Kab Bandung, Idisi Online – Tak hanya istimewa karena menjadi satu-satunya sahabat yang diberi gelar dzun nurain, sosoknya sangat luar biasa. Dialah Utsman bin Affan. Kisah sahabat Rasulullah yang satu ini disampaikan Ustd Yanto dan istri beserta anak anak dikediamannya di Desa Arjasari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung. Rabu (06/01/25).
Ia menjelaskan 4 cuplikan kisah tentang Utsman bin Affan, baik tentang kepribadiannya maupun masa kekhalifahannya. “Cuplikan pertama, Utsman bin Affan itu punya julukan Dzun Nurain, artinya pemilik dua cahaya. Kenapa? Karena menikahi 2 putri Rasul. Yang pertama Ruqayyah. Setelah Ruqayyah wafat karena sakit, dia menikahi putri Rasul yang lain yakni Ummu Kultsum,” ujarnya.

Nah, cuplikan yang kedua, lanjutnya, Utsman itu adalah sosok pemalu. “Waktu itu Rasul berbaring berselimut. Saat Abu Bakar bertamu, posisi Rasul tetap berbaring. Lalu Abu Bakar pulang. Tak lama kemudian, datanglah Umar. Posisi Rasul tetap berbaring. Setelah Umar pulang, datanglah Utsman. Rasul langsung duduk dan merapikan selimutnya,” jelasnya.
Guru kelahiran Riyadh Arab Saudi tersebut menjelaskan jawaban Rasul Muhammad atas pertanyaan Aisyah yang heran karena ia mengubah posisinya saat Utsman datang.
“Rasul menjawab, saya itu malu kepada Utsman. Utsman itu sosok yang sangat pemalu. Saya khawatir Utsman tidak jadi menyampaikan uneg-unegnya jika saya tetap berbaring. malaikat pun malu kepadanya,” menceritakan alasan Rasul.
Yanto melanjutkan cuplikannya yang ketiga, “Suatu ketika, Nabi shallallahualaihi wa sallam menaiki Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Merasa ada banyak manusia istimewa yang menaikinya, Uhud langsung bergetar. Kemudian Nabi bersabda, tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid,” terang yanto.
Dua orang syahid yang dimaksud, lanjutnya, adalah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.
Terakhir, ustd yanto melanjutkan cuplikan yang keempat, yakni Utsman bin Affan ketika menjadi khalifah. “Khalifah sebelumnya, Umar bin Khattab, ditikam oleh seorang budak Persia bernama Abu Lulu’ah (Fairuz). Mengingat keributan yang terjadi setelah kematian Nabi Muhammad, di ujung ajalnya Umar menunjuk sebuah kelompok yang terdiri dari enam orang, untuk memilih salah satu dari mereka sebagai pemimpin baru,” jelas yanto
Kelompok ini terdiri dari Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Ali bin Abi Thalib, dan Utsman bin Affan. “Dari enam anggota, Zubair menarik pencalonan demi mendukung Ali. Sa’ad bin Abi Waqas menarik diri dan mendukung Utsman. Dari tiga calon yang tersisa, Abdurrahman bin Auf memutuskan untuk mengundurkan diri, hingga tersisa Utsman bin affan.
Di sela berangkat kerja sebagai perangkat desa arjasari ustad yanto menjelaskan, kepada awak media menceritakan kisah seorang khalifah, mulai berbisik dan penasaran bagaimana Utsman terpilih.
“Lalu, Abdurrahman bin Auf bertanya kepada Ali, apakah kamu siap menjadi khalifah selanjutnya? Ali menjawab, sesanggup saya. Mendengar jawaban itu, Abdurrahman bin Auf merasa kurang yakin. Lalu ia bertanya kepada Utsman, apakah kamu siap menjadi khalifah selanjutnya? Dengan tegas Utsman menjawab, siap!” jelas yanto.
Yanto tersenyum dan mengatakan, dari proses itulah Utsman terpilih menjadi khalifah. “Ketika itu diangkatlah tangan Utsman dan Abdurrahman bin Auf berkata, inilah khalifah selanjutnya,” pungkasnya.
Rep. Edwin S.









