Tebingtinggi,idisionline.Com,-Buruknya kualitas pengerjaan sulam tempel aspal di Jalan M. Yamin, Kelurahan Tanjung Marulak Hilir, Kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi, menuai sorotan dan keluhan dari masyarakat. Warga menilai proses penutupan jalan berlubang dilakukan secara asal jadi dengan menggunakan material pasir dan batu pecah (sirtu), sehingga menimbulkan debu tebal yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas.Selasa,(7/ 7/26).
Kondisi tersebut dikeluhkan warga karena telah berlangsung hampir sepekan tanpa adanya penanganan lanjutan. Debu yang terus berterbangan tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dinilai membahayakan kesehatan masyarakat serta pengguna jalan yang melintasi kawasan
Salah seorang warga Jalan M. Yamin yang akrab disapa Edi mengatakan, masyarakat sangat kecewa terhadap pelaksanaan pekerjaan yang diduga berada di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sumatera Utara. Menurutnya, pelaksana pekerjaan seharusnya memperhitungkan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar sebelum melakukan pengerjaan.
Lanjut Edi tiap hari kami makan debu berasal dari pengerjaan aspal yang tampa ada penyiraman air untuk mengurangi debu yang berterbangan. Sudah hampir seminggu kami menghirup debu setiap hari. Kendaraan yang lewat membuat debunya semakin parah. Kami merasa kesehatan warga sama sekali tidak dipikirkan,” ujar Edi kepada media.
Ia menambahkan, Jalan M. Yamin merupakan jalur yang padat dilalui kendaraan dan berada di kawasan perdagangan, tepatnya di sekitar sentra pedagang makanan yang berhadapan dengan Rumah Sakit Umum Chevani. Menurutnya, debu yang terus beterbangan sangat mengganggu kenyamanan masyarakat, pelanggan usaha, hingga pengendara sepeda motor yang melintas.
Selain mengganggu pemandangan, debu juga mengurangi jarak pandang. Pengendara motor harus ekstra hati-hati karena bisa saja memicu kecelakaan lalu lintas. Pedagang juga dirugikan karena makanan dan lingkungan sekitar menjadi kotor akibat debu,” ungkapnya.
Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, material yang digunakan untuk menutup lubang jalan tampak masih berupa pasir dan batu pecah yang belum terikat sempurna dengan lapisan aspal. Akibatnya, saat kendaraan melintas, debu beterbangan ke permukiman warga, area pertokoan, hingga badan jalan. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi mata dan kulit, sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan akibat berkurangnya jarak pandang.
Warga berharap pihak terkait, baik instansi pemerintah maupun pelaksana proyek, segera melakukan evaluasi dan penyempurnaan pekerjaan agar kualitas pengaspalan sesuai standar. Selain itu, masyarakat meminta dilakukan langkah pengendalian debu, seperti penyiraman rutin maupun percepatan penyelesaian pengaspalan, sehingga aktivitas warga dapat kembali berjalan normal tanpa harus terdampak polusi debu yang berkepanjangan.
![]()







