tidak salah jika sebutan T’o-lo-mo disesuaikan dengan Taruma(nagara) (Poerbatjaraka, 1951: 28).

Sumber lain berupa prasasti yang ditemukan di daerah yang berjauhan, dari dusun Batu Tumbuh di Jakarta Utara (sebuah), melalui daerah Ciampea, Bogor (lima buah), dan ke Cidanghiang di daerah Pandeglang, Banten (sebuah). Ketujuh buah prasasti itu adalah Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor) terletak di pinggir Sungai Ciaruteun dekat muara Cisadane; Prasasti Kebon kopi terletak di Dusun Muara Hilir, Cibungbulang;  Prasasti Pasir Koleangkak terletak di daerah perkebunan karet Jambu (Kecamatan Nanggung Bogor); Prasasti Tugu yang ditemukan di Dusun Batu Tumbuh, Jakarta Utara (Krom, 1915: 19).

Info Lainnya  Halal Bihalal 1447 Hijriah, Kang DS Ajak ASN Perkuat Silaturahmi dan Tingkatkan Pelayanan

Prasasti Cidanghiang atau Lebak ditemukan di Dusun Lebak (Kecamatan Munjul, Pandeglang); Prasasti Muara Cianten; dan Prasasti Pasir Awi (Krom, 1931: 28, 32).

Jika melihat wilayah persebaran prasasti, dapat diperkirakan bahwa pengaruh kekuasaan Kerajaan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman, setidak-tidaknya mencakup sebagian wilayah Tatar Sunda mulai dari Kabupaten Pandeglang, Cisadane-Tanggerang di bagian barat, Kabupaten Bogor di bagian selatan, dan daerah Jakarta di bagian utara, daerah Bekasi dan Karawang di bagian timur (Soeroso, 2002: 1)

Pusat kerajaan atau istana Tarumanagara, hingga sekarang belum diketahui dengan pasti. Poerbatjaraka menempatkan Kerajaan Tarumanagara itu di antara daerah-daerah yang dialiri Sungai Citarum, dan tanah di sebelah timur Cisadane yaitu Karawang, Bogor, dan Jakarta.

Bahkan dengan menguraikan kata “Chandrabhaga” yang terdiri dari dua kata masing-masing “chandra” dan “bhaga”, akhirnya dipastikan bahwa pusat kerajaan itu tidak jauh dari Sungai Bekasi (Poerbatjaraka, 1951: 12-15). Di sisi lain, Verstappen dan Noorduyn menyatakan bahwa dilihat dari segi morfologi maka Lagoa (sekarang kecamatan Lagoa, Jakarta Utara), tempat ditemukannya prasasti Tugu lebih memenuhi syarat sebagai lokasi ibu kota Tarumanagara (Verstappen, 1928: 228-307).

Kerajaan Sunda

Pada prasasti Kebonkopi II, tertulis kalimat “barpulihkan haji sunda”, yang terjemahan lainnya adalah: “pengembalian kekuasaan kepada Raja Sunda”. Dalam naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwtpa parwa I sarga 3 halaman 79, ikhwal “Sunda” dijelaskan sebagai berikut:
…. / telas karuhun hana ngaran desya sunda / tathapi ri sawaka ring rajya taruma // tekwan ring usana kangken ngaran kitha sundapura//
Terjemahan: ‘Sesungguhnya dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama Sundapura (Kota Sunda)’.

Pada tahun 669 Masehi, Sri Maharaja Linggawarman, raja keduabelas Tarumanagara, mengakhiri kekuasaannya. Sebagai penggantinya, Sang Tarusbawa, menantu Sri Maharaja Linggawarman, yang menikah dengan putrinya yang bernama Dewi Manasih. Adik Dewi Manasih, yaitu Dewi Sobakancana, diperisteri oleh

Dapuntahyang Sri Jayanasa, raja Sriwijaya. Berakhirnya pemerintahan Sri Maharaja Linggawarman, menandai pula berakhirnya kekuasaan Dinasti Warman di Tarumanagara karena nama kerajaan tersebut oleh Sri Maharaja Tarusbawa diganti sebutannya menjadi Kerajaan Sunda. Pergantian nama kerajaan, disebabkan, Sang Tarusbawa merasa perlu mengabadikan tempat kelahirannya, yaitu Sunda Sembawa (Bekasi).

Sang Tarusbawa, sebagai penerus tahta Tarumanagara, dengan nama gelar Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa dinobatkan pada tanggal 9 Suklapaksa bulan Jesta tahun 591 Saka. Titimangsa ini bila dikonversikan ke tahun Masehi menjadi 18 Mei 669 Masehi. Berdasarkan kajian kami, tanggal ini kami usulkan kepada Gubernur Jabar  sebagai Hari Jadi Tatar Sunda dan diterima serta sudah dibuatkan Pergubnya.

Info Lainnya  Lawan Abrasi, Gerindra Karawang Tanam 5.000 Pohon Mangrove, Ini Kata Kang HES

Sang Tarusbawa bukan keturunan dinasti Warman. Ia dilahirkan di Sunda Sembawa (Sundapura), sebagai raja keturunan pribumi di kerajaan daerah Sunda Sembawa. Ketika ia naik tahta, mengganti nama Tarumanagara, menjadi Kerajaan Sunda. Semenjak itulah, Kerajaan Sunda, tampil kembali dalam panggung sejarah di Nusantara.

Langkah Sang Tarusbawa berikutnya, memindahkan ibukota kerajaan dari Sundapura (Bekasi) ke Pakuan (Bogor). Gambaran berkenaan dengan hal tersebut tercatat dalam redaksi teks naskah lontar Fragmen Carita Parahyangan.
Kerajaan Galuh.

Sementara Kerajaan Sunda lahir di sebelah Barat Tatar Sunda, di sebelah Timur, lahir Kerajaan Galuh sekitar 670. Dalam sumber tradisi, disebut bahwa Kerajaan Galuh didirikan oleh Sang Wretikandayun. Raja terkenal yang disebut dalam Prasasti Canggal, tahun 732 M.  adalah Sanjaya. Dalam naskah Carita Parahyangan, disebutkan ada 34 Raja yang memerintah Galuh hingga 1528. Ada beberapa raja yang terkemuka. Pertama adalah Prabu Maharaja atau Prabu Linggabuana, yang memerintah antara tahun 1350-1357.

Prabu Maharaja memiliki putri Dyah Pitaloka dan Wastukancana. Raja ini gugur di Bubat, ketika mengantar putrinya untuk dipersunting Prabu Hayam Wuruk dari Majapahit. Tahta kemudian dipegang oleh Prabu Niskala Wastukancana dari 1371 hingga 1475.

Cucu Prabu Wastukancana, Sri Baduga Maharaja, menikahi putri Raja Sunda. Maka kekuasaan Galuh dan Sunda pun digabungkan. Untuk penobatannya sebagai Raja Sunda, Sri Baduga mengenakan mahkota yang dibuat oleh Prabu Bunisora, yang menjadi raja setelah Prabu Linggabuana gugur di Bubat. Mahkota yang dikenal sebagai mahkota Binokasih ini sebenarnya dibuat oleh Prabu Bunisora untuk penobatan Prabu Wastukancana (kakek Sri Baduga)

Sri Baduga membawa Kerajaan Sunda pada puncak kejayaannya. Ibukota Kerajaan disebut Pakuan Pajajaran. Wilayah kekuasaannya membentang dari Selat Sunda hingga Brebes di Jawa Tengah dan Cilacap di Selatan.

Ada kebiasaan di daerah Asia Tenggara, menyebut nama kerajaan dengan nama ibukotanya karena pusat kesaktian kerajaan itu juga terfokus di ibukota, demikian pendapat Robert von Heine Geldern. Sejak abad ke-17, dalam naskah-naskah kuno, orang menyebut Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Pajajaran hingga sekarang masyarakat lebih mengenal Prabu Siliwangi adalah Raja Pajajaran yang legendaris.

Prabu Siliwangi memiliki banyak isteri dari berbagai wilayah kekuasaannya. Kelak keturunannya ini menjadi para bupati di masing-masing wilayah. Boleh dikatakan, bahwa  kaum menak (bangsawan) yang menjadi bupati di Tatar Sunda, memiliki silsilah yang pada puncaknya adalah Prabu Siliwangi. Juga mereka biasanya memiliki pusaka warisan leluhurnya, bisa berupa kujang, tumbak, keris, atau naskah kuno. Jadi kabupaten/kota yang memiliki warisan seperti ini, bisa saja ikut dalam kirab budaya. Mungkin tahun depan , pelaksanaan kirab bisa lebih dilengkapi lagi.
Kerajaan Talaga

Satu-satunya kerajaan bercorak Buddha di Tatar Sunda adalah Kerajaan Talaga yang terletak di Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka.  Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke -14. Didirikan oleh Batara Gunungbitung. Rajanya yang terkenal yaitu Prabu Talagamanggung yang gagah perkasa, adil palamarta. Dalam silsilah raja-raja Talaga, tercatat bahwa Raja Talaga masih keturunan Prabu Siliwangi. Namun kerajaan ini berakhir dengan naiknya Kesultanan Cirebon di bawah Sunan Gunung Jati dan semakin redup dengan munculnya pengaruh VOC. 

Info Lainnya  Pemajuan Kebudayaan Melalui Revitalisasi Substansi Berbasis Partisipasi

Tinggalan kerajaan ini masih terpelihara dengan baik. Salah satu keturunan Prabu Talagamanggung yaitu Mayjen TNI (purn) Tb Hasanuddin, dan Prof Dr. ST Buhrhanuddin (sekarang Jaksa Agung RI), keturunan ke-14 dari Prabu Siliwangi,  menyatakan tidak berniat menjadi raja pemangku budaya, hanya ingin ngamumule tinggalan karuhun. tinggalan leluhurnya baik berupa regalia maupun adat budayanya.  Sekarang kedua tokoh terkemuka asal Majalengka ini sedang sibuk merenovasi Museum Talagamanggung dengan anggaran pribadi.

Kerajaan Cirebon dan Kesultanan Banten

Kerajaan Cirebon didirikan oleh Pangeran Cakrabuana (Keturunan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja).. Awalnya Cirebon merupakan kerajaan bawahan Kerajaan Sunda, kemudian melepaskan diri dari Kerajaan Sunda, menjadi Kerajaan Cirebon di bawah Raja Syarif Hidayatullah, terhitung cucu Prabu Siliwangi.  Raja yang kemudian juga menjadi salah satu dari Wali Songo, terkenal sebagai Sunan Gunung Jati. Kerajaan Cirebon yang kemudian menjadi Kesultanan Cirebon, mendirikan Kesultanan Banten pada tahun 1525, dan penjadi pesaing utama Kerajaan Sunda.  Yang dianggap pendiri Kesultanan Banten adalah Sultan Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati. Selama 50 tahun Banten berusaha menaklukan Kerajaan Sunda yang berkoalisi dengan Portugis, akhirnya Kerajaan Sunda runtuh pada tahun 1579. 

Kesultanan Cirebon pecah menjadi Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman pada tahun 1682, akibat campur tangan VOC. Kemudian pecah lagi menjadi Kacirebonan dan Kaprabon. Yang terakhir ini lebih memfokuskan diri sebagai paguron. Hingga kini konflik perebutan kekuasaan di Kesultanan Kasepuhan setidaknya telah berjalan lima kali.

Kerajaan Tembong Agung dan Kerajaan Sumedanglarang

Dalam naskah .Carita Parahyangan, dikisahkan salah seorang saudara Sri Baduga Maharaja, yang bernama Prabu Guru Aji Putih mendirikan Kerajaan Tembong Agung yang berkedudukan di Darmaraja, Sumedang.  Puteranya yang bernama  Batara Tuntang Buana, kemudian memindahkan ibukota ke Leuwihideung, Darmaraja  dan mendirikan Kerajaan Sumedanglarang . Gelarnya yang terkenal adalah Prabu Tajimalela.

Ketika Kerajaan Sunda runtuh tahun 1579, yang berkuasa di Sumedanglarang adalah Prabu Geusan Ulun. Mahkota Binokasih (Sanghyang Pake), , yaitu mahkota penobatan Raja-raja Sunda diselamatkan oleh empat utusan (Kandaga Lante) yang bertugas sebagai panglima di Kerajaan Sunda  dan diserahkan  kepada Geusan Ulun di Kutamaya. Penyerahan mahkota ini menjadikan Geusan Ulun sebagai nalendra atau penerus Kerajaan Sunda.

Kerajaan Sumedanglarang berakhir ketika kerajaan menyerahkan diri sebagai bawahan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung sekitar tahun 1620 an. Setelah itu, Sumedanglarang menjadi kabupaten dan rajanya turun jabatan menjadi bupati. Kondisi ini berlanjut di bawah VOC.hingga tahun 1945. . Bila sekarang ada raja, maka itu hanyalah jabatan sebagai pemangku budaya. Bukan jabatan politis. Semua raja di Nusantara, setelah Indonesia merdeka menjadi pemangku budaya.

Sebagai catatan, Kerajaan Tarumanegara ketika berganti nama menjadi Kerajaan Sunda, tahun 669 M, tidak meninggalkan regalia berupa mahkota. Yang ada sekarang adalah mahkota binokasih, mahkota penobatan Sri Baduga Maharaja sebagai Raja Sunda di Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang) pada tahun 1482, yang dibuat di Kerajaan Galuh. Mahkota itu kini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang..Itulah yang sekarang diarak dalam kirab budaya Milangkala Tatar Sunda. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 710000011

article 710000012

article 710000013

article 710000014

article 710000015

article 710000016

article 710000017

article 710000018

article 710000019

article 710000020

article 710000021

article 710000022

article 710000023

article 710000024

article 710000025

article 710000026

article 710000027

article 710000028

article 710000029

article 710000030

article 710000031

article 710000032

article 710000033

article 710000034

article 710000035

article 710000036

article 710000037

article 710000038

article 710000039

article 710000040

article 710000041

article 710000042

article 710000043

article 710000044

article 710000045

article 710000046

article 710000047

article 710000048

article 710000049

article 710000050

article 710000051

article 710000052

article 710000053

article 710000054

article 710000055

article 710000056

article 710000057

article 710000058

article 710000059

article 710000060

kasus 898100001

kasus 898100002

kasus 898100003

kasus 898100004

kasus 898100005

kasus 898100006

kasus 898100007

kasus 898100008

kasus 898100009

kasus 898100010

kasus 898100011

kasus 898100012

kasus 898100013

kasus 898100014

kasus 898100015

kasus 898100016

kasus 898100017

kasus 898100018

kasus 898100019

kasus 898100020

kasus 898100021

kasus 898100022

kasus 898100023

kasus 898100024

kasus 898100025

kasus 898100026

kasus 898100027

kasus 898100028

kasus 898100029

kasus 898100030

kasus 898100031

kasus 898100032

kasus 898100033

kasus 898100034

kasus 898100035

kasus 898100036

kasus 898100037

kasus 898100038

kasus 898100039

kasus 898100040

cuaca 898100001

cuaca 898100002

cuaca 898100003

cuaca 898100004

cuaca 898100005

cuaca 898100006

cuaca 898100007

cuaca 898100008

cuaca 898100009

cuaca 898100010

cuaca 898100011

cuaca 898100012

cuaca 898100013

cuaca 898100014

cuaca 898100015

cuaca 898100016

cuaca 898100017

cuaca 898100018

cuaca 898100019

cuaca 898100020

cuaca 898100021

cuaca 898100022

cuaca 898100023

cuaca 898100024

cuaca 898100025

cuaca 898100026

cuaca 898100027

cuaca 898100028

cuaca 898100029

cuaca 898100030

cuaca 898100031

cuaca 898100032

cuaca 898100033

cuaca 898100034

cuaca 898100035

cuaca 898100036

cuaca 898100037

cuaca 898100038

cuaca 898100039

cuaca 898100040

article 868000011

article 868000012

article 868000013

article 868000014

article 868000015

article 868000016

article 868000017

article 868000018

article 868000019

article 868000020

article 868100021

article 868100022

article 868100023

article 868100024

article 868100025

article 868100026

article 868100027

article 868100028

article 868100029

article 868100030

article 868100031

article 868100032

article 868100033

article 868100034

article 868100035

article 868100036

article 868100037

article 868100038

article 868100039

article 868100040

article 868100041

article 868100042

article 868100043

article 868100044

article 868100045

article 868100046

article 868100047

article 868100048

article 868100049

article 868100050

article 868100051

article 868100052

article 868100053

article 868100054

article 868100055

article 868100056

article 868100057

article 868100058

article 868100059

article 868100060

article 878000011

article 878000012

article 878000013

article 878000014

article 878000015

article 878000016

article 878000017

article 878000018

article 878000019

article 878000020

article 878800021

article 878800022

article 878800023

article 878800024

article 878800025

article 878800026

article 878800027

article 878800028

article 878800029

article 878800030

article 878800031

article 878800032

article 878800033

article 878800034

article 878800035

article 878800036

article 878800037

article 878800038

article 878800039

article 878800040

article 888000031

article 888000032

article 888000033

article 888000034

article 888000035

article 888000036

article 888000037

article 888000038

article 888000039

article 888000040

article 888000041

article 888000042

article 888000043

article 888000044

article 888000045

article 888000046

article 888000047

article 888000048

article 888000049

article 888000050

article 888000051

article 888000052

article 888000053

article 888000054

article 888000055

article 888000056

article 888000057

article 888000058

article 888000059

article 888000060

article 888000061

article 888000062

article 888000063

article 888000064

article 888000065

article 888000066

article 888000067

article 888000068

article 888000069

article 888000070

article 328000601

article 328000602

article 328000603

article 328000604

article 328000605

article 328000606

article 328000607

article 328000608

article 328000609

article 328000610

article 328000611

article 328000612

article 328000613

article 328000614

article 328000615

article 328000616

article 328000617

article 328000618

article 328000619

article 328000620

article 328000621

article 328000622

article 328000623

article 328000624

article 328000625

article 328000626

article 328000627

article 328000628

article 328000629

article 328000630

article 328000631

article 328000632

article 328000633

article 328000634

article 328000635

article 328000636

article 328000637

article 328000638

article 328000639

article 328000640

article 328000641

article 328000642

article 328000643

article 328000644

article 328000645

article 328000646

article 328000647

article 328000648

article 328000649

article 328000650

article 999990001

article 999990002

article 999990003

article 999990004

article 999990005

article 999990006

article 999990007

article 999990008

article 999990009

article 999990010

article 999990011

article 999990012

article 999990013

article 999990014

article 999990015

article 999990016

article 999990017

article 999990018

article 999990019

article 999990020

news-1701