KARAWANG, IO – Gemuruh sorak sorai warga Karawang kian memuncak saat dua sosok pemimpin muncul berdampingan di atas kuda.
Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, tampak gagah menunggangi kuda untuk mengawal jalannya Kirab Mahkota Binokasih bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).
Pemandangan ini menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah provinsi dan daerah dalam menjaga marwah budaya Sunda.
Dengan pakaian adat yang khas, Bupati Aep berada di barisan depan, memastikan prosesi budaya paling bersejarah di Tanah Pasundan ini berjalan khidmat di sepanjang jalur protokol “Kota Pangkal Perjuangan”.
Kehadiran Bupati Aep di tengah kerumunan massa memicu antusiasme luar biasa. Sepanjang rute kirab, warga tidak henti-hentinya meneriakkan nama sang Bupati dengan panggilan akrabnya.
Suasana terasa begitu cair saat Bupati Aep sesekali menghentikan laju kudanya untuk membalas sapaan warga dengan lambaian tangan dan senyum khasnya.
“Pak Haji! Pak Haji Aep!” teriak warga bersahutan dari pinggir jalan.
Bagi masyarakat Karawang, panggilan “Pak Haji” bukan sekadar gelar agama, melainkan bentuk penghormatan dan kedekatan emosional terhadap sosok Aep Syaepuloh yang dikenal dermawan dan merakyat.
Mengawal Sejarah, Menjaga Tradisi
Aksi Bupati Aep yang turun langsung menunggangi kuda ini mendapat apresiasi dari pengunjung kirab.
Hal ini dinilai sebagai bentuk totalitas seorang kepala daerah dalam menghargai warisan leluhur.
“Luar biasa melihat Bupati kita ikut , naik kuda kawal KDM. Ini baru namanya pemimpin yang cinta budaya,” ujar salah seorang pemuda yang antusias menyaksikan kirab budaya.
Sinergi antara KDM dan Bupati Aep di atas pelana kuda ini seolah mengirimkan pesan bahwa pembangunan di Jawa Barat, khususnya di Karawang, harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya yang luhur
Kirab Mahkota Binokasih malam itu pun tidak hanya menjadi ajang tontonan sejarah, tetapi juga panggung kemesraan antara pemimpin dan rakyatnya.












