Berita

Naufal Zaky S.Pd., M.Pd Dosen Sosiologi dan Antropologi Pendidikan: Komoditi Idul Fitri dan Gejala Konsumerisme 

×

Naufal Zaky S.Pd., M.Pd Dosen Sosiologi dan Antropologi Pendidikan: Komoditi Idul Fitri dan Gejala Konsumerisme 

Sebarkan artikel ini

TebingTinggi, Idisionline.com – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mempermudah masuknya pengaruh budaya asing ke dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Globalisasi, sebagai faktor utama, sangat berperan dalam masuknya budaya Barat, termasuk budaya konsumerisme, ke Indonesia.

Menurut Baudrillard (1989), budaya modern Barat kini menekan budaya konsumerisme yang bahkan di Indonesia semakin sulit dibendung. Perilaku konsumtif saat ini tak terlepas dari pengaruh kapitalisme, yang menjadikan konsumsi sebagai pusat kehidupan dalam masyarakat Indonesia.jumat,(21/3/25) . 

Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang mengatur produksi dan distribusi barang dan jasa. Saat ini, konsumsi telah menjadi motivasi utama dan penggerak dalam kehidupan sosial, budaya, bahkan politik (Kellner, 1994:3).

Masyarakat sering terjerat kebiasaan negatif seperti pemborosan, kerakusan, dan konsumsi yang sia-sia demi kepuasan pribadi. Ambisi, kemewahan, dan kebanggaan mendorong individu untuk lebih konsumtif, terutama menjelang perayaan keagamaan seperti Idul Fitri. Fenomena menarik yang terjadi adalah adanya benturan nilai, di mana Ramadan yang merupakan bulan penuh berkah, justru berhadapan dengan fenomena konsumerisme.

Budaya konsumtif mulai terlihat sejak Ramadan dan semakin intens menjelang Idul Fitri. Sebagian besar masyarakat dengan status ekonomi lebih baik terlihat berlomba-lomba memenuhi keinginan mereka tanpa memikirkan nilai guna barang yang dibeli.

Pembelian barang seperti pakaian dan aksesori untuk Idul Fitri dilakukan dengan cara yang berlebihan, menghabiskan uang demi barang yang tidak diperlukan. Hal ini membuat esensi Ramadan, yang seharusnya berfokus pada ibadah dan amal, hampir terlupakan; puasa pun hanya dipahami sebagai sekadar menahan lapar dan haus. Seharusnya Ramadan mendidik umat untuk hidup sederhana dan mengontrol keinginan konsumtif.

Idul Fitri, menurut Quraish Shihab, memiliki makna yang terkait dengan pencapaian tujuan puasa itu sendiri. Secara etimologis, Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah. Fitrah di sini merujuk pada asal kejadian manusia yang dilahirkan dengan berbagai potensi dasar seperti ruh, akal, penglihatan, pendengaran, hati, dan agama (Q.S. al-Rum: 30). Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah” (HR. al-Bukhari dan Muslim), yang menunjukkan bahwa manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah dan hamba Allah (Q.S. al-Baqarah:30; Q.S. al-Dzariyat: 56).

Info Lainnya  Dituding Caplok Lahan Negara PT Tactical Garment Garut  Terancam Dipolisikan

“Pakailah pakaian terbaik kalian saat memasuki masjid dan makan serta minumlah, tetapi jangan berlebihan. Allah tidak menyukai orang yang berlebihan” (Al-A’raf: 31). Memenuhi kebutuhan hidup dan beribadah adalah perintah agama, tetapi menghambur-hamburkan harta demi keinginan di luar kebutuhan adalah perilaku sia-sia (tabdzir), seperti yang dijelaskan oleh Imam az-Zajjaj (2004).

Fenomena konsumerisme kini telah menjadi gaya hidup, ditambah dengan iklan dan promosi besar-besaran di media sosial yang semakin mendorong masyarakat untuk mengonsumsi barang secara berlebihan dan bahkan hedonis.

Teori sosial postmodern muncul dengan keyakinan bahwa era modern telah berakhir, dan kita sedang berada dalam era yang baru. Berbeda dengan teori sosial modern yang mencari universalitas, teori postmodern berpendapat bahwa tidak ada hal yang bersifat universal. Fredric Jameson (1999:1-3) menyebutkan empat karakteristik masyarakat postmodern: kedangkalan, kepura-puraan, hilangnya sejarah, dan kemunculan teknologi baru. Jean Baudrillard melihat postmodern sebagai fenomena yang lebih radikal, di mana media dan model sibernetika menggantikan dominasi produksi material dan menciptakan simbol-simbol non-material yang mendominasi masyarakat.

Baudrillard (1998) mengembangkan teori “Consumer Society” yang memfokuskan pada bagaimana uang dan simbol dalam bentuk gambar dan hiper-realitas telah mengubah dunia konsumsi. Media, khususnya media digital, memainkan peran besar dalam menyebarkan budaya global, termasuk gaya hidup dan mode.

Konsumerisme adalah proses fokus individu dan sosial pada konsumsi yang melebihi kebutuhan primer. Menurut Bartholomew, konsumerisme berakar pada konsumsi, mengutamakan kebebasan individu dalam memilih, dan menganggap kebutuhan manusia sebagai sesuatu yang tak terbatas.

Dalam masyarakat konsumtif, barang-barang yang dibeli bukan sekadar memiliki kegunaan, tetapi lebih sebagai simbol status dan prestise yang ditanamkan melalui iklan-iklan gaya hidup. Dengan demikian, objek konsumsi kini menjadi sarana untuk mengklasifikasikan status, kelas sosial, dan identitas.

Info Lainnya  Pengukuhan Pasukan Paskibra Tingkat Kecamatan Arjasari

Religiusitas dalam konteks ini sangat penting. Nasution (1986) menjelaskan bahwa agama adalah ikatan yang mengarahkan perilaku manusia, sementara Uyun (1998) menambahkan bahwa agama mendorong pemeluknya untuk berperilaku terpuji dan bertanggung jawab atas tindakannya. Religiusitas adalah ekspresi dari kedalaman hubungan seseorang dengan Tuhan yang tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.

Fenomena konsumerisme seringkali berhubungan dengan keserakahan, di mana barang yang tidak diperlukan dianggap sebagai kebutuhan. Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar di ASEAN memiliki potensi pasar yang besar, dan semakin banyak barang konsumsi masuk ke pasar Indonesia.

Pada era postmodern, masyarakat seringkali tidak peduli apakah konsumsi mereka berlebihan. Media sosial berperan besar dalam mempengaruhi gaya hidup konsumerisme, terutama di kalangan kelas menengah ke atas. Fenomena ini menjadi lebih jelas pada perayaan Idul Fitri, yang meskipun berakar pada ibadah, kini lebih sering dijadikan ajang untuk memamerkan prestasi duniawi dan konsumsi berlebihan.

Tradisi membeli barang baru untuk Idul Fitri telah ada sejak zaman Kesultanan Banten pada abad ke-16, dan hingga kini tetap menjadi bagian dari ritual masyarakat. Hal ini menyebabkan peningkatan transaksi ekonomi, terutama di sektor perbelanjaan, selama Ramadan dan Idul Fitri. Data Bank Indonesia menunjukkan adanya lonjakan transaksi selama periode ini, dengan penggunaan uang elektronik dan pembayaran digital yang semakin meningkat.

Namun, perayaan Idul Fitri kini lebih sering dikaitkan dengan konsumsi berlebihan. Masyarakat berbondong-bondong membeli barang tanpa memikirkan kebutuhan, terjebak dalam konsumsi yang tidak terkontrol, bahkan dengan menggunakan kartu kredit. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai, di mana nilai simbol lebih penting daripada nilai guna barang, sebuah kondisi yang diidentifikasi oleh Jean Baudrillard sebagai bagian dari masyarakat konsumer.

Info Lainnya  BEM STIKES BBM : Menyatakan Sikap Bergabung BEM Nusantara Di Bawah Kepemimpinan Arya Dwi Prayetno Dan Penghentian Intervensi Senior

Konsep Penciptaan: KOMODIFIKASI DUL FITRI dan GEJALA KONSUMERISME

Manusia dalam kehidupan membutuhkan berbagai macam hal untuk memenuhi kebutuhannya. Fenomena konsumerisme pada Idul Fitri sangat menarik perhatian karena kedua hal tersebut sangat bertolak belakang, konsumerisme suatu sifat yang hiperbolis atau berlebihan, sedangkan Idul Fitri merupakan hari suci yang sebelumnya melakukan ibadah di bulan Ramadan yang penih keprihatinan.

Tradisi membeli barang baru sudah menjadi ritual rutin setiap tahunnya menjelang Idul Fitri. Perilaku konsumtif ini menjadi kegiatan yang seragam pada umat muslim maupun non muslim. Sifat serakah dapat menimbulkan dampak sosial, yakni ketidakpedulian dan kesenjangan sosial.

Dari hasil pembahasan terhadap proses penciptaan dan studi kasus, maka terdapat kesimpulan sebagai berikut. Hari raya Idul Fitri adalah sebuah fenomena sosial mengenai gejala konsumerisme pada masyarakat. Konsumerisme sebagai keserakahan dan idul fitri sebagai budaya muslim.

Pada akhirnya keserakahan dapat menimbulkan dampak sosial lainnya, yakni ketidakpedulian dan kesenjangan sosial. Dimana dampak tersebut merupakan masalah yang sangat memprihatinkan. Ketika manusia serakah, secara tidak langsung manusia tersebut tidak peduli dengan sesama bahkan alam, dan ketika manusia tidak peduli, kesenjangan sosial pun tak bisa terelakan.

Budaya konsumerisme telah merambah ke wilayah agama khususnya pada momen Idul Fitri. Simbol – simbol “agama” telah menjadi komoditas seakan perayaan tersebut terasa sangat komersial. Berbagai produk dikemas dengan embel – embel religiusitas. Simbol – simbol Ramadan dan Idul Fitri dihadirkan di berbagai sudut pertokoan agar tampak menarik, islami.

Idul Fitri memang merupakan perayaan besar, khususnya bagi orang – orang yang sudah melaksanakan tugas agama pada bulan Ramadan dan seharusnya output dari implementasi ibadah adalah menampilkan orang – orang dengan keindahan pakaian akhlak mulia dan dan perhiasan takwa pada dirinya.

Endrasyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Idisi Online

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

news-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

ayowin

yakinjp id

maujp

maujp

sabung ayam online

sv388

taruhan bola online

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

slot mahjong

118000586

118000587

118000588

118000589

118000590

118000591

118000592

118000593

118000594

118000595

118000596

118000597

118000598

118000599

118000600

118000601

118000602

118000603

118000604

118000605

118000606

118000607

118000608

118000609

118000610

118000611

118000612

118000613

118000614

118000615

118000616

118000617

118000618

118000619

118000620

118000621

118000622

118000623

118000624

118000625

118000626

118000627

118000628

118000629

118000630

118000631

118000632

118000633

118000634

118000635

118000636

118000637

118000638

118000639

118000640

118000641

118000642

118000643

118000644

118000645

118000646

118000647

118000648

118000649

118000650

118000651

118000652

118000653

118000654

118000655

118000656

118000657

118000658

118000659

118000660

128000651

128000652

128000653

128000654

128000655

128000656

128000657

128000658

128000659

128000660

128000661

128000662

128000663

128000664

128000665

128000666

128000667

128000668

128000669

128000670

128000671

128000672

128000673

128000674

128000675

128000676

128000677

128000678

128000679

128000680

128000681

128000682

128000683

128000684

128000685

128000686

128000687

128000688

128000689

128000690

128000691

128000692

128000693

128000694

128000695

128000696

128000697

128000698

128000699

128000700

128000701

128000702

128000703

128000704

128000705

128000706

128000707

128000708

128000709

128000710

128000711

128000712

128000713

128000714

128000715

128000716

128000717

128000718

128000719

128000720

138000421

138000422

138000423

138000424

138000425

138000426

138000427

138000428

138000429

138000430

208000326

208000327

208000328

208000329

208000330

208000331

208000332

208000333

208000334

208000335

208000336

208000337

208000338

208000339

208000340

208000341

208000342

208000343

208000344

208000345

208000346

208000347

208000348

208000349

208000350

208000351

208000352

208000353

208000354

208000355

208000356

208000357

208000358

208000359

208000360

208000361

208000362

208000363

208000364

208000365

208000366

208000367

208000368

208000369

208000370

208000371

208000372

208000373

208000374

208000375

208000376

208000377

208000378

208000379

208000380

208000381

208000382

208000383

208000384

208000385

208000386

208000387

208000388

208000389

208000390

208000391

208000392

208000393

208000394

208000395

208000396

208000397

208000398

208000399

208000400

news-1701