KARAWANG, IO – Di saat hiruk-pikuk perayaan Hari Kartini identik dengan seremoni, sebuah kisah tentang ketegaran perempuan muda menyeruak dari sudut Kelurahan Plawad, Karawang.
Siti Kamilah (22), menjadi potret nyata “Kartini Masa Kini” yang berjuang dalam sunyi, memikul beban sebagai tulang punggung sekaligus perawat bagi ibu dan neneknya yang terbaring lumpuh.
Kisah Siti Kamilah bukan sekadar tentang kemiskinan, melainkan tentang dedikasi luar biasa seorang anak yang mengabdikan masa mudanya demi orang tua.
Kondisi keluarga Siti Kamilah memicu perhatian serius dari aparatur kewilayahan.
Kepala Kelurahan Plawad, Nabiyil Anzal Diaswara, S.Tr.IP., M.A., turun langsung meninjau kediaman Siti dengan didampingi Kepala Puskesmas Hj. Isnawati, Babinsa Sertu Supriyono, dan PSM Taka Wijaya.
Lurah Nabiyil mengaku terenyuh melihat realita di lapangan. Berdasarkan pemeriksaan medis awal oleh bidan desa, diketahui bahwa ibunda Siti, Ibu Urni (52), mengalami kondisi kesehatan yang menurun drastis akibat kadar gula darah yang tinggi.
“Kondisinya sungguh cukup memprihatinkan, mengingat nenek dan ibunya sakit lumpuh. Tadi sudah dicek memang gulanya tinggi,” ujar Lurah Nabiyil saat memberikan keterangan di lokasi, Selasa (21/4/2026).
Melihat urgensi tersebut, pihak kelurahan memastikan bahwa Siti Kamilah tidak akan berjuang sendirian.
Sinergi lintas sektor antara Kelurahan, Puskesmas, dan Pembina TNI (Babinsa) segera diaktifkan untuk memberikan penanganan medis yang layak.
“Insyaallah kami dari pihak Kelurahan, Puskesmas, dan Pembina TNI akan terus mengupayakan penanganan secara baik. Kami sudah koordinasi dengan PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) untuk segera ditindaklanjuti,” tegas Nabiyil.
Lurah Plawad juga memberikan apresiasi tinggi kepada Siti Kamilah. Baginya, sosok Siti adalah teladan bagi generasi muda di Karawang tentang arti sebuah bakti.
“Ini adalah bentuk luar biasa berbakti kepada orang tua. Bisa dijadikan contoh untuk anak-anak di sekitar bahwa berbakti kepada keluarga itu sangat luar biasa,” tambahnya.
Siti Kamilah sendiri mengaku, meski lelah mendera setelah seharian bekerja, melihat senyum sang ibu adalah obat paling mujarab.
Di momen Hari Kartini ini, ia tidak meminta banyak, hanya satu doa yang terus ia langitkan: kesembuhan bagi ibundanya.
“Doaku untuk ibu, cepat sembuh ya, Bu. Anakmu ini tidak sekuat yang Ibu pikir, aku masih anak yang membutuhkan kasih sayang darimu,” tutur Siti dengan nada lirih.
Di balik keterbatasannya saat ini, Siti menyimpan mimpi besar untuk menjadi pengusaha sukses. Bukan untuk pamer kekuasaan, melainkan agar bisa mengangkat derajat orang tuanya dan membantu sesama.
Kisah Siti Kamilah dan respons cepat Kelurahan Plawad menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial dan bakti keluarga adalah fondasi utama dalam membangun masyarakat yang lebih humanis.
Kartini di Gang Sempit Plawad: Bakti Tanpa Batas Siti Kamilah dan Gerak Cepat Kelurahan









