Bandung – idisionline.com || Program Pemerintah Ketahanan pangan (Ketapang) yang diluncurkan melalui Desa yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di Desa Rancamanyar Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung kini tengah jadi pertanyaan publik.
Pasalnya penyertaan modal yang tersedot untuk program Ketapang di Desa tersebut cukup fantastis. Diketahui sekurangnya 500 juta atau 20 Persen dari Dana Desa (DD) dikucurkan untuk modal usah budi daya telur Burung puyuh tersebut.

Namun penjelasan atas pengelolaan sektor usaha yang sejatinya oleh Bumdes jadi terkesan membingungkan. Perangkat Desa yang berhasil ditemui, Adim dan Nabila seolah ragu memberi penjelasan.
“Kebetulan Pak Kades sedang acara diluar. Untuk Pendapatan Asli Desa secara detail saya tidak tahu. Hanya dari sewa cari, pengelolaan kantin yang dikelola Bumdes saja” ucapnya.
Disinggung ihwal sektor usaha ketahanan pangan yang dikelola Bumdes, bagian keuangan Desa, Nabila menyebut untuk budi daya telur burung puyuh.
“Sektor usaha bumdes, budi daya telur burung puyuh. Untuk penyertaan modalnya saya tidak tahu persis karena masih baru disini. Nanti coba saya hubungi dulu Direktur Bumdes pak Taufik dan pengelola kandangnya” ujar Nabila.
Kendati melalui percakapan telepon dengan Direktur Bumdes dan Kepala Desa Rancamanyar sudah memberikan ijin untuk melakukan dokumentasi di kandang burung puyuh, namun terkesan masih saja dipersulit.
Upaya guna mendapat informasi detail, awak media berhasil menemukan lokasi budidaya burung puyuh petelur yang terletak dilahan milik mantan Sekertaris Desa, Usep yang menjabat di era kucuran anggaran Ketapang.
Tertutupnya keterangan ihwal tata kelola program Ketapang tidak juga didapat dari Usep. Dirinya mengaku hanya sebatas pengelola saja.
“Harusnya didampingi pihak Desa atau Bumdes. Saya hanya sebatas pengelola yang kebetulan punya lahan disewa untuk usaha telur burung puyuh. Penyertaan modal bumdes dulu itu sekitar 500 juta. Ya 20 persen dari DD” pungkas Usep.
Sejauh ini publik masih dibikin bingung atas tata kelola Bumdes Rancamanyar yang dinilai hasilnya minim. Sementara sejumlah warga mengetahui bahwa burung puyuh petelur itu milik mantan Sekdes, Usep.
***














