Kab Bandung, Idisi Online – Proyek Bantuan Pemerintah Daerah untuk pembangunan Satuan Pendidikan di SD Negeri Rancapanjang, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung kini tengah menjadi sorotan tajam masyarakat setempat.
Proyek yang di kerjakan oleh CV.ISHTIE yang menelan anggaran fantastis senilai Rp,721,924.680,- (Tujuh Ratus Dua Puluh Satu Juta sembilan Ratus dua puluh empat ribu, enam ratus delapan puluh rupiah).
Untuk Ruang Kelas Baru ( RKB ) dari APBD Kabupaten Bandung Tahun Anggaran 2026 ini diduga menggunakan material di bawah standar Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Berdasarkan hasil pantauan wartawan dan tim investigasi di lapangan, indikasi penyimpangan teknis terlihat pada beberapa item material penting, seperti struktur besi tulangan, hingga merek semen yang digunakan.
Temuan Material di Bawah Standar
Pada kolom dan ring balok, ditemukan material besi tulangan bagian belakang diduga menggunakan ukuran “banci” atau memiliki diameter kurang dari yang dipersyaratkan.
“Kami melihat besi yang terpasang untuk kolom bangunan tidak seperti standar kokohnya bangunan publik. Ini sangat riskan bagi keselamatan jangka panjang,” ujar Rahmat (56) warga sekitar, saat meninjau lokasi, Rabu kemarin (21/10/2026).
Selain masalah besi, pekerja di lapangan juga didapati menggunakan merek semen di luar rekomendasi teknis yang telah ditentukan oleh pemerintah.
Ironisnya, saat tim media mencoba meminta konfirmasi di lokasi, pihak CV. ISTHIE maupun Kepala Sekolah SDN Rancapanjang terkesan menghindar.
Beberapa guru yang berada di lokasi enggan memberikan keterangan dan menolak menyambungkan komunikasi dengan penanggung jawab proyek.
Menanggapi temuan ini, elemen masyarakat mendesak agar Pengawas dari dinas terkait yaitu Dinas Pendidikan, Inspektorat Daerah, segera turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan ke lapangan.
Masyarakat berharap pemerintah bertindak tegas memaksa pihak pelaksana membongkar konstruksi yang tidak sesuai spesifikasi.
Pembangunan sekolah ditujukan untuk menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi siswa, bukan justru mengorbankan keselamatan nyawa anak-anak demi keuntungan sepihak.
Rep. Hedi
Editor Redaksi













