PONTIANAK, Idisionline – Fenomena kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah SPBU di Kota Pontianak dan beberapa wilayah di Kalimantan Barat mendapat sorotan tajam. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Pontianak menilai situasi ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan rapuhnya tata distribusi yang diperparah oleh kepanikan dan keserakahan oknum.
Ketua Pimpinan Cabang (PC) IMM Kota Pontianak, Muhammad Sherkhan, mengungkapkan bahwa meroketnya harga BBM di tingkat eceran hingga menyentuh angka Rp20.000 per liter merupakan alarm bahaya bagi daerah.
“Antrean panjang yang mengular, kelangkaan di SPBU, hingga melonjaknya harga eceran adalah tanda bahwa ada dua masalah besar yang bertemu: panic buying yang tidak terkendali dan dugaan penimbunan oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan di atas penderitaan rakyat,” tegas Sherkhan dalam pernyataan resminya, Jumat (20/3).
Sherkhan secara khusus menyoroti dugaan praktik penimbunan menjelang Hari Raya Idulfitri. Menurutnya, mencari keuntungan pribadi di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat adalah bentuk kejahatan sosial yang tidak bisa ditoleransi.
Ia pun mendesak aparat penegak hukum (APH) untuk turun tangan memberantas oknum-oknum nakal tersebut. “Siapa pun yang dengan sengaja menimbun BBM, menahan distribusi, atau mempermainkan harga di tengah situasi ini, berarti sedang berhadapan langsung dengan kepentingan rakyat banyak. Aparat penegak hukum harus hadir tanpa kompromi,” tekannya.
Meski melontarkan kritik keras terhadap tata distribusi, IMM Kota Pontianak tetap mengapresiasi respons cepat dari pemerintah dan Pertamina. Langkah penambahan pasokan, pengawasan, hingga penertiban dinilai patut didukung oleh semua pihak. Namun, Sherkhan mengingatkan agar langkah tersebut benar-benar menyentuh akar permasalahan, bukan sekadar meredam gejala sesaat.
Di sisi lain, Sherkhan juga menyoroti perilaku masyarakat yang memborong BBM akibat panik. Ia mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan menggunakan logika berpikir yang jernih.
“Membeli BBM secara berlebihan bukan solusi, itu justru memperparah krisis dan mempercepat habisnya pasokan di lapangan. Mari kita jaga nalar kolektif. Ambil secukupnya, gunakan seperlunya,” imbaunya.
Sebagai penutup, Sherkhan menegaskan bahwa IMM Kota Pontianak akan terus mengawal isu ini. Pihaknya siap berdiri mendukung langkah tegas pemerintah agar distribusi kembali adil dan merata.
“Momentum ini harus menjadi peringatan bersama bahwa krisis tidak selalu datang dari kekurangan, tetapi seringkali dari kepanikan dan keserakahan. Jangan biarkan kepanikan mengalahkan akal sehat, dan jangan beri ruang bagi penimbun untuk mempermainkan nasib rakyat,” pungkas Sherkhan.






