Garut, idisionline.com – Program Ketahanan Pangan (Ketapang) yang disalurkan pemerintah pusat melalui Desa, dengan alokasi anggaran sebesar 20% dari Dana Desa (DD) sebagai penyertaan modal BUMDes dengan usaha pertanian dan peternakan.
Program yang diwajibkan pemerintah pusat tersebut, diimplementasikan oleh Desa Jagabaya, Kecamatan Mekarmukti Kabupaten Garut. Sesuai regulasi, pengelelolaan program itu oleh BUMDes untuk modal sejumlah unit usaha.

Namun, tata kelola dan tumbuh kembang usaha yang digarap pengurus Bumdes Jagabaya hingga saat ini diketahui jalan ditempat. Terbukti dengan masih minimnya kontribusi yang jadi pendapatan asli desa (PADes) disumbang BumDes.
Kondisi tersebut disebutkan sejumlah warga yang lebih banyak tidak tahu usaha yang dijalankan BumDes selama ini.
“Pergerakan usaha BumDes, kami lebih banyak tidak tahu dan belum merasakan manfaatnya secara langsung. Kami fikir gitu gitu aja, kaya jalan ditempat” ucap warga yang enggan menyebut nama.

Terkonfirmasi dikantor Desa, Kamis (29/10/2026) Sekretaris Desa (Sekdes) Jagabaya, Rudi menjeslakan penyertaan modal yang disalurkan melalui Bumdes dan peruntukannya serta PADes yang dihasilkan.
“Seingat saya penyertaan modal Bumdes sudah 3 kali, pertama sebesar 20 juta, kedua 25 juta dan terakhir yang dialokasikan untuk program Ketapang kurang lebih sebesar 180 jutaan. Usahanya jual beli gabah atau beras dan budidaya ikan sistim bioplok”jelas Rudi.
Dari usaha Bumdes tersebut, Rudi mengungkapkan hasil yang disumbang melalui PADes dan tempat usaha Bumdes.
“Hasil usaha Bumdes menyumbang PADes 5 Jutaan. Memang tebilang masih minim, karena beberapa bidang usaha ada yang terhenti, terkendala faktor cuaca. Seperti Budidaya ikan di kampung Panyered yang sementara dihentikan. Direktur Bumdesnya pak Asep Munawar”ungkap Rudi.
Penelusuran awak media ketempat Budidaya ikan yang disebut Rudi, didapati 6 kolam ikan bioplok dalam kondisi kosong.
Ditemui terpisah, dikediamannya Direktur Bumdes, Asep Munawar tidak menampik adanya hal tersebut.
“Memang belum besar Bumdes sumbang PADes, sekitar 2-3 juta tiap 6 Bulan. Karena usaha terkendala oleh cuaca, usaha budidaya ikan sementara terhenti. Selain usaha itu ada juga ternak Bebek, tapi saat ini sedang dalam pengangonan” ucap Asep.
Penjelasan yang disampaikan Sekdes dan Direktur BumDes dianggap masih perlu adanya pendalaman lebih lanjut atas tata kelola Usaha BumDes yang masih simpang siur.
Salah seorang anggota BPD yang berhasil diminta penjelasannya melalui sambungan seluler, bahwan meminta awak media untuk lakukan pemantauan secara intens kegiatan BumDes.
“Kami minta bantuan media sebagai kontrol sosial turut pantau tumbuh kembang dan tata kelola BumDesa. Agar meraih hasil yang optimal sesuai harapan” ujarnya tanpa mau menyebut nama.
Direktur BumDes Asep Munawar yang diketahui juga merupakan pengelola PKBM dan dapur MBG sejatinya dapat menjelaskan dengan laporan dan sosialisasi ke masyarakat agar terhindar dari persepsi negati.
Sejauh ini, hingga berita dipublikasikan upaya konfirmasi masih dilakukan awak media untuk medapat penjelasan resmi dari pihak terkait lainnya.
***Heryawan













