Ragam

Menguak Jejak Sejarah Alawiyin Dzuriah Rasulullah Masuk ke Tanah Nusantara Indonesia

×

Menguak Jejak Sejarah Alawiyin Dzuriah Rasulullah Masuk ke Tanah Nusantara Indonesia

Sebarkan artikel ini

oleh: Kang Oos Supyadin, Garut Selatan

KEPADAMU KU TITIPKAN AL-QUR’AN DAN KETURUNANKU (Al-Hadits Rasulullah s.a.w. Dirawikan oleh Imam Ahmad Ibn Hambal)_

PENDAHULUAN

Pada zaman kekhalifahan Bani Abbas (750-1258 M) berkembanglah ilmu pengetahuan tentang Islam yang bercabang-cabang disamping kenyataan itu penghidupan lapisan atas menyimpang dari ajaran agama Islam. Dibentuknya dynasti Bani Abbas yang turun-temurun mewariskan kekhalifahan. Istilah “muslim bila kaif” telah menjadi lazim. Hidupnya keturunan Sayidatina Fatimah Al-Zahra dicurigai, tiada bebas dan senantiasa terancam, ini oleh karena pengaruhnya anak cucu dari Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. atas rakyat sangat besar dan diseganinya. Ke-inginnan kebanyakan orang Muslim adalah seorang keturunan Nabi yang seharusnya memegang kekhalifahan. Banyak yang dipenjarakan dan dibunuhnya oleh karenanya banyak pula yang pindah dan menjauhkan diri dari pusat Bani Abbas di Baghdad.

PENGERTIAN

Alawiyyin (bahasa Arab: العلويّن) adalah sebutan bagi kaum atau sekelompok orang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad melalui Alawi bin Ubaidillah dan bukan nisbat kepada Ali bin Abi Thalib. Sebutan lain untuk Alawiyyin adalah Ba ‘Alawi atau Bani Alawi. Ba’ Alawi ialah nama keluarga yang bagi mereka yang memiliki nasab jalur laki-laki kepada Alawi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Husain putra ‘Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad.

Awal terbentuknya kelompok keluarga ialah dari Imam Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir, yang berangkat meninggalkan Basra di Irak bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadramaut di Yaman Selatan.

Cucu Imam Ahmad yang bernama ‘Alawi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadramaut. Oleh karena itu, anak-cucu ‘Alawi digelari dengan sebutan Ba ‘Alawi, yang bermakna Bani ‘Alawi (keturunan Alawi). Panggilan Ba ‘Alawi juga bertujuan menandai kumpulan keluarga ini dari cabang-cabang keluarga lain dari keturunan Nabi Muhammad.

Seorang Ba ‘Alawi oleh masyarakat sering kali dipanggil dengan sebutan Sayyid/Habib untuk laki-laki, dan “Syarifah/HabIbah” untuk perempuan.

AHMAD BIN ISA r.a.

Dalam keadaan sebagaimana di-uraikan diatas, yang pasti akan dikutuk Allah s.w.t., dan dengan hendak memelihara keturunannya dari kesesatan, mengulangilah AHMAD BIN ISA BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN AL-HUSEYN r.a. doa-nya sayidina Ibrahim a.s. yang tersurat dalam Al-Qur’an surat 14 ayat 37 dan dipilihnya Hadramaut yang tiada bertetanaman, untuk menetap dan berhijrahlah beliau dari Basrah ke Hadramaut, dimana beliau wafat di Hasisah pada tahun 345 H.

ALWI BIN UBAIDILLAH ALAWIYIN

Keturunan dari AHMAD BIN ISA tadi yang menetap di Hadramaut dinamakan ALAWIYIN; ini dari nama cucunya ALWI BIN UBAIDILLAH BIN AHMAD BIN ISA yang dimakamkan di Sumul.

Keturunan sayidina Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. disebut juga ALAWIYIN dari sayidina Ali bin Abi-Thalib k.w. Keluarga Al-Anqawi, Al-Musa-Alkazimi, Al-Qadiri dan Al-Qudsi yang terdapat sedikit di Indonesia adalah Alawiyin, tapi bukan dari Alwi bin Ubaidillah.

MUHAMMAD AL-FAQIH AL-MUQADDAM

Luput dari serbuan Hulaku, saudara maharaja Cina, yang mentamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M.), yang memang telah dikhawatirkan oleh AHMAD BIN ISA akan kutukan Allah s.w.t., maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan kenyataan bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-Thalib r.a.

Ini ternyata pula hingga kini dari istilah-istilah dalam loghat orang Hadramaut. Dalam menjalankan ‘tugas suci’, ialah pusaka yang diwariskannya, banyak dari pada suku Alawiyin tiada segan mendiam di lembah yang tandus. Tugas suci ini terdiri dari mengadakan tabligh-tabligh, perpustakaan­perpustakaan, pesantren-pesantren (rubat) dan masjid-masjid. Alawiyin yang semula bermazhab “Ahlil-Bait” mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN ALWI BIN MUHAMMAD BIN ALWI BIN UBAIDILLAH melaksanakan suatu kompromis dengan memilih mazhab Muhammad bin Idris Al-Syafi’I Al-Quraisyi, ialah yang kemudian disebut dengan mazhab Syafi’i. Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam ini wafat di Tarim pad atahun 653 H.

TUGAS SUCI (ISLAMISASI)

Alawiyin dalam menyebarkan agama Islam menyebrang ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand (Siam), Indonesia, Tiongkok (Cina), Filipina, dsb.

ALAWIYIN DI INDONESIA SEBELUM DIJAJAH BELANDA

Sebelumnya orang Barat datang, maka berkembanglah agama Islam dengan baik sekali dan terbentuklah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Runtuhnya kerajaan Islam di semenanjung Iberia dalam abad ke XV M. dengan jatuhnya Al-Andalus (1492 M.), mengakibatkan pengejaran bangsa Spanyol terhadap Muslimin, pengejaran mana diberkati Paus Roma. Jika kehendak orang Spanyol menyeranikan, maka kehendak orang Portugis ialah berniaga dengan orang Muslim di Indonesia, dan oleh karena ini orang Portugis lebih memperoleh sukses. Sebab peperangan di Europa antara Spanyol sepihak dengan masing-masing Belanda dan Inggeris, maka kedua bangsa ini turut juga datang ke Indonesia. Kecerobohan dan keserakahan Barat senantiasa ditentang oleh kaum Muslimin di tanah air kita.

ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA JAJAHAN BELANDA

Dengan pelbagai tipu muslihat dan fitnah akhirnya Belanda disokong oleh negara­-negara Barat lain, dapat menguasai Indonesia, dan ekonomi Belanda mulai berkembang pesat sesudahnya dapat dipergunakan kapal uap. Alawiyin dari pada awalnya jajahan Belanda mulai merasakan rupa-rupa kesulitan, oleh karena Belanda melihat bahwa Alawiyin-lah dalam segala lapangan menjadi pelopornya, baik di medan perang, maupun dalam bidang pengangkutan barang-barang lewat lautan atau bidang kebudayaan (agama). Dilarangnya Alawiyin menetap di pedalaman pulau Jawa, dilarangnya berkeluarga dengan anggauta istana (yang memang keturunan Alawiyin), hingga yang tiada mampu pindah ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau karena sebab lain, mengambil nama keluarga Jawa agar di-anggapnya orang Jawa asli, pribumi.

Oleh karena pindahnya Alawiyin dari pedalaman ke bandar-bandar di pinggir laut, maka pula pusat ke-Islaman pindah ke utara seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, dst. Yang tidak dapat berpindah dari pedalaman, menetap di perkampungan-perkampingan yang disebut “kaum”. Suku-suku Alawiyin yang telah anak-beranak dan tiada mampu pindah ke kota-kota besar dan mengambil nama ningrat Jawa, ialah banyak dari pada Al-Basyiban, Al-Baabud, Al-Binyahya, Al-Aydrus, Al-Fad’aq dan lain-lain lagi.

Dalam kenyataan demikian itu, Belanda baru mulai berusaha menyeranikan Jawa Tengah, dimana Islam tiada dapat berkembang oleh karena peperangan-peperangan melawan Belanda dan berhasilnya aneka fitnah yang Belanda ciptakan antara penguasa-penguasa pribumi sendiri. Anak Muslim tiada boleh bersekolah, sedangkan anak Keristen dapat pendidikan dan pelajaran modern. Kemudian di-izinkan bersekolah Belanda anak-anak orang yang berpangkat pada pemerintahan jajahan, dan diharuskan mereka tinggal (yakni in de kost) pada pejabat Belanda. Katanya agar dapat lancar berbicara bahasa Belanda dan mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberi dalam bahasa itu; sebetulnya untuk menjadikan kanak-kanak itu berfikir dan hidup secara orang Belanda, dan untuk mengasingkan mereka dari bangsanya sendiri, dari adat-istiadat dan agamanya. Anak rakyat biasa, awam, mengaji, baik pada madrasah-madrasah Alawiyin atau pesantren­pesantren.

Hubungan Alawiyin dengan para kiyahi erat sekali. Untuk melumpuhkan berkembangnya agama Islam di-antara anak-anak rakyat jelata, Belanda mengadakan sekolah-sekolah Hollands-Inlandse School (H.I.S.) dengan syarat bahwa murid tiada boleh bersarong dan berkopya-pici, harus mengenakan celana pendek sampai atas lutut, pakaian mana bukan kebiasaan orang yang mendirikan salat. Jangan sampai kanak-kanak dapat membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab agama Islam yang tertulis dengan huruf Arab, Belanda mengajar dengan sungguh menulis dengan huruf latin, dan mengadakan buku­buku yang menarik dalam huruf ini, untuk maksud mana dibentuknya Balai Perpustakaan.

Banyak buku-buku yang dikarang oleh pendeta dan padri, indolog dan orientalis, mengandung racun bagi anak murid yang pengetahuannya tentang Islam dan tarikhnya masih sangat dangkal. Alawiyin menolak tawaran Belanda untuk membangun Hollands-Arabise School (H.A.S.), dan menolak pula subsidi dari pemerintah jajahan bagi madrasah-madrasahnya, karena curiga dan takut dari tipu muslihat dan pengaruh Belanda yang berniat merusak agama Islam.

Alawiyin tiada boleh mendirikan cabang­cabang madrasah di kota-kota besar dengan nama yang sama, oleh karena itu nama-nama madrasah yang sama skala pendidikannya, berlainan namanya. Para guru dari negara Islam didatangkan untuk mengajar di madrasah-madrasah, dan kanak-kanak yang berbakat dikirim melanjutkan pelajarannya ke Hadramaut, Hejaz, Istanbul, Kairo dan lain-lain.

Disamping perguruan, Alawiyin aktif juga di lapangan politik hingga beberapa orang ditangkap dan dipenjarakan. Melawan Belanda antara mana di Aceh, dan sesudah Aceh ditaklukannya, Muslimin hendak mengadakan pembrontakan di Singapura di kalangan tentara Muslimin India yang Inggeris hendak berangkatkan untuk berperang di Iraq (Perang Dunia I). Perlu juga diketahui bahwa Alawiyin senantiasa berhubungan dengan Muslimin di luar negri, orang-orang yang terkemuka dan berpengaruh, teristimewa dengan Padisyah, Khalifatul Muslimin di Istanbul, yang atas aduan Alawiyin pernah mengirim utusan rahasia untuk menyelidiki keadaan-keadaan Muslimin di Indonesia.

ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA PENDUDUKAN MILITER JEPANG

Pendudukan militer Jepang menindas dan mematikan segala kegiatan Alawiyin, terutama dalam bidang politik, perguruan tabligh, pemeliharaan orang miskin dan anak yatim. Perpustakaan yang tidak dapat dinilai harganya di-angkut Jepang, entah kemana.

Semua kitab ada capnya dari Al-Rabitah Al-Alawiyah yang berpengurus-besar hingga kini di Jalan Mas Mansyur (dahulu Jalan Karet) No. 17. Jakarta Pusat (II/24).

ALAWIYIN DI INDONESIA SETELAH MERDEKA

Pemudan Alawiyin turut giat melawan Inggeris dan Belanda (Nica), bergerilya di pegunungan. SEMUA PEMUDA ALAWIYIN ADALAH WARGANEGARA INDONESIA dan masuk berbagai partai Islam. Dalam lapangan ekonomi mereka sangat lemah hingga kini belum dapat merebut kembali kedudukannya seperti sebelumnya pecah perang dunia ke-dua, dengan lain kata, jika Alawiyin sebelumnya Perang Dunia ke II dapat membentuk badan-badan sosial seperti gedung-gedung madrasah, rumah yatim piatu, masjid-masjid dan membayar guru-guru yang cakap, maka sekarang ini dengan susah payah mereka membiayai pemeliharaannya dan tidak dapat lagi memberi tenaga guru-guru sepandai dan secakap yang dahulu, meskipun kesempatan kini adalah lebih baik dan pertolongan pemerintah ala qadarnya.

Kegiatan bertabligh tetap berada di tangan para kiyahi dan Alawiyin yang tersebar di pelosok-pelosok kepulauan Indonesia. Alawiyin yang lebih dikenal dengan sebutan sayid, habib, ayib dan sebagainya tetap dicintai dimana-mana dan memegang peranan rohani yang tidak dapat dibuat-buat sebagaimana juga di negara Islam lain. Kebiasaan dan tradisi Alawiyin di-ikuti dalam perayaan maulid Nabi, haul, nikah, upacara-upacara kematian dan sebagainya.

Suku-suku Alawiyin di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 50.000 orang; ada banyak yang besar, antara mana Al-Saggaf, Al-Attas, Al-Syihab, Al-Habasyi, Al-Aydrus, Al-Kaf, Al-Jufri, Al-Haddad. Dan semua keturunan asal-usul ini dicatat dan dipelihara pada Al-Maktab Al-Daimi yaitu kantor tetap untuk statistik dan pemeliharaan nasab sadatul­alawiyin yang berpusat di gedung “Darul Aitam”, Jalan K.H. Mas Mansyur (dahulu Jalan Karet) No. 47, Jakarta Pusat (II/24).

NASAB (SILSILAH)

“Semua nasab terputus, kecuali nasabku….. (Al-Hadits)”

ADAM adalah ayah Syith, dan Syith ayah Anusy, dan Anusy ayah Qinan, dan Qinan ayah Mahalail, dan Mahalail ayah Yarid, dan Earid ayah IDRIS alias Akhnukh, dan Idris ayah Matusylakh, dan Matusylakh ayah Lamak, dan Lamak ayah NUH.

BANI SAM
NUH adalah ayah SAM, dan Sam ayah Arfakhsyad, dan Arfakhsyad ayak Syalakh, dan Syalakh ayah Abir, dan Abir ayah Falagh, dan Falagh ayah Arghu, dan Arghu ayah Syarukh, dan Syarukh ayah Nakhur, dan Nakhur ayah AZAR alias Terah, dan Azar ayah IBRAHIM.

BANI ISMAIL
IBRAHIM adalah ayah ISMAIL, dan Ismail ayah Qidar, dan Qidar ayah Hamal, dan Hamal ayah Banat, dan Banat ayah Salaman, dan Salaman ayah Humaysa’, dan Humaysa’ ayah Adad, dan Adad ayah Ad, dan Ad ayah ADNAN, ADNAN adalah ayah Maad, dan Maad ayah Nizar, dan Nizar ayah Mudhar, dan Mudhar ayah Ilyas, dan Ilyas ayah Mudrikah, dan Mudrikah ayah Khuzaimah, dan Khuzaimah ayah Kinanah, dan Kinanah ayah Al-Nadhr, Al-Nadhr ayah Malak, dan Malak ayah Fihr alas QURAISY.

QURAISYIUN
FIHR ayah Ghalib, dan Ghalib ayah Lu’ay, dan Lu’ay ayah Kaab, dan Kaab ayah Murrah, dan Murrah ayah Kilab alias Hakim, dan Kilab ayah Qusay alias Mujami’, dan Qusay ayah Abdimanaf, dan Abdimanaf ayah HASYIM.

BANI HASYIM
HASYIM adalah ayah Abdulmuttalib, dan Abdulmuttalib ayah Abdullah dan Abu Talib.
Abdullah adalah ayah NABI MUHAMMAD s.a.w. (wafat di Madinah 11 H.), dan NABI MUHAMMAD s.a.w. ayah FATIMAH Al-Zahra r.a. (wafat di Madinah 11 H.). Abu Talib adalah ayah IMAM ALI k.w. (wafat di Kufah 40 H.). FATIMAH dan ALI (s.a.) adalah ibu dan ayah AL-HASAN dan AL-HUSEYN s.a. (wafat di Kerbela 61 H.).

AL-HUSEYNIYUN

AL-HUSEYN adalah ayah Ali Zeynal-Abidin (wafat di Madinah 94 H), dan Ali Zeynal-Abidin adalah ayah Muhammad Al-Baqir (wafat di Madinah 119 H), dan Muhammad Al-Baqir ayah Ja’far Al-Sadiq (wafat di Madinah 148 H), dan Ja’far Al-Sadiq ayah Ali Al-Uraidhi (wafat di Uraidh 215 H), dan Ali Al-Uraidhi ayah Muhammad Al-Naqib (wafat di Basrah), dan Muhammad Al-Naqib ayah Isa Al-Naqib (wafat di Basrah), dan Isa Al-Naqib ayah Ahmad Al-Muhajir (wafat di Hasisah 345 H), dan Ahmad Al-Muhajir ayah Abdullah alias Ubaidillah (wafat di Ardh 383 H), dan Abdullah ayah Alwi (wafat di Sumul), dan dari Alwi berasal suku-suku ALAWI

Daftar Suku Alawiyin Dzuriyah Rasulullah di Tanah Nusantara Indonesia

1. Al-Ahmad Hamid Munfar 2 -Ba Abud
3 -Ba Ali
4 -Ba Aqil Al-Saqqaf
5 -Ba Bareyk
6 -Ba Faqih
7 -Ba Faraj
8 -Ba Harun
9 -Ba Hasyim
10 -Bahr
11 -Ba Huseyn
12 -Baiti
13 -Balakhi
14 -Bar
15 -Barakwan
16 -Ba Raqbah
17 -Ba Syiban
18 -Ba Surrah
19 -Ba Umar
20 -Bilfaqih
21 -Bin Abbad
22 -Bin Ahsan
23 -Bin Qutban
24 -Bin Sahl
25 -Bin Syuaib
26 -Bin Thahir
27 -Bin Yahya
28 -Barum
29 -Bu Futim
30 -Bu Numay
31 -Taqawi
32 -Jailani
33 -Jamal Al-Lail
34 -Hamid
35 -Hasni
36.-Khaneyman
37.-Khird
38.-Zahir –
39. Al-Sumeyt
40. -Saqqaf
41. -Sakran
42. -Safi
43. -Masyhur
44. -Maula Al-Dawilah
45. -Maula Khailah
46. -Mudhar
47. -Mudhir
48. -Munawwar Al-Saqqaf
49. -Muqaibil
50. -Musawa
51. -Muthahar
52. -Wahth
53. -Haddar
54. -Hadi
55. -Hinduan
56. -Sri
57. -Syatri
58. -Syihab
59. -Syaikh Abubakr
60. -Aidid
61. -Aqil Bin Salim
62. -Attas
63. -Aydarus
64. -Fad’aq
65. -Fakhr
66. -Qadri
67. -Jufri
68. -Junaid
69. -Habasyi
70. -Haddad
71. -Kaf
72. -Madeyhiy
73. -Maghrabi
74. -Mahdali
75. -Marzaq

Nasab Para Pelopor Da’i yang Memasukkan Islam ke Pulau Jawa

Abu Salam Jumad gelar SUSUHUNAN ATAS ANGIN, bin Makhdum Kubra bin Jumad al-Kubra bin Abdallah bin Tajaddin bin Sinanaddin bin Hasanaddin bin Hasan bin Samaun bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zain al-Kubra bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Na’im gelar SUSUHUNAN WALI ALLAH, bin Abdul Malik Asfarani bin Husain Asfarani bin Muhammad Asfarani bin Abibakr Asfarani bin Ahmad bin Ibrahim Asfarani bin Tuskara, imam Yemen, bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN TEMBAJAT bin Muhammad Mawla al-Islam bin Ishaq gelar WALI LANANG DARI BALAMBANGAN, bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN GIRI bin Ishaq, gelar WALI LANANG DARI BELAMBANGAN (hal 15:3), bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Hasanaddin gelar PANGERAN SABAKINKING bin Ibrahim gelar SUSUHUNAN GUNUNG JATI bin Ya’qub gelar Sutomo Rojo bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

KIAHI AGENG LURUNG TENGAH bin Syihabuddin bin Nuraddin Ali bin Ahmad al-Kubra al-Madani bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN DRAJAT bin SUSUHUNAN AMPEL bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN BONANG bin SUSUHUNAN AMPEL bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN KALINYAMAT bin Haji Usman bin Ali gelar RAJA PENDETA GERSIK, bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Ibrahim gelar SUSUHUNAN PUGER bin Askhian bin Malik bin Ja’far al-Sadiq bin Hamdan al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN PAKALA NANGKA dari Banten bin Makhdum Jati, Pangeran Banten, bin Abrar bin Ahmad Jumad al-Kubra bin Abid al-Kubra bin Wahid al-Kubra bin Muzakir Zain al-Kubra bin Ali Zain al-Kubra bin Muhammad Zain al-Kabir bin Muhammad al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN KUDUS bin SUSUHUNAN NGUDUNG bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin ‘Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN GESENG bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin ‘Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN PAKUAN bin al-Ghaibi bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin ‘Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.
SUSUHUNAN KALIJOGO bin TUMENGGUNG WILO TIRTO, gubernur Japara, bin ARIO TEJO KUSUMO, gubernur Tuban, bin Ario Nembi bin Lembu Suro, gubernur Surabaya, bin Tejo Laku, gubernur Majapahit, bin Abdurrahman gelar ARIO TEJO, gubernur Tuban, bin Khurames bin Abdallah bin Abbas bin Abdallah bin Ahmad Jamal bin Hasanaddin bin Arifin bin Ma’ruf bin Abdallah bin Mubarak bin Kharmis bin Abdallah bin Muzakir bin Wakhis bin Abdallah Azhar bin ABBAS r.a. bin Abdulmuttalib.

Kerajaan-Kerajaan Islam yang Didirikan di Pulau Jawa, Keturunannya dan Tokoh-Tokoh Islam yang Ternama

1) Yang terpenting terdapat hingga kini adalah para sultan Cirebon, keturunan langsung dari SUSUHUNAN GUNUNG JATI. Hanya kepada para Alawi (Sayid) diperkenankan ziarah makam moyangnya. Belanda melarang gelar sultan digunakan.
2) Keluarga para sultan Banten, keturunan langsung dari seorang putra SUSUHUNAN GUNUNG JATI, dibuang oleh Belanda ke Surabaya. Suatu cabang dari keluarga para Sultan Banten adalah para Regen Cianjur, kedudukan mana ditetapkan pada tahun 1815.
3) Keturunan SUSUHUNAN KALIJOGO adalah para Pangeran Kadilangu dekat Demak, sedangkan keturunan SUSUHUNAN DRAJAT tinggal di atas tanah milik Drajat, sebesar lebih kurang 9 hektar dekat Sedayu; inilah yang merupakan sisa dari Kerajaan Drajat.
4) Sejarah keluarga BA-SYAIBAN: Pada permulaan abad ke XVIII datang dari Hadramaut ke Cirebon Sayid Abdurrahman bin Muhammad, dimana beliau menikah dengan puteri Sultan Cirebon. Kedua puteranya Sulaiman dan Abdurrahim memperoleh gelar KIAHI MAS, semula tinggal di Surabaya dan kemudian di Krapyak (Pekalongan). Suatu cabang dari keluarga ini menetap di Surabaya. Seorang putera dari Abdurrahim, bernama SA’ID, menikah dengan puteri RADEN ADIPATI DANU REJO, Pengurus Kerajaan Jogjakarta. Dari ketiga puteranya, yang tertua Hasyim bergelar RADEN WONGSO ROJO, yang kedua Abdallah bergelar hanya RADEN, sedangkan yang ketiga Alwi kemudian pada tahun 1813, menjadi REGEN MAGELANG dengan nama dan gelar RADEN TUMENGGUNG DANU NINGRAT I. Pada tahun 1820 beliau bergelar RADEN ADIPATI. Keturunan dari Hasyim dan dari Abdallah tinggal di Jogjakarta, dan beberapa dari mereka memangku jabatan-jabatan penting pada Ke-Sultanan. Pada tahun 1826, Hamdani bin Alwi yang menggantikan ayahnya sebagai Regen Magelang bergelar RADEN TUMENGGUNG ARIO DANU NINGRAT II. Pada tahun 1862 beliau diganti oleh puteranya Sa’id yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU (KUSUMO) NINGRAT III. Pada tahun 1879 beliau diganti oleh puteranya SAYID AHMAD BIN SA’ID yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU KUSUMO. Sayid Sa’id bin Hamdani balik dari haji (Makkah) pada tahun 1881, seorang sayid dari keturunan para pangeran Jawa kuna.
5) Sejarah keluarga pelukis masyhur RADEN SALEH. Namanya yang betul adalah Sayid Salih bin Husain bin Yahya. Neneknya Awadh datang dari Hadramaut ke Jawa pada permulaan abad ke XIX dan menikah dengan puteri Regen Lassem, Kiahi Bostam. Puteranya, Seyid Husain bin Awadh tinggal di Pekalongan, dimana beliau menikah dengan puteri Regen Wiradesa. Beliau memperoleh dua putera dengan gelar Sayid dan dua puteri dengan gelar Syarifah. Putera yang kedua bergelar pula RADEN. Seorang puterinya dinikahkan dengan Patih Galuh.
6) Suatu cabang dari keluarga BIN-YAHYA tiba di Pulau Pinang pada permulaan abad ke XIX juga, dan namanya TAHIR. Beliau menikah dengan seorang puteri dari keluarga Sultan Jogjakarta, Sultan mana dibuang ke Pulau Pinang selama 1812-1816.
Sayid Tahir datang ke Jawa tinggal di Semarang. Puteranya yang ketiga AHMAD RADEN SUMODIRJO yang kemudian tinggal di Pekalongan dan memperisterikan seorang syarifah dari keluarga BA’ABUD. Puteranya Seyid Salih bergelar RADEN SUMO DI PUTRO. Satu-satu puterinya menikah dengan seorang Seyid dari Hadramaut.
7) Keluarga AL-BA’ABUD: Seyid Ahmad bin Muhsin Ba’abud tiba dari Hadramaut di Pekalongan pada perrmulaan abad ke XIX, dan menikah dengan seorang puteri REGEN WIRADESA. Seorang anak cucunya Sayid Muhsin bin Husain bin Ahmad Ba’abud bergelar RADEN SURO ATMOJO. Saudaranya Ahmad bergelar RADEN SURO DI PUTRO.
8) Keluarga JAMAL-AL-LAIL. Di Priaman (Sumatra Barat) ada suatu cabang dari keluarga JAMAL-AL-LAIL, dan kepada para anggautanya penduduk memberi gelar SIDI.
9) Pada Kerajaan JAMBI, banyak terdapat anggauta keturunan BARAQBAH dan AL-JUFRI, begitu pula di Aceh, pun dari keturunan JAMAL-AL-LAIL.
10) Di Kesultanan Pontianak dan di Kubu, banyak sekali terdapat keturunan AL­QADRI, AL-AYDRUS, BA-ABUD, MUTAHHAR, AL-HINDUAN, AL-HABSYI, AL­HADDAD, AL-SAQQAF dan lain-lain Alawiyin. Semua ini bersanak-saudara dengan keluarga Sultan AL-QADRI. Sayid-sayid bergelar Wan, ringkasan dari Tuan, dan untuk wanita: Wan Ipa, ringkasan dari Tuan Syarifah.
11) Keluarga para Sultan Siak dan keluarga penguasa Palalawan adalah semua Alawiyin, begitu pua di Palembang. Keluarga-keluarga para Alawi yang terkemuka di Palembang adalah SYAIKH ABU BAKR, ALHABSYI, BIN SYIHAB, AL-SAQQAF, BARAQBAH, AL-KAF, AL-MUNAWWAR dan AL-JUFRI. Antara mereka ada yang berkeluarga dengan sultan-sultan dahulu. Banyak sekali terjadi percampuran darah antara keluarga-keluarga Alawi (Sayid) dengan para terkemuka Indonesia, seperti puteri Sultan dari Pulau Bacan.
12) Para sultan keturunan Alawi dari Siak, Palalawan, Pontianak dan dari Kubu namanya disebut dalam khotbah Jumahat. Pendiri kesultanan Siak adalah SEYID ALI BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dari Palalawan adalah SEYID ABDURRAHMAN BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dan dari PONTIANAK adalah SEYID ABDURRAHMAN BIN HUSEIN AL-QADRI.
13) Pendiri kesultanan SULU adalah SAYID ABUBAKR dari Palembang dengan gelar SULTAN SHARIF (orang-orang Sulu menyebutnya ASSULTAN ASSYARIF ALHASYIMI). Urutan para sultan adalah sebagai berikut: MAHARAJA UPU – PANGIRAN BUDIMAN – SULTAN TANGA – SULTAN BUNGSU – SULTAN NASIRUDDIN – SULTAN KARAMAT – SULTAN SYAHABUDDIN – SULTAN MUSTAFA gelar SAPIUDDIN – SULTAN MUHAMMAD NASARUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN I – SULTAN MUHAMMAD MU’IZZIDDIN – SULTAN ISRAIL – SULTAN ALIMUDDIN II – SULTAN MUHAMMAD SARAPUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN III.
14) Masuknya Islam dan terdirinya dynasti Islam di Sulu: 1380 – 1450.
*(No. 13 dan 14 dikutip dari THE HISTORY OF SULU oleh Najeeb M. Saleeby, Manila, 1963).
* Yang terurai di atas digali dari buku LE HADHRAMOUT ET LES COLONIES ARABES DANS L’ARCHIPEL INDIEN par L.C.W. van den Berg, .Ouvrage publié par ordre du Gouvernement, Batavia, Imprimerie du Gouvernement, 1886/Museum Pusat, Jakarta, XXI/1387 & XXI/6076.

Silsilah Para Pemimpin Islam (Wali-Wali), Golongan Pertama yang Menyiarkan Agama Islam di Indonesia

1) JAMALUDDIN ALHUSAIN gelar WAJUK MAKASAR, bin Imam Ahmad Syah bin Amir Abdullah Khan bin Abdul-malik bin Alwi bin Muhammad Sahib Marbat bin Ali Khaliq Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Aluraidhi bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Bakir bin Ali Zainulabidin bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.
2) RADEN RAHMAT gelar SUNAN AMPEL-SURABAYA bin Maulana Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK-TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
3) MUHAMMAD AINUL YAQIN gelar SUNAN GIRI GRESIK bin Maulana Ishak Makhdum dari Pasei Malaka, bin Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK­TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
4) HIDAYATULLAH gelar SUNAN GUNUNGJATI-CIREBON bin Sunan Abdullah dari Kamboja (Campa) bin Ali Nurul Alam dari Siam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
5) SYEIKH IBRAHIM gelar SUNAN BONANG di Tuban, bin Raden Rahmat gelar SUNAN AMPEL-SURABAYA bin Maulana Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK-TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
6) MAULANA MALIK IBRAHIM di Gapura-Gresik bin Barakat Zainul Alam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
7) BABULLOH gelar SUNAN TERNATE bin Abdullah dari Kamboja (Campa) bin Ali Nurul Alam dari Siam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
8) ALI MURTADHO gelar RADEN SANTRI (BEDILAN GRESIK) bin Ibrahim Asmoro gelar Sunan Nggesik (Tuban) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
9) AHMAD HISAM (dekat Lamongan) bin Raden Rahmat gelar Sunan Ampel (Surabaya) bin Ibrahim Asmoro gelar Sunan Nggesik (Tuban) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
10) JA’FARUSSADIQ gelar SUNAN KUDUS bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
11) HASYIM gelar SUNAN DRAJAT LAMONGAN bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
* Siaran “Pengurus Makam Maulana Malik Ibrahim”, 1956
12) ZAINAL-ABIDIN (Demak) bin Ahmad Hisam bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
13) HASANUDDIN (Banten) bin Hidajatulloh gelar Sunan Gunungjati-Cirebon, bin Abdullah (Kamboja) bin Ali Nurul Alam (Siam) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.

Penutup

Yang pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi Muhammad s.a.w. tidaklah meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thaib, dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (nasab) beliau. Beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah. Zainab memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaltsum mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti tikar). Ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.

Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu adalah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi sebagai seorang manusia mengharapkan anak-anak Fathimah inilah yang menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucu ini. Pernah beliau sedang ruku’ si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau Khutbah, si cucu duduk ketingkat pertama tangga mimbar.

Al-Tarmidzi merawikan dari Usamah bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk diatas kedua paha beliau. Lalu beliau s.a.w. berkata: “Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan. Aku sayang pada keduanya”.

Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan: “Anakku ini adalah SAYYID (Tuan); moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih”.
Nubuwat beliau itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah, karena tidak suka melihat darah kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai “Tahun Persatuan”. Pernah pula beliau berkata: “kedua anakku adalah SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga kelak”.
Barangkali ada yang bertanya: “Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain adalah cucunya, mengapa dikatakan anaknya?”

Ini adalah pemakaian bahasan pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Didalam Al-Qur’an surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa Nabi Ya’kub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ni’matnya kepada puteranya Yusuf,” sebagaimana telah disempurnakan-Nya ni’mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak”. – Pada hal yang bapa, atau ayah dari Yusuf adalah Ya’kub. Ishak adalah neneknya dan Ibrahim adalah nenek ayaknya. Diayat 28 Yusuf berkata: “Bapa-bapaku Ibrahim dan Ishak dan Ya’kub”. Artinya nenek-nenek moyang disebut bapa dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh ummat Muhammad menghormat mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan Hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum Muslimin.

Info Lainnya  Mengenal Aam Priadi Content Creator, ASN dan Pengusaha asal Pontianak

BAGI ahlis-sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain di panggilkan orang SAYYID; kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan “kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga”. Disetengah negri di sebut SYARIF, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa; kalau banyak ASYRAF. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran – Penulis) kaum Syi’ah yang berlebih­lebihan. Apatah lagi di dalam Al-Qur’an, surat ke-33 “Al-Ahzab”, ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya berlipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri­-isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunanya.

Menjawab pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah s.a.w.? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini, sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini.

Penyebar Islam dan pembangun Kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah Bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi Raja di Aceh. Negri Pontianak pernah diperintah Bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa Sayid bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka menjadi Ulama. Mereka datang dari Hadramautdari keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga.

Info Lainnya  Delapan Ahli Waris Warga Kota Cinahi Terima Santunan Jaminan Kematian BPJAMSOSTEK

Yang banyak kita kenal adalah keluarga Alatas, Assagaf, Alkaf, Bafagih, Balfagih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, AlHaddad, bin Smith, bin Syahab, Alqadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al Jufri, Albar, Almussawa, Ghathmir, bin Aqil, Alhadi, Basyaiban, Bazar’ah, Bamakhramah, Ba’abud, Syaikhan, Azh-Zhahir, bin Yahya, dan lain-lain. Yang menurut keterangan Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari ‘Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadhramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Bin Muhammad Al-Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi Bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain As-Sibthi Bin Ali Bin Abi Thalib. As-Sabthi artinya cucu, karena Husain adalah anak Fathimah binti Rasulullah SAW.

Sesungguhnya yang terbanyak adalah keturunan Husain dari Hadhramaut itu, ada juga keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan Syarif-syarif Mekkah Abi Numay, tapi tidak sebanyak dari Hadhramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar diseluruh dunia. Di negeri-negeri besar sebagai Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilah sampai ke Sayidina Ali dan Fathimah.

DALAM pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak Al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Baalwi menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga titel Sayid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan ‘Alawy atau bukan, dengan pimpinan A.R. Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan “Al-Akh”, artinya Saudara.

Info Lainnya  BLT Dana Desa Tahun 2023 Tahap Pertama Desa Pinggirsari Dicairkan

Maka baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad Bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad Bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu Rasulullah Husain Bin Ali Bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita berlaku hormat, dan cinta, yaitu hormat dan cintanya orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalah gunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah SAW:

“Janganlah sampai orang lain datang kepadaku dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu”. Dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah Al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu: “Hai Fathimah binti Muhammad. Beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu di hadapan Allah sedikitpun”. Dan pernah beliau bersabda: “Walau anak kandungku sendiri, Fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya”.

Sebab itu kita ulangilah seruan dari salah seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhammad Bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generasi-generasi yang datang kemudian dari turunan ‘Alawy memegang teguh Agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.

Semoga tulisan ini bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Idisi Online

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

news-1701

yakinjp

MAUJP

MAUJP

MAUJP

SATGASJITU

SLOT GACOR

SALAMJITU

SATGASJITU

SEMOGAJITU

SALAMJITU

Slot Gacor

MAUJP

Slot Gacor

SLOT GACOR

https://kominfo.belukab.go.id/

https://www.kampunginggris.id/

https://jhpartners.net/

artikel 286666700051

artikel 286666700052

artikel 286666700053

artikel 286666700054

artikel 286666700055

artikel 286666700056

artikel 286666700057

artikel 286666700058

artikel 286666700059

artikel 286666700060

artikel 286666700061

artikel 286666700062

artikel 286666700063

artikel 286666700064

artikel 286666700065

artikel 286666700066

artikel 286666700067

artikel 286666700068

artikel 286666700069

artikel 286666700070

artikel 286666700071

artikel 286666700072

artikel 286666700073

artikel 286666700074

artikel 286666700075

artikel 286666700076

artikel 286666700077

artikel 286666700078

artikel 286666700079

artikel 286666700080

artikel 286666700081

artikel 286666700082

artikel 286666700083

artikel 286666700084

artikel 286666700085

artikel 286666700086

artikel 286666700087

artikel 286666700088

artikel 286666700089

artikel 286666700090

artikel 286666700091

artikel 286666700092

artikel 286666700093

artikel 286666700094

artikel 286666700095

artikel 286666700096

artikel 286666700097

artikel 286666700098

artikel 286666700099

artikel 286666700100

artikel 186666700001

artikel 186666700002

artikel 186666700003

artikel 186666700004

artikel 186666700005

artikel 186666700006

artikel 186666700007

artikel 186666700008

artikel 186666700009

artikel 186666700010

artikel 186666700011

artikel 186666700012

artikel 186666700013

artikel 186666700014

artikel 186666700015

artikel 186666700016

artikel 186666700017

artikel 186666700018

artikel 186666700019

artikel 186666700020

artikel 186666700021

artikel 186666700022

artikel 186666700023

artikel 186666700024

artikel 186666700025

artikel 186666700026

artikel 186666700027

artikel 186666700028

artikel 186666700029

artikel 186666700030

artikel 186666700031

artikel 186666700032

artikel 186666700033

artikel 186666700034

artikel 186666700035

artikel 186666700036

artikel 186666700037

artikel 186666700038

artikel 186666700039

artikel 186666700040

artikel 186666700041

artikel 186666700042

artikel 186666700043

artikel 186666700044

artikel 186666700045

artikel 186666700046

artikel 186666700047

artikel 186666700048

artikel 186666700049

artikel 186666700050

artikel 98666670521

artikel 98666670522

artikel 98666670523

artikel 98666670524

artikel 98666670525

artikel 98666670526

artikel 98666670527

artikel 98666670528

artikel 98666670529

artikel 98666670530

artikel 98666670531

artikel 98666670532

artikel 98666670533

artikel 98666670534

artikel 98666670535

artikel 98666670536

artikel 98666670537

artikel 98666670538

artikel 98666670539

artikel 98666670540

artikel 98666670541

artikel 98666670542

artikel 98666670543

artikel 98666670544

artikel 98666670545

artikel 98666670546

artikel 98666670547

artikel 98666670548

artikel 98666670549

artikel 98666670550

artikel 98666670551

artikel 98666670552

artikel 98666670553

artikel 98666670554

artikel 98666670555

artikel 98666670556

artikel 98666670557

artikel 98666670558

artikel 98666670559

artikel 98666670560

artikel 88666670441

artikel 88666670442

artikel 88666670443

artikel 88666670444

artikel 88666670445

artikel 88666670446

artikel 88666670447

artikel 88666670448

artikel 88666670449

artikel 88666670450

artikel 88666670451

artikel 88666670452

artikel 88666670453

artikel 88666670454

artikel 88666670455

artikel 88666670456

artikel 88666670457

artikel 88666670458

artikel 88666670459

artikel 88666670460

artikel 88666670461

artikel 88666670462

artikel 88666670463

artikel 88666670464

artikel 88666670465

artikel 88666670466

artikel 88666670467

artikel 88666670468

artikel 88666670469

artikel 88666670470

artikel 88666670471

artikel 88666670472

artikel 88666670473

artikel 88666670474

artikel 88666670475

artikel 88666670476

artikel 88666670477

artikel 88666670478

artikel 88666670479

artikel 88666670480

artikel 88666670481

artikel 88666670482

artikel 88666670483

artikel 88666670484

artikel 88666670485

artikel 88666670486

artikel 88666670487

artikel 88666670488

artikel 88666670489

artikel 88666670490

artikel 88666670491

artikel 88666670492

artikel 88666670493

artikel 88666670494

artikel 88666670495

artikel 88666670496

artikel 88666670497

artikel 88666670498

artikel 88666670499

artikel 88666670500

artikel 88666670501

artikel 88666670502

artikel 88666670503

artikel 88666670504

artikel 88666670505

artikel 88666670506

artikel 88666670507

artikel 88666670508

artikel 88666670509

artikel 88666670510

article 58666670471

article 58666670472

article 58666670473

article 58666670474

article 58666670475

article 58666670476

article 58666670477

article 58666670478

article 58666670479

article 58666670480

article 58666670481

article 58666670482

article 58666670483

article 58666670484

article 58666670485

article 58666670486

article 58666670487

article 58666670488

article 58666670489

article 58666670490

article 58666670491

article 58666670492

article 58666670493

article 58666670494

article 58666670495

article 58666670496

article 58666670497

article 58666670498

article 58666670499

article 58666670500

article 58666670501

article 58666670502

article 58666670503

article 58666670504

article 58666670505

article 58666670506

article 58666670507

article 58666670508

article 58666670509

article 58666670510

article 58666670511

article 58666670512

article 58666670513

article 58666670514

article 58666670515

article 58666670516

article 58666670517

article 58666670518

article 58666670519

article 58666670520

article 58666670521

article 58666670522

article 58666670523

article 58666670524

article 58666670525

article 58666670526

article 58666670527

article 58666670528

article 58666670529

article 58666670530

article 58666670531

article 58666670532

article 58666670533

article 58666670534

article 58666670535

news-1701
news-1701

yakinjp

MAUJP

MAUJP

MAUJP

SATGASJITU

SLOT GACOR

SALAMJITU

SATGASJITU

SEMOGAJITU

SALAMJITU

Slot Gacor

MAUJP

Slot Gacor

SLOT GACOR

https://kominfo.belukab.go.id/

https://www.kampunginggris.id/

https://jhpartners.net/

informasi terbaru kabupaten belu 00000101

informasi terbaru kabupaten belu 00000102

informasi terbaru kabupaten belu 00000103

informasi terbaru kabupaten belu 00000104

informasi terbaru kabupaten belu 00000105

informasi terbaru kabupaten belu 00000106

informasi terbaru kabupaten belu 00000107

informasi terbaru kabupaten belu 00000108

informasi terbaru kabupaten belu 00000109

informasi terbaru kabupaten belu 00000110

informasi terbaru kabupaten belu 00000111

informasi terbaru kabupaten belu 00000112

informasi terbaru kabupaten belu 00000113

informasi terbaru kabupaten belu 00000114

informasi terbaru kabupaten belu 00000115

informasi terbaru kabupaten belu 00000116

informasi terbaru kabupaten belu 00000117

informasi terbaru kabupaten belu 00000118

informasi terbaru kabupaten belu 00000119

informasi terbaru kabupaten belu 00000120

informasi terbaru kabupaten belu 00000121

informasi terbaru kabupaten belu 00000122

informasi terbaru kabupaten belu 00000123

informasi terbaru kabupaten belu 00000124

informasi terbaru kabupaten belu 00000125

informasi terbaru kabupaten belu 00000126

informasi terbaru kabupaten belu 00000127

informasi terbaru kabupaten belu 00000128

informasi terbaru kabupaten belu 00000129

informasi terbaru kabupaten belu 00000130

informasi terbaru kabupaten belu 00000131

informasi terbaru kabupaten belu 00000132

informasi terbaru kabupaten belu 00000133

informasi terbaru kabupaten belu 00000134

informasi terbaru kabupaten belu 00000135

informasi terbaru kabupaten belu 00000136

informasi terbaru kabupaten belu 00000137

informasi terbaru kabupaten belu 00000138

informasi terbaru kabupaten belu 00000139

informasi terbaru kabupaten belu 00000140

informasi terbaru kabupaten belu 00000141

informasi terbaru kabupaten belu 00000142

informasi terbaru kabupaten belu 00000143

informasi terbaru kabupaten belu 00000144

informasi terbaru kabupaten belu 00000145

informasi terbaru kabupaten belu 00000146

informasi terbaru kabupaten belu 00000147

informasi terbaru kabupaten belu 00000148

informasi terbaru kabupaten belu 00000149

informasi terbaru kabupaten belu 00000150

informasi terbaru kabupaten belu 00000151

informasi terbaru kabupaten belu 00000152

informasi terbaru kabupaten belu 00000153

informasi terbaru kabupaten belu 00000154

informasi terbaru kabupaten belu 00000155

informasi terbaru kabupaten belu 00000156

informasi terbaru kabupaten belu 00000157

informasi terbaru kabupaten belu 00000158

informasi terbaru kabupaten belu 00000159

informasi terbaru kabupaten belu 00000160

article 48666670361

article 48666670362

article 48666670363

article 48666670364

article 48666670365

article 48666670366

article 48666670367

article 48666670368

article 48666670369

article 48666670370

article 48666670371

article 48666670372

article 48666670373

article 48666670374

article 48666670375

article 48666670376

article 48666670377

article 48666670378

article 48666670379

article 48666670380

article 48666670381

article 48666670382

article 48666670383

article 48666670384

article 48666670385

article 48666670386

article 48666670387

article 48666670388

article 48666670389

article 48666670390

article 48666670391

article 48666670392

article 48666670393

article 48666670394

article 48666670395

article 48666670396

article 48666670397

article 48666670398

article 48666670399

article 48666670400

article 48666670401

article 48666670402

article 48666670403

article 48666670404

article 48666670405

article 48666670406

article 48666670407

article 48666670408

article 48666670409

article 48666670410

article 58666670411

article 58666670412

article 58666670413

article 58666670414

article 58666670415

article 58666670416

article 58666670417

article 58666670418

article 58666670419

article 58666670420

article 58666670421

article 58666670422

article 58666670423

article 58666670424

article 58666670425

article 58666670426

article 58666670427

article 58666670428

article 58666670429

article 58666670430

article 58666670431

article 58666670432

article 58666670433

article 58666670434

article 58666670435

article 58666670436

article 58666670437

article 58666670438

article 58666670439

article 58666670440

article 58666670441

article 58666670442

article 58666670443

article 58666670444

article 58666670445

article 58666670446

article 58666670447

article 58666670448

article 58666670449

article 58666670450

article 58666670451

article 58666670452

article 58666670453

article 58666670454

article 58666670455

article 58666670456

article 58666670457

article 58666670458

article 58666670459

article 58666670460

article 58666670461

article 58666670462

article 58666670463

article 58666670464

article 58666670465

article 58666670466

article 58666670467

article 58666670468

article 58666670469

article 58666670470

article 58666670471

article 58666670472

article 58666670473

article 58666670474

article 58666670475

article 58666670476

article 58666670477

article 58666670478

article 58666670479

article 58666670480

article 58666670481

article 58666670482

article 58666670483

article 58666670484

article 58666670485

article 58666670486

article 58666670487

article 58666670488

article 58666670489

article 58666670490

article 58666670491

article 58666670492

article 58666670493

article 58666670494

article 58666670495

article 58666670496

article 58666670497

article 58666670498

article 58666670499

article 58666670500

article 58666670501

article 58666670502

article 58666670503

article 58666670504

article 58666670505

article 58666670506

article 58666670507

article 58666670508

article 58666670509

article 58666670510

artikel 88666670411

artikel 88666670412

artikel 88666670413

artikel 88666670414

artikel 88666670415

artikel 88666670416

artikel 88666670417

artikel 88666670418

artikel 88666670419

artikel 88666670420

artikel 88666670421

artikel 88666670422

artikel 88666670423

artikel 88666670424

artikel 88666670425

artikel 88666670426

artikel 88666670427

artikel 88666670428

artikel 88666670429

artikel 88666670430

artikel 88666670431

artikel 88666670432

artikel 88666670433

artikel 88666670434

artikel 88666670435

artikel 88666670436

artikel 88666670437

artikel 88666670438

artikel 88666670439

artikel 88666670440

artikel 88666670441

artikel 88666670442

artikel 88666670443

artikel 88666670444

artikel 88666670445

artikel 88666670446

artikel 88666670447

artikel 88666670448

artikel 88666670449

artikel 88666670450

artikel 88666670451

artikel 88666670452

artikel 88666670453

artikel 88666670454

artikel 88666670455

artikel 88666670456

artikel 88666670457

artikel 88666670458

artikel 88666670459

artikel 88666670460

artikel 88666670461

artikel 88666670462

artikel 88666670463

artikel 88666670464

artikel 88666670465

artikel 88666670466

artikel 88666670467

artikel 88666670468

artikel 88666670469

artikel 88666670470

artikel 88666670471

artikel 88666670472

artikel 88666670473

artikel 88666670474

artikel 88666670475

artikel 88666670476

artikel 88666670477

artikel 88666670478

artikel 88666670479

artikel 88666670480

artikel 88666670481

artikel 88666670482

artikel 88666670483

artikel 88666670484

artikel 88666670485

artikel 88666670486

artikel 88666670487

artikel 88666670488

artikel 88666670489

artikel 88666670490

artikel 88666670491

artikel 88666670492

artikel 88666670493

artikel 88666670494

artikel 88666670495

artikel 88666670496

artikel 88666670497

artikel 88666670498

artikel 88666670499

artikel 88666670500

artikel 88666670501

artikel 88666670502

artikel 88666670503

artikel 88666670504

artikel 88666670505

artikel 88666670506

artikel 88666670507

artikel 88666670508

artikel 88666670509

artikel 88666670510

artikel 98666670511

artikel 98666670512

artikel 98666670513

artikel 98666670514

artikel 98666670515

artikel 98666670516

artikel 98666670517

artikel 98666670518

artikel 98666670519

artikel 98666670520

artikel 98666670521

artikel 98666670522

artikel 98666670523

artikel 98666670524

artikel 98666670525

artikel 98666670526

artikel 98666670527

artikel 98666670528

artikel 98666670529

artikel 98666670530

artikel 98666670531

artikel 98666670532

artikel 98666670533

artikel 98666670534

artikel 98666670535

artikel 98666670536

artikel 98666670537

artikel 98666670538

artikel 98666670539

artikel 98666670540

artikel 98666670541

artikel 98666670542

artikel 98666670543

artikel 98666670544

artikel 98666670545

artikel 98666670546

artikel 98666670547

artikel 98666670548

artikel 98666670549

artikel 98666670550

artikel 186666700001

artikel 186666700002

artikel 186666700003

artikel 186666700004

artikel 186666700005

artikel 186666700006

artikel 186666700007

artikel 186666700008

artikel 186666700009

artikel 186666700010

artikel 186666700011

artikel 186666700012

artikel 186666700013

artikel 186666700014

artikel 186666700015

artikel 186666700016

artikel 186666700017

artikel 186666700018

artikel 186666700019

artikel 186666700020

artikel 186666700021

artikel 186666700022

artikel 186666700023

artikel 186666700024

artikel 186666700025

artikel 186666700026

artikel 186666700027

artikel 186666700028

artikel 186666700029

artikel 186666700030

artikel 186666700031

artikel 186666700032

artikel 186666700033

artikel 186666700034

artikel 186666700035

artikel 186666700036

artikel 186666700037

artikel 186666700038

artikel 186666700039

artikel 186666700040

artikel 186666700041

artikel 186666700042

artikel 186666700043

artikel 186666700044

artikel 186666700045

artikel 186666700046

artikel 186666700047

artikel 186666700048

artikel 186666700049

artikel 186666700050

news-1701